BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
JANGAN LAKUKAN HAL ITU


__ADS_3

“Yang Mulia… apa rencana Yang Mulia sudah dipikirkan dengan baik? Jika boleh jujur, saya tidak terlalu setuju dengan rencana Yang Mulia. Yang Mulia harus memikirkan perasaan permaisuri Deanda.” Nyonya Rose berkata sambil sambil melirik ke arah Deanda yang tampak diam dengan kening sedikit berkerut, menunjukkan bahwa wanita cantik itu sedang berpikir keras.


“Nyonya Rose… apa kamu tidak mengenalku? Apa kamu tidak percaya padaku? Kamu tahu aku tidak pernah dekat apalagi tertarik dengan wanita manapun. Hanya permaisuri satu-satunya wanita bagiku.” Alvero berkata sambil memandang ke arah nyonya Rose yang langsung menarik nafas panjang mendengar perkataan Alvero.


“Saya tahu yang mulia begitu mencintai permaisuri, tapi kadang tindakan yang mulia bagi permaisuri mungkin menyakitkan. Dan sepertinya kadang yang mulia tidak sadar akan hal itu. Saya menyampaikan perkataan ini karena saya juga wanita seperti permaisuri. Saya bisa merasakan ketakutan, kekhawatiran, bahkan rasa cemburu permaisuri.” Begitu mendengar perkataan nyonya Rose, Alvero sedikit tersentak, lalu dengan cepat tangannya meraih tubuh Deanda dan memeluknya dari samping.


“Apa… aku sudah melakukan sebuah kesalahan padamu? Apa ini tentang kejadian pertemuanku dengan Alaya pagi ini? Aku sungguh tidak mengerti jika kamu tidak mengatakannya padaku. Jangan memendamnya sendirian.” Mendengar kata-kata Alvero, baik Ernest maupun nyonya Rose langsung terdiam sambil memandang ke arah Deanda yang tampak masih memilih untuk berdiam diri.


“Yang Mulia, bukannya mau menggurui Yang Mulia. Tapi, seperti yang tadi saya sampaikan kepada Yang Mulia…. Yang Mulia harus belajar banyak tentang bagaimana harus mengerti kondisi permaisuri dan tahu apa yang diinginkan dan dipikirkannya sebagai istri dari Yang Mulia. Seperti Yang Mulia tahu, permaisuri bukan tipikal wanita yang langsung menyatakan perasaannya dengan terus terang. Mungkin juga karena waktu pertemuan Anda berdua yang singkat dan langsung menikah. Sehingga ada banyak hal yang harus Anda berdua belajar tentang satu sama lain, agar lebih saling mengerti tentang pasangan masing-masing.” Nyonya Rose berkata dengan nada pelan, rasanya melihat begitu polosnya Alvero tentang wanita, dia sebagai orang yang selama ini merawat Alvero harus berani memberitahukan kepada Alvero tentang apa yang terjadi dan dirasakan oleh Deanda jika tidak ingin membuat hubungan mereka berakhir dengan buruk, apalagi fatal seperti yang sudah terjadi pada Vincent dan Larena.


“Tidak masalah Nyonya Rose. Kamu tahu sendiri bahwa aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali kamu. Karena itu jangan sungkan memberikan petunjuk untukku. Agar ke depannya aku semakin mengerti tentang wanita, terutama tentang permaisuriku. Wanita lain…. Aku tidak perduli.” Alvero berkata sambil mempererat pelukan lengannya di bahu Deanda.


“Karena itu, untuk masalah Alaya, rencana yang baru saja aku sampaikan, aku menyerahkan semuanya kepada permaisuri. Hanya jika permaisuri mengijinkan, maka aku akan menjalankan rencanaku. Jika permasuri mengatakan tidak. Aku akan mundur tanpa mempertanyakan apalun alasan dari pemaisuri menolak ideku dan kenapa tidak mengijinkanku.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Deanda yang masih diam terdudu di samping Alvero.

__ADS_1


Jika aku menjawab tidak, itu sama artinya dengan aku tidak mempercayai yang mulia. Aku akan dianggap tidak mengakui cinta dan kesetiaan yang mulia. Tapi…. Jika aku mengijinkannya… Itu artinya aku harus siap dan bisa menahan diri saat melihat sosok Alaya ada di dekat yang mulia. Hah… ini benar-benar pilihan yang sulit. Aku bukan wanita yang menganggap remeh sebuah hubungan antara pria dan wanita setelah menikah. Dan aku ingin setelah menikah aku dan suamiku bisa saling menjaga diri dan tidak lagi berhubungan dengan sembarang orang, apalagi lawan jenis agar tidak menimbulkan masalah di masa depan.


Deanda berkata dalam hati sambil berpikir tentang apa yang harus dia katakan untuk menjawab permintaan Alvero.


“Aku tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai Yang Mulia, tapi aku tidak bisa mempercayai orang lain yang belum aku kenal dengan baik. Aku tidak keberatan dengan rencana Yang Mulia, hanya setelah kita tahu dengan detail siapa sebenarnya Alaya, apakah dia memiliki hubungan dengan keluarga Edarian. Setelah semuanya jelas, baru aku akan memberikan keputusan untuk mengijinkan rencana Yang Mulia dijalankan atau tidak.” Deanda berkata sambil memandangi ke arah Ernest, nyonya Rose, juga Alvero.


Baik Ernest dan nyonya Rose, Deanda tahu wajah mereka berdua menunjukkan rasa kekhawatiran dan sikap tidak setuju dengan permintaan Alvero kepadanya, sedang Alvero hanya terdiam, setelah itu menganggukkan kepalanya.


“Apapun permintaan permaisuri… Ernest, aku minta semua data tentang Alaya segera diselidiki lebih lanjut, bahkan aku ingin tahu siapa saja orang yang pernah berhubungan dengannya dan pernah ditemuinya. Beritahukan kepada Erich agar secepatnya dia membantumu mengumpulkan info tentang gadis itu.” Alvero segera memberikan perintah kepada Ernest.


"Nyonya Rose, tetap awasi pergerakan para pelayan di istana, sedikit demi sedikit singkirkan satu persatu para pegawai istana yang memihak kepada Eliana. Tempatkan Alea sebagai pelayan yang ada di sekitar Eliana agar kita bisa mendapatkan lebih banyak info tentang rencana-rencana Eliana." Alvero kembali memberikan perintah kepada nyonya Rose.


“Baik Yang Mulia, saya akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin perintah Yang Mulia.” Nyonya Rose berkata dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


“Hati-hatilah selama kamu berada di istana nyonya Rose. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Jaga diri dengan baik.” Alvero berkata sambil menatap ke arah nyonya Rose dengan tatapan hangatnya, seperti seorang anak yang sedang menatap ke arah ibunya.


“Kalau begitu, saya permisi untuk kembali ke istana. Saya tidak mau ibu suri terlalu curiga jika saya terlalu lama meninggalkan istana.” Mendengar perkataan nyonya Rose, Alvero langsung menganggukkan kepalanya.


“Baiklah nyonya Rose. Hari sudah mulai sore, ada baiknya sebelum acara afternoon tea nyonya Rose kembali ke istana agar tidak menimbulkan kecurigaan siapapun.” Perkataan Alvero membuat nyonya Rose langsung memberikan salam hormatnya, sekaligus berpamitan kepada Alvero untuk kembali ke istana.


“O, ya Yang Mulia…” Nyonya Rose sudah menggerakkan tubuhnya ke samping, namun tiba-tiba nyonya Rose menghentikan gerakannya dan menolehkan kepalanya, kembali memandang ke arah Alvero.


“Yang sedang diincar oleh ibu suri Eliana bukan saja Yang Mulia, tapi juga permaisuri. Jadi, ibu suri Eliana pasti merencanakan sesuatu agar ada pria lain untuk mendekati permaisuri dan merusak hubungan Anda berdua.” Mendengar perkataan nyonya Rose, Alvero langsung bangkit berdiri dari duduknya.


“Kalau dia berani berbuat seperti itu, kalau ada laki-laki yang berani mengusik permaisuriku… Aku akan menghajar dan menghancurkan siapapun laki-laki itu!” Alvero berkata dengan nada tinggi, membuat nyonya Rose menarik nafas panjang, lalu dengan tersenyum kembali menghadapkan tubuhnya kepada Alvero.


“Kenapa Yang Mulia marah? Itu adalah murni rencana ibu suri, bukan keinginan dari permaisuri Deanda. Dan laki-laki itu hanya menjalankan perintah dari ibu suri, entah dengan imbalan apa…”

__ADS_1


“Aku tidak perduli! Siapapun laki-laki yang berani mengusik dan mendekati permaisuriku! Aku tidak akan tinggal diam! Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menikmati sisa hidupnya!” Nyonya Rose langsung tertawa kecil melihat bagaimana emosinya Alvero mendengar apa yang baru saja dia katakan.


Dengan langkah pelan, nyonya Rose mendekat ke arah Alvero yang wajahnya terlihat memerah karena marah. Bahkan itu terjadi karena nyonya Rose hanya mengatakan sesuatu yang belum tentu terjadi.


__ADS_2