
Masih teringat dengan jelas oleh Tira bagaimana saat dia masih kecil, papanya yang baru saja pulang dari perjalanan bisnis keluar negeri memberikan oleh-oleh untuknya, sepasang boneka beruang yang memakai hanbok. Oleh-oleh yang dibawa langsung oleh papanya dari Korea waktu itu khusus untuk Tira.
(Hanbok (Korea Selatan) atau Chosŏn-ot (Korea Utara) adalah pakaian tradisional masyarakat Korea. Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Hanbok digunakan diklasifikasikan berdasarkan peristiwanya: pakaian sehari-hari, termasuk untuk hari ulang tahun pertama anak. Hanbok modern untuk anak-anak terbagi atas 2 atau 3 bagian dan bisa dipakai dengan mudah. Hanbok anak-anak dipakai biasanya satu atau dua kali setahun dalam perayaan Chuseok atau tahun baru imlek (seollal). Pada ulangtahun pertamanya (doljanchi) anak-anak memakai hanbok pertama mereka. Secara etimologis, Hanbok mempunyai makna sebagai “pakaian orang Korea.” Han dimaknai “orang Korea” sedangkan Bok adalah pakaian. Meskipun begitu, pakaian yang satu ini sebenarnya adalah pakaian yang spesifik pada era Joseon saja. Pada jaman dulu, jaman-jamannya Dae Jang Geum, hanbok merupakan pakaian yang dipakai oleh semua orang mulai dari petani hingga para bangsawan. Hanbok pun dipakai sebagai pakaian sehari-hari meskipun sekarang lebih sering dipakai untuk acara-acara spesial seperti pesta, pemakaman, dan pernikahan.
Hanbok yang sering dipakai oleh artis-artis Korea di karpet merah itu ternyata merupakan sebuah evolusi dari versi aslinya. Di jaman dahulu, terutama di era Joseon, hanbok selalu dibuat selonggar dan semelambai mungkin sehingga cocok untuk digunakan oleh segala bentuk tubuh. Di era kependudukan Cina, era Goryeo (918-1392), hanbok pun terinspirasi dengan budaya Mongolia. Alhasil, hanbok modern merupakan perpaduan antara atasan yang lebih ketat dan rok yang tidak selonggar dulu.
Hanbok sendiri adalah sebuah jenis pakaian yang melekat erat pada identitas wanita Korea ketimbang prianya. Wanita Korea sering memakai hanbok dengan warna yang spesifik sebagai simbol kedudukan mereka dalam masyarakat. Contohnya, hanya wanita yang memiliki anak laki-lakilah yang boleh memakai warna biru tua, sedangkan wanita yang sudah memiliki suami juga boleh mengenakan warna ungu. Dalam acara-acara khusus, wanita yang masih gadis hanya boleh memakai perpaduan warna kuning dan merah pada hanboknya. Sedangkan perpaduan antara merah dan hijau biasanya hanya digunakan oleh mereka yang akan menikah).
Saat itu, tanpa sengaja, saat Tira bermain-main dengan para putri lain di ruang bermain kerajaan, yang biasa digunakan oleh para putri yang masih berusia kanak-kanak, untuk berkumpul dan bermain bersama. Tira membawa boneka itu untuk ditunjukkan kepada para putri yang lain, agar bisa digunakan untuk bermain bersama. Desya yang saat itu melihat boneka yang baginya cantik dan belum pernah dia dapatkan, tanpa mengatakan apapun langsung mendekat ke arah Tira dan merebut kedua boneka itu.
"Hei! Kak Desya! Kembalikan padaku! Itu boneka milikku. Papaku yang membelikannya untukku." Tira langsung berteriak keras.
"Tidak! Aku menginginkannya! Minta saja lagi kepada papamu!" Tanpa rasa bersalah, Desya berlari keluar tanpa memperdulikan Tira yang langsung menangis sambil berlari mengejar Desya dan berteriak meminta bonekanya kembali.
Begitu Desya mengetahui bahwa Tira mengejarnya, dengan sengaja Desya berlari ke arah taman, dimana tadi sebelum bermain dia melihat mamanya ada di sana bersama sopir pribadinya, bersiap untuk menghadiri acara pertemuan rutin para istri bangsawan.
__ADS_1
"Maaaaa..." Mendengar suara panggilan dari Desya yang nyaring, Eliana yang sudah bersiap untuk pergi, langsung menoleh, dan langsung mengernyitkan dahinya melihat bagaimana Desya dengan dua boneka beruang dipelukannya berlari ke arahnya, diikuti oleh Tira yang sibuk memanggil-manggilnya.
"Kenapa kalian berlarian di dalam istana? Apa kalian tidak tahu seorang putri tidak boleh melakukan hal seperti itu." Eliana berkata sambil menatap ke arah Desya dan Tira bergantian.
"Permaisuri. Kak Desya mengambil boneka pemberian papaku." Tira berkata sambil menatap ke arah Desya yang langsung bersembunyi di balik tubuh Eliana dengan bibir mencibir dan tatapan matanya yang terlihat jelas mengejek Tira.
"O, begitu. Desya, kamu punya banyak boneka cantik dan mahal. Kenapa kamu menginginkan boneka jelek seperti itu? Hah! Hanya boneka beruang dengan hanboknya. Tidak terlihat cantik apalagi menarik." Eliana berkata sambil menarik bahu Desya, membuatnya keluar dari pesembunyiannya.
"Tapi ma, aku mau boneka yang seperti ini." Desya tetap bersikeras, membuat Tira tiba-tiba menangis dengan keras.
"Diam atau aku akan memukulmu! Jangan membuat keributan!" Eliana berkata sambil mencubit dengan keras lengan tangan Tira yang langsung berteriak kesakitan tapi juga memaksakan dirinya untuk diam dari menangisnya agar Eliana mau melepaskan cubitannya, apalagi saat ini mata Eliana melotot kepadanya dengan tatapan menakutkan bagi Tira yang saat itu masih belm genap berusia 7 tahun.
Begitu Eliana melepaskan cubitan tangannya, dengan meringis karena menahan rasa sakit pada lengannya, tangan kecil Tira segera memegang lengannya dengan erat untuk mengurangi rasa sakit akibat cubita Eliana yang meninggalkan warna biru di lengan Tira.
"Kamu menginginkan bonekamu kembali?" Eliana berkata dengan bibir menyeringai yang lansung disambut oleh sebuah anggukan kecil oleh Tira, dan justru membuat Eliana terkekeh geli.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Eliana merebut boneka itu dari tangan Desya. Dan tanpa diduga oleh Tira, Eliana menarik kedua tangan dan kaki boneka itu dengan keras sehingga sobek dan langsung melemparkannya ke salah satu sudut taman dimana terdapat genangan lumpur.
"Desya. Apa kamu masih menginginkan boneka itu sekarang?" Dengan suara terdengar sinis, Eliana bertanya kepada Desya yang langsung menggelengkan kepalanya melihat ke arah boneka yang sudah rusak sekaligus kotor karena terkena lumpur.
"Kamu boleh mengambil bonekamu kembali Tira. Jangan jadi anak nakal. Harusnya kamu beruntung, bukan kamu yang jatuh ke genangan lumpur karena berebut boneka sehingga boneka itu robek dan terlempar ke lumpur." Tira langsung terbeliak mendengar kata-kata Eliana yang mengatakan akibat dia dan Desya tarik menarik boneka itu yang menyebabkanyan sehingga sobek dan terlempar ke lumpur.
"Tapi Permaisuri... Aku dan Desya tidak mela...."
"Anak sekecil kamu, jangan terlalu banyak membantah. Hari ini kamu kehilangan bonekamu, lain kali mungkin kamu bisa kehilangan barang lain yang kamu suka jika kamu berani mengatakan sesuatu yang lain kepada orang lain. Jangan pikir orang akan mempercayai perkataan seorang anak ekcil sepertimu, daripada aku yang seorang permaisuri Gracetian!" Kata-kata dan tatapan mata mengancam dari Eliana, cukup uintuk membuat tubuh Tira mundur dua langkah ke belakang.
Tira menarik nafas panjang mengingat kejadian waktu dia masih kanak-kanak itu. Kejadian yang membuat Tira sejak saat itu tidak mau berada di dekat Eliana, dan selalu berusaha menghindar. Bahkan untuk sekedar berpapasan dengan Eliana saja, Tira berusaha begitu menghindarinya.
Saat masih kanak-kanak itu, pernah Tira berusaha memberanikan diri untuk mengadukan masalah itu kepada orangtuanya. Namun di saat dia sudah berhasil mengumpulkan keberaniannya, hari itu Tira melihat bagaimana Eliana di sebuah ruang kosong di istana memukul punggung Alvero dengan sebuah kayu, bahkan bukan hanya sekali pukulan. Saat itu dengan jelas Tira melihat bagaimana Alvero meringis menahan sakit, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dari bibirnya.
__ADS_1