
"Dion! Dion! Jangan lakukan ini pada mama! Dion! Jangan tinggalkan mama!"
Melihat bagaimana Dion menghembuskan nafas terakhirnya di hadapannya akibat tembakannya membuat Eliana berteriak sekeras-kerasnya memanggil-manggil nama Dion dengan histeris dan dengan suara tangisnya yang terdengar begitu menyayat hati.
Deanda yang melihat itu, mau tidak mau mengalihkan wajahnya dari Dion, dan bergerak menyembunyikan wajahnya di dada Alvero yang langsung memeluknya dengan erat sambil menahan nafasnya.
Pada akhirnya sebulir airmata turun di pipi Deanda. Wanita cantik itu merasa senang pada akhirnya Dion sadar akan kesalahannya, walaupun dia harus membayar mahal dengan nyawanya untuk semua yang sudah terjadi di masa lalu.
Deanda bisa merasakan bagaimana kesedihan, kekecewaan, penyesalan yang sedang dialami oleh Eliana karena kehilangan seorang anak yang begitu disayanginya.
Dan lagi, penyiksaan terbesar bagi Eliana adalah hilangnya nyawa anak kesayangannya itu dikarenakan oleh tangannya sendiri.
Sejak awal Eliana melarikan diri dari rumah sakit sebenarnya sudah diikuti oleh Dion yang awalnya ingin menjenguk mamanya. Namun yang dilihat oleh Dion saat itu justru sosok suster yang merupakan sosok dari Eliana, keluar dari lorong tempat kamar Eliana dirawat.
Hal itu membuat Dion memutuskan untuk mengikuti kemana perginya Eliana.
Begitu mengetahui Eliana dan Rolland memasuki bunker Tavisha, dengan hati-hati, Dion berusaha mengikuti mereka dari jauh.
Setelah berhasil menyelinap ke dalam bunker, Dion sengaja menyerang salah seorang anggota kelompok pemberontak dan menguncinya di salah satu ruangan dengan tangan terikat dan mulut tersumpal kain.
Sedang Dion sendiri setelah itu langsung berganti pakaian, menyamar menjadi salah satu anggota dari kelompok pemberontak dan terus mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Eliana dan Rolland.
Sampai pada akhirnya Dion melihat Eliana yang menyelinap keluar dari bunker dan bermaksud untuk menembak Deanda.
Mama! Apa yang akan kamu lakukan! Sudah aku katakan! Jangan pernah mengusik apalagi melukai Deanda!
__ADS_1
Dion berteriak dalam hati dengan sikap panik melihat Eliana yang mulai mengarahkan pistolnya ke arah kepala Deanda tanpa disadari oleh Deanda sendiri.
Membuat Dion dengan reflek, tanpa berpikir panjang berlari kencang ke arah Deanda dan membiarkan tubuhnya menjadi tameng bagi tubuh Deanda untuk menerima tembakan itu.
Untuk waktu yang lama Eliana terus menangis di samping tubuh Dion yang terbujur kaku. Tidak lagi bergerak walaupun Eliana berusaha menggerak-gerakkan tubuh Dion, seperti orang yang sedang berusaha untuk membangunkan anaknya yang sedang tertidur nyenyak.
"Dion! bangun nak! Bangun! Mama tidak bermaksud menembakmu! Dion!" Eliana terus berteriak histeris dengan tangan terus berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Dion, menepuk pipinya, sambil memeluk dengan erat tubuh Dion.
Sayangnya, usaha Eliana hanya sia-sia belaka, karena tubuh Dion tetap terdiam, walaupun Alvero bisa melihat bagaimana senyum menghiasai wajah Dion, menunjukkan bahwa tidak ada penyesalan dalam diri Dion sudah melakukan hal itu.
Berusaha melindungi wanita yang membuat Dion mengenal apa itu cinta, walaupun pada akhirnya Dion tahu bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan balasan cinta dari wanita itu.
Alvero menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menggerakkan tubuhnya, dan mengajak Deanda yang masih tetap dalam pelukannya pergi dari sana.
Beberapa orang anggota dari pasukan khusus Alvero segera mendekat dan mulai memngalihkan tubuh Dion, membuat Eliana semakin histeris dan berteriak-teriak juga berusaha memukul ataupun menendang orang yang berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dion.
Alvero memandang wajah Deanda yang tampak kelelahan dan sedang tertidur dengan berselonjor dan kepalanya berada di pangkuan Alvero yang duduk di sebuah bangku panjang.
My sweety, my lovely wife.... untung saja kamu baik-baik saja. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Kamu ini, benar-benar keras kepala. Kadang membuatku ingin menjitak dan memarahimu habis-habisan karena tindakan nekatmu. Tapi, melihatmu dalam keadaan baik-baik saja saat ini, untuk saat ini, rasanya sudah cukup untuk membungkam bibirku.
Alvero berkata dalam hati sambil tangannya mengelus-elus lembut kening Deanda yang tampak tertidur dengan nyaman di pangkuannya.
Ah, akhirnya, perjuangan kita untuk Gracetian berhasil dengan baik sweety. Hanya saja....
Alvero menghentikan bicaranya dalam hati sambil memandang ke arah Erich yang duduk diam terpaku tidak jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
Kita harus membayar mahal semua yang terjadi hari ini, termasuk Ernest yang mungkin saja tidak lagi bisa diselamatkan. Hah, aku harap... walaupun tidak bisa menyelamatkan Ernest, paling tidak kita bisa menemukan tubuhnya, agar bisa melakukan penghormatan atas jasanya kepada Gracetian.
Alvero kembali berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, dengan mata masih memandang ke arah Erich yang sejak hilangnya Ernest sudah terus berdiam diri, tidak berbicara ataupun sekedar meneguk air minum.
Setelah melakukan pencarian Ernest lebih dari 5 jam tanpa hasil, Marcello memaksa semuanya, termasuk Erich untuk sementara kembali ke bunker untuk beristirahat sebelum mereka kembali melanjutkan pencarian mereka.
Alvero tahu pasti bahwa dia tidak boleh bersikap pesimis, tapi melihat bagian luka tembak pada tubuh Ernest saat itu, Alvero tidak yakin bahwa Ernest bisa bertahan tanpa dibantu oleh tenaga medis, apalagi sudah lebih dari 6 jam mereka tidak bisa menemukan tubuh Ernest.
Hal itu membuat masa keemasan agar Ernest mendapatkan pertolongan secepatnya untuk menyelamatkan nyawanya boleh dibilang sudah melayang.
"Yang Mulia, kami mohon ijin untuk mengirimkan tim lain agar segera melakukan penyisiran kembali untuk mencari tuan Ernest." Marcello yang mendekat ke arah Alvero segera menyampaikan pemikirannya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Baik Uncle, kirimkan lebih banyak tim. Sebentar lagi matahari akan terbit, semoga pencarian akan lebih mudah dilakukan."
"Yang Mulia, saya akan ikut berangkat ke sana." Alvero langsung menoleh ketika melihat Erich yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya begitu mendengar perkataan Marcello sebelumnya.
"Lebih baik kamu beristirahat Erich, biarkan orang lain menggantikan posisimu." Alvero menjawab dengan tegas, apalagi dilihatnya lingkaran hitam di mata Erich.
Belum lagi, baru kali ini Alvero melihat bagaimana mata Erich yang bengkak akibat terus menangis dalam diamnya.
Sejak dia mencari Ernest, Erich tidak bisa menahan tangisnya barang sekejap, apalagi suasana malam membuatnya tahu bahwa yang lain tidak akan bisa melihat jika dia menangis.
Bagi Erich, Ernest yang merupakan satu-satunya keluarga yang tersisa baginya sekarang ini merupakan orang yang paling berharga dan begitu disayanginya. Belum lagi sebagai saudara kembar, seringkali mereka lebih peka dan saling mengerti satu sama lain.
Apalagi, selama masa-masa sulit yang dialami Erich setelah peristiwa pembantaian di desanya waktu itu, Ernest merupakan orang yang selalu setia menemani dan berusaha menghiburnya, agar dia segera bisa melupakan kenangan buruk itu.
__ADS_1