
Bahkan setelah membisikkan kata-katanya dengan lembut di telinga Deanda, Alvero sedikit membungkukkan tubuhnya, memeluk tubuh istrinya dengan kedua lengannya melingkar di pinggang ramping Deanda, dan juga menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Deanda, dengan pipi kiri Alvero menempel pada pipi kanan Deanda.
(Sunset atau matahari terbenam adalah salah satu contoh peristiwa astronomis. Peristiwa ini terjadi akibat fenomena perputaran bumi pada porosnya. Perputran ini menyebabkan daerah-daerah di bumi mengalami paparan sinar matahari secara bergantian. Jika wilayah tertentu menghadap ke permukaan matahari, maka wilayah tersebut akan mengalami pagi hingga siang, sementara jika satu wilayah menghadap sisi sebaliknya, maka wilayah tersebut akan mengalami matahari. Adapun sunset merupakan fenomena ketika wilayah permukaan bumi beralih dari pagi/siang menjadi malam. Dengan kata lain yang lebih sederhana, sunset adalah masa ketika matahari sudah tidak terlihat lagi di ufuk barat, namun yang terlihat hanyalah pancaran sinarnya saja. Pancaran sinar ini membuat langit terlihat berwarna jingga. Saat itu langit akan terlihat indah sekali dan juga memberikan kesan romantis).
Pemandangan sunset dari atas geladak kapal pesiar itu tampaknya cukup dinantikan oleh beberapa orang, sehingga saat hari semakin beranjak sore dan waktu terjadinya sunset sudah semakin dekat, beberapa tamu undangan, terutama yang memiliki pasangan satu persatu mulai memenuhi geladak kapal, membuat Deanda dengan gerakan pelan mulai menjauhkan dirinya dari pelukan Alvero. Awalnya Alvero ingin tetap berada di posisi seperti itu hingga mereka menikmati suasana sunset, namun melihat wajah dan gerakan tubuh Deanda yang sudah menunjukkan tanda-tanda gelisah dan tidak tenang, akhirnya Alvero dengan enggan melepaskan pelukannya kepada tubuh Deanda, menggerakkan tubuhnya untuk kembali berdiri di samping tubuh Deanda setelah sebelumnya tangan Alvero membetulkan letak jasnya yang menutupi tubuh Deanda agar tidak terjatuh.
"Apa kamu sering berlayar?" Dengan mata masih menatap ke arah langit, Deanda bertanya kepada Alvero yang melipat kedua tangannya dan menopangkannya di pagar pembatas geladak yang ada di depannya.
"Beberapa kali. Aku lebih suka berlibur di pantai daripada di atas kapal pesiar. Tapi untuk hari ini adalah edisi khusus karena ada istri cantik yang menemaniku berlayar dan menghabiskan waktu di atas kapal pesiar. Sesuatu yang baru pertama kalinya terjadi dan tentu saja tidak akan aku lewatkan begitu saja. Sudah aku bilang kan, beberapa hari ini kita akan mencoba melakukannya di berbagai tempat dengan suasana yang berbeda." Alvero berkata sambil mengerlingkan matanya ke arah Deanda yang tadi langsung memandang ke arah Alvero, begitu Alvero mulai menjawab pertanyaannya.
Hah, dasar yang mulia... pikirannya selalu saja mesum begitu ada kesempatan. Selalu mengingatkanku tentang kegiatan di atas tempat tidur.
Deanda berkata dalam hati sambil memalingkan wajahnya sebelum semburat merah di wajahnya semakin bertambah.
"Kenapa dengan wajahmu sweety? Apa kata-kataku barusan salah?" Alvero berkata sambil tersenyum geli melihat bagaimana Deanda masih saja bersikap malu-malu dan canggung jika dia membicarakan sesuatu yang menjurus ke arah hubungan intim dengan istrinya.
__ADS_1
"Yang Mulia.... sudah mulai sunsetnya." Tanpa menjawab pertanyaan Alvero yang masih tersenyum geli, Deanda mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah langit yang sudah menunjukkan warna oranye.
Gerakan tangan Deanda membuat jas Alvero yang berada di tubuhnya sedikit melorot, membuat Alvero dengan gerakan gesit meraih jas itu dengan kedua tangannya dan membetulkan kembali letaknya agar bisa menutupi tubuh istrinya dengan baik. Setelah itu Alvero dengan sengaja mengalungkan lengannya ke bagian belakang bahu Deanda dan telapak tangannya mengelus lengan atas Deanda dengan lembut.
Mendapat perlakuan lembut seperti itu dari Alvero, Deanda langsung tersenyum sambil memandang ke arah wajah Alvero yang mata hazelnya sedang menatap lurus ke arah sunset dengan memeluk erat bahu Deanda dari samping.
"Ah... langit hari ini benar-benar terlihat indah...." Deanda yang sudah kembali menatap ke arah langit berkata dengan suara lirih seperti bergumam.
Sebentar kemudian sambil menikmati keindahan langit di depannya, Deanda kembali menghirup udara di sekitarnya dengan memejamkan matanya, sambil tangannya bergerak ke arah tangan Alvero yang sedang memeluknya, dan dengan perlahan Deanda menyentuh tangan Alvero, sengaja memegang punggung telapak tangan Alvero dengan tangannya, lalu menggenggamnya dengan erat, membuat wajah Alvero terlihat begitu bahagia, bisa menikmati indahnya langit sore ini bersama Deanda yang sedang berada di pelukannya. Apalagi, tidak lama kemudian Deanda menyandarkan kepalanya ke dada Alvero, membuat aura bahagia di wajah Alvero terlihat semakin jelas menyadari tindakan Deanda yang baginya terlihat manja namun juga menggemaskan baginya.
"I love you... my sweety..." Alvero berkata lirih sambil mengecup puncak kepala Deanda yang masih menyandarkan kepalanya di dada Alvero.
Setelah mengucapkan kata-kata cintanya kepada Deanda, Alvero sedikit menggerakkan kepalanya ke samping untuk melihat bagaimana reaksi dari Deanda atas pernyataan cintanya barusan. Walaupun Deanda tidak membalas kata-kata pernyataan cintanya, namun dengan melihat semburat merah di wajah istrinya, tangan Deanda yang mempererat genggangmannya ke punggung telapak tangan Alvero, dan senyum bahagia yang tersungging di bibir Deanda, bagi Alvero itu lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Deanda juga mencintainya.
Untuk waktu yang tidak sebentar Alvero dan Deanda menikmati suasana sunset sambil sesekali saling bertukar lirikan mata dan senyum yang menunjukkan mereka berdua begitu menikmati suasana sore ini. Ketika langit sudah semakin gelap, Deanda menggerakkan tubuhnya sambil kedua tangannya memegang bagian lengan jas Alvero yang masih berada di tubuhnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
"Sudah hampir gelap." Deanda berkata pelan sambil membalikkan tubuhnya, membelakangi pagar pembatas buritan kapal.
"Apa kamu sudah lapar? Atau kamu mau secangkir teh hangat? Aku akan minta pelayan mengambilkannya untukmu...."
“Selamat sore Yang Mulia. Ada yang ingin menyapa Yang Mulia.” Sebuah suara sapaan untuknya, membuat Alvero langsung menoleh ke arah sumber suara, diikuti oleh Deanda.
Sebuah senyuman langsung terlihat dari bibir Enzo, orang yang menyapa Alvero barusan. Enzo tampak mendekat ke arah Alvero dan Deanda bersama dengan Earl Robin dan gadis cantik yang berdiri di samping Earl Robin.
“Selamat sore... Bagaimana kabar Yang Mulia? Maaf baru bisa menyapa Yang Mulia.” Earl Robin yang datang bersama anak gadisnya dari kota Renhill langsung memberikan salam pernghormatan kepada Alvero dan Deanda diikuti oleh gadis yang berdiri di sampingnya.
"Selamat sore Earl Robin dan Countess Melva, senang bisa bertemu Anda di tempat ini. Tidak harus merasa begitu sungkan. Tuan rumah hari ini adalah pangeran Enzo. Aku harap kehadiranku tidak membuat sang pemilik acara merasa dikesampingkan." Alvero berkata sambil matanya melirik sekilas ke arah Enzo, merasa senang sekaligus kasihan melihat begaimana kehadiran Melva sebagai gadis yang begitu disukai oleh Enzo, namun sudah memiliki kekasih, sehingga tidak memungkinkan Enzo untuk menjadikannya seorang istri.
Kalau saja itu terjadi padaku... Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk merebut Deanda walaupun dia sudah memiliki seorang kekasih saat kami bertemu. Maafkan aku, tapi aku tidak akan membiarkan gadis yang aku sukai lepas dari tanganku. Selama gadis yang aku suka belum menjadi istri orang lain, aku akan melakukan apa saja untuk menjadikannya milikku. Enzo, terlalu lemah untuk masalah ini. Terlalu mudah untuk menyerah. Tidak mau berjuang lebih keras untuk menggapai wanita impiannya. Hah! Sikap lembek Enzo kadang tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang keturunan dari Adalvino.
Alvero berkata dalam hati dan tanpa sadar tangannya meraih tangan Deanda dan mengggamnya dengan erat, seolah menunjukkan bahwa dia merasa begitu beruntung bahwa wanita impiannya sekarang sudah berhasil dimilikinya dan tidak akan pernah sedetikpun dia akan membiarkan wanita tercintanya itu menjauhkan diri darinya, apalagi membiarkan laki-laki lain mendekati wanitanya.
__ADS_1