
Dengan sengaja Alvero memberikan kesan kepada Eliana bahwa dia tidak terlalu perduli dengan kondisi Vincent. Berharap dengan melakukan itu, Eliana menghentikan rencana-rencana liciknya terhadap Vincent. Alvero ingin agar Eliana tidak lagi menjadikan Vincent sebagai senjata untuk membuat posisinya lemah.
"Kalau bukan Yang Mulia Alvero, siapa lagi yang bisa dan berani memberikan perintah kepada para pengawal untuk menghalangiku menjenguk dan menemui yang mulia Vincent?" Kali ini Eliana berusaha menahan agar nada suaranya tidak meninggi saat berbicara dengan Alvero yang dia tahu sedang berusaha mempermainkan emosinya.
"ibu Suri sadar dengan apa yang baru saja Ibu Suri tuduhkan padaku? Bukankah ada orang yang lebih berhak dalam menentukan bagaimana kondisi yang mulia Vincent dibandingkan aku? Orang yang bisa menilai apakah memang yang mulia Vincent dalam kondisi sehat atau butuh penanganan khusus? Tanyakan kepada tim dokter, yang ada di sana. Orang-orang yang menangani yang mulia Vincent. Apakah selain ibu suri, orang lain diijinkan untuk menjenguk yang mulia Vincent? Jika terjadi seperti itu, biar aku menegur dengan keras, bahkan memberikan hukuman kepada mereka yang berani menghalangi ibu suri tapi membiarkan orang lain masuk." Alvero balik bertanya dengan nada santai.
Dari kata-kata Alvero, jika mereka yang tidak tahu tentang hubungan Alvero dan Eliana pasti akan berpikir bahwa Alvero sedang berusaha menenangkan Eliana. Tetapi bagi orang yang tahu, mereka dengan cepat akan tahu bahwa Alvero sengaja mengucapkan kata-kataa itu untuk membuat Eliana marah dan merasa terhina, karena bagi Alvero, keberadaan Eliana tidaklah penting bagi Vincent, sehingga dia harus memberikan hak istimewa dan pengecualiaan untuk Eliana.
Begitu Alvero mendengar berita bahwa Eliana berniat mengunjungi Vincent ke Renhill, dengan cepat Alvero segera menghubungi dokter pribadi Ornado. Alvero meminta agar dokter tesebut memberikan pernyataan tentang kondisi Vincent yang untuk sementara waktu tidak bisa menerima kunjungan dari siapapun karena sedang dalam penanganan medis.
Hal itu menyebabkan kedatangan Eliana yang dengan sengaja membawa obat untuk melemahkan saraf Vincent ditolak mentah-mentah saat dia datang ke Renhill. Bahkan selain perawat dan tim yang dibawa dokter dari Italia itu, tidak seorangpun yang diijinkan untuk mendekati kamar Vincent.
Dan rencana Alvero itu, tentu saja disetujui oleh dokter yang menaruh kecurigaan terhadap obat-obatan yang diberikan oleh Eliana kepada Vincent. Karena dia sendiri sedang berusaha keras memulihkan kondisi Vincent, berusaha untuk menetralisasi efek dari obat-obatan itu. Jika obat-obatan itu kembali masuk ke tubuh Vincent, tentu saja usaha detoksifikasi yang sedang dilakukan oleh dokter itu akan sia-sia, dan harus mengulanginya dari awal.
__ADS_1
(Pada fisiologi, detoksifikasi atau pengawaracunan adalah lintasan metabolisme yang mengurangi kadar racun di dalam tubuh, dengan penyerapan, distribusi, biotransformasi dan ekskresi molekul toksin).
Di sisi lain, Vincent sendiri tanpa berpikir panjang langsung menyetujui ide Alvero. Karena bagi Vincent, tidak bertemu dengan Eliana untuk waktu yang lama justru membuat hatinya merasa tenang.
Vincent tahu selama ini sebagai raja Gracetian dia sudah menjadi raja yang lemah dan juga pengecut. Karena itu, kali ini dia menyerahkan dan memeprcayakan semuanya kepada Alvero. Bagi Vincent sosok Alvero merupakan sosok yang jauh lebih pantas menyandang status sebagai raja Gracetian dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Pertanyaan Alvero sungguh membuat Eliana terdiam, karena dia tahu pasti, memang bukan hanya dia, tapi semua orang tidak satupun diijinkan dokter untuk memasuki kamar Vincent kecuali atas perintah dokter itu. Itupun hanya para petugas medis yang merupakan para anggotanya, dan di bawah pengawasan dokter itu langsung.
Menyadari Eliana kehabisan kata-kata, tidak bisa menjawab pertanyaannya, membuat Alvero tersenyum puas dan dengan bersemangat, langsung meneruskan kata-katanya pedasnya untuk Eliana.
Kalau saja kita saling bertatap muka sekarang, akan menyenangkan sekali melihat wajah memerah wanita ulat itu karena kemarahannya. Aku yakin sekarang dia sudah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar.
Alvero berkata dalam hati dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum sinis.
__ADS_1
"Sepertinya memang tidak ada yang bisa aku lakukan lagi di sini." Eliana berkata sambil menarik nafas panjang.
Menghadapi Alvero, tidak segampang saat dia menghadapi Vincent. Dan itu membuat Eliana harus bersikap ekstra hati-hati agar tidak salah langkah dan berakibat buruk untuk dirinya sendiri. Dari bukti nyata yang sudah dia lihat tentang bagaimana kerasnya Alvero, adalah saat Desya melakukan hal ceroboh kepada Deanda yang mengakibatkan dia diusir oleh Alvero keluar dari istana.
"Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan oleh seorang ibu suri. Bagaimana kalau ibu suri berdoa agar yang mulia Vincent cepat sembuh, dan juga ibu suri melakukan kewajiban ibu suri di istana dengan baik, belajar untuk menjadi wanita yang anggun dan pantas menyandang gelar bangsawan. Melakukan banyak kegiatan amal dan bhakti sosial, menyumbang panti asuhan. Juga menjaga agar Dion dan Desya lebih berhati-hati dalam bertindak, agar tidak melakukan hal memalukan yang bisa mencoreng nama baik keluarga kerajaan...." Kali ini tanpa memberikan salam kepada Alvero, Eliana langsung memutus sambungan telepon dari Alvero.
"Upst...." Alvero hanya berkomentar pendek sambil menyungingkan senyum puas sudah berhasil memojokkan Eliana sedemikian rupa hari ini.
"Alvero! Bocah Sialan! Kurang ajar!" Eliana berteriak sekeras-kerasnya sambil meremas dengan kuat handphone yang ada di tangannya.
Eliana tahu pasti bahwa kata-kata terakhir dari Alvero sengaja diucapkannya untuk menyindirnya. Dengan kata lain, Alvero menyatakan bahwa selama ini dia tidak bisa menjadi istri yang baik bagi Vincent, tidak bisa menjadi ibu suri yang menjalankan tugas dan kewajibannya di istana dengan baik, juga gagal menjadi seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.
"Beraninya bocah itu menghina aku dan juga anak-anakku!" Eliana mendengus dengan keras, tangan kirinya memukul kursi mobil di bagian penumpang yang kosong di sampingnya.
__ADS_1