
"Dion... Dion... kamu ada dimana nak?"
"Ini mama... tolong jawab mama."
"Dion... jangan pernah membenci mama...."
"Dion, anakku... maafkan mama..."
"Rolland! Rolland! Cepat selamatkan anak kita!"
"Rolland! Bawa Dion kepadaku atau aku akan mati karena merindukannya!"
"Rolland! Dion! Dimana kalian?"
Suara-suara dari Eliana yang terdengar seperti sebuah rengekan terus terdengar dari arah sebuah kamar milik rumah sakit jiwa yang ada di pinggiran kota Tavisha.
"Hei! Diamlah! Jangan merengek terus! Berisik sekali! Benar-benar membuat orang emosi!" Salah seorang petugas kebersihan membentak Eliana lewat jendela kamanya yang diberi pengaman berupa jeruji besi.
Sebuah kamar yang dikhususkan untuk orang yang bukan hanya menderita sakit jiwa, tapi juga merupakan seorang tahanan negara, sehingga tidak bisa bebas keluar dari kamarnya dan dikunjungi oleh sanak keluarganya seperti pasien yang lain.
"Tidak! Tidak! Bukan aku yang melakukannya!"
"Bukan aku yang menembaknya!"
Eliana justru berteriak histeris mendapat bentakan dari petugas kebersihan itu dengan tubuhnya duduk meringkuk di pojokan ruangan dengan wajah terlihat begitu ketakutan.
"Selamat siang." Suara seorang laki-laki membuat petugas kebersihan itu sedikit menjauhkan dirinya dari pintu kamar tempat Eliana dirawat.
__ADS_1
"Selamat siang Baron Amos. Apa Anda mau mengunjungi nyonya Eliana?" Dengan wajah memerah karena malu menyadari Amos menangkap basah dia sedang memarahi Eliana, petugas kebersihan itu segera berlalu.
Petugas kebersihan itu cukup mengenal Amos sebagai seorang baron, dan dia adalah satu-satunya orang yang menjenguk Eliana selama wanita itu berada di rumah sakit jiwa sejak beberapa waktu ini.
"Silahkan Baron Amos." Perawat yang menemani Amos menemui Eliana dari balik pintu kamarnya mempersilahkan Amos untuk mendekat ke arah jendela yang ada di pintu ruangan temapt Eliana berada tanpa membuka pintu itu, sehingga mereka hanya bisa saling berbicara, dipisahkan oleh pintu itu.
"Kak, bagaimana kabarmu hari ini?" Eliana yang mendengar suara Amos langsung mendongakkan kepalanya dan berlari ke arah pintu.
"Amos? Apa itu kamu? Tolong.... temui Rolland, katakan kepadanya untuk segera mencari Dion.... jangan sampai Dion kedinginan diluar sana. Atau.... cari Desya, suruh dia menemukan adiknya, dan memberikan jaket kepadanya. Dion... kasihan dia... dia sedang menungguku diluar sana, dia pasti kedinginan." Eliana meracau sambil pandangan matanya melihat kesana kemari dengan sikap bingung.
Melihat kondisi Eliana, Amos hanya bisa menarik nafas dalam-dalam tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun kepada Eliana.
Kak, semua sudah berakhir, Rolland maupun Dion, sudah tidak adalagi di dunia ini. Sekarang ini, keluarga Edarian yagn tersisa hanyalah aku dan Desya yang entah berada dimana sekarang. Keluarga kita yang lain, karena sudah membantu kejahatanmu selama ini, mereka semua harus membayar kejahatan mereka dengan menjalani hukuman mereka. Sepertinya hanya aku yang akan menjadi keturunan Edarian terakhir di negara Gracetian ini. Setelah aku mati, nama Edarian secara otomatis akan terhapus untuk selamanya.
Amos berkata dalam hati sambil memandang nanar ke arah Eliana, menyadari bahwa sampai sekarang dia juga tidak memiliki keinginan untuk menikah dan meneruskan keturunan Edarian.
Sedang Desya hingga saat ini, Amos tidak bisa menemukan keberadaan satu-satunya keponakannya yang masih bebas di luar sana. Karena memang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Desya terlibat dalam kejahatan Eliana, sehingga pihak kerajaan juga tidak mau ambil pusing untuk mencarinya.
"Kak, sudah berminggu-minggu sejak kejadian hari itu. Tidak bisakah kakak menerima kenyataan bahwa Rolland dan Dion sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya?" Amos berkata lirih.
Dan perkataan dari Amos, justru membuat Eliana menjerit histeris.
"Tidak! Kamu pembohong! Rolland masih menungguku di bunker Tavisha! Dion juga ada di sana menyusulku! Amos! Beraninya kamu menyumpahi Rolland dan Dion! Lebih baik kamu pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Rolland!"
"Dion!"
__ADS_1
Eliana kembali menangis dengan keras sambil memanggil-manggil nama Rolland dan Dion kembali, membuat Amos hanya bisa menarik nafas panjang.
Bagi Amos, dia sendiri cukup bersyukur karena tindakan Dion menyelamatkan Deanda waktu itu, pihak kerajaan tidak menjatuhi hukuman mati untuk Eliana.
Tapi melihat kondisi Eliana yang hidup dalam penyesalan, kesakitan, ketakutan yang membuatnya gila, adalah hukuman yang jauh lebih berat dari pada sebuah kematian.
# # # # # # #
"Hei! Pendatang baru! Jangan mengambil tempatku!" Seorang perempuan setengah baya berteriak smbil menendang tubuh seorang gadis yang meringkuk di bawah jembatan dengan pakaiannya yang compang camping, dan wajahnya yang sebenarnya cantik, namun karena kumal dan kurus kering, juga kotor, membuat kecantikannya tidak terlihat sama sekali bagi siapa yang melihatnya.
"Ma... maaf!" Dengan menahan sakit karena tendangan tadi tepat mengenai perutnya, gadis itu merangkak untuk menjauh dari tempatnya semula.
"Eh, apakah kalian sudah dengar, hari ini ada kunjungan raja Gracetian ke negara ini." Salah seorang dari gelandangan itu berkata dengan nada ceria.
"Raja Gracetian yang tampan itu? Ah, andai saja aku b sa bertemu dengan laki-laki setampan itu dalam hidupku..." Salah seorang gelandangan yang terlihat masih cukup muda berkata dengan mata berbinar ke arah potongan koran yang dipegang oleh temannya yang juga masih berusia muda.
Potongan koran yang didapatkan oleh salah seorang gelandangan itu menunjukkan berita tentang kunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh Alvero di negara itu.
Di foto itu tampak Alvero sedang tersenyum sambil berjabat tangan dengan presiden negara itu.
"Raja Gracetian pantas disebut sebagai raja tertampan yang pernah ada." Gadis itu berkata sambil mengambil sisa roti yang dia temukan di tempat sampah tadi.
Dengan lahap gadis itu memakan sisa potongan roti itu, sehingga potongan kertas yang berisi foto Alvero tertiup angin dan jatuh di dekat kaki gadis yang tadi baru saja dipukul oleh salah seorang temannya.
Dengan tangan terlihat gemetar, gadis itu meraih potongan koran tersebut dan menatap nanar ke arah foto Alvero, yang membuatnya tanpa sadar meneteskan air matanya.
__ADS_1