
"Aku ikut saja dengan rencanamu Yang Mulia." Deanda segera membalas bisikan dari Alvero sambil tersenyum ke arah beberapa pegawai yang sedang berkumpul di depan lift.
Begitu Alvero dan Deanda memasuki lift pribadi mereka diikuti oleh Ernest, Alvero langsung menoleh ke arah Ernest yang sedang berdiri di belakang mereka.
"Ernest, kemungkinan besar pagi ini kami akan langsung berangkat ke Renhill setelah bertemu dengan Alaya. Atur supaya keberangkatan kami diketahui oleh orang lain sebagai kegiatan kunjungan kerja, bukan karena kami harus menemui yang mulia Vincent. Untuk Alaya, minta surat tugas kepada Robert agar dia juga mendapatkan perintah untuk melakukan kunjungan kerja, agar pegawai lain tidak mempertanyakan kepergian Alaya." Alvero langsung memberikan perintah selanjutnya kepada Ernest, mengatur segala sesuatunya agar semuanya bisa berjalan dengan baik.
“Baik Yang Mulia. Akan segera saya kerjakan.” Dengan cepat Ernest menjawab perintah dari Alvero.
Begitu pintu lift terbuka, Alvero, Deanda dan Ernest segera berjalan ke arah kantor R&D, untuk mencari Alaya.
“Selamat pagi Yang Mulia, Pemaisuri. Kira-kira apa yang membawa Anda berdua datang ke tempat ini tanpa memberitahukan kepada kami lebih dahulu? Apa ada seuatu yang mendesak yang sudah terjadi? Apa mungkin ada yang bisa kami bantu?” Robert langsung menyambut kedatangan Alvero dan Deanda begitu mendengar kedua orang penting Gracetian itu datang mengunjungi departemen tempatnya bekerja.
Robert langsung mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam kantornya dengan sikap hormat.
“Tidak ada sesuatu yang mendesak Tuan Robert, hanya saja, yang mulia dan permaisuri ingin bertemu dengan nona Alaya yang berkerja di departemen R&D. Ada informasi yang ingin ditanyakan kepada Alaya tentang salah satu kerabat nona Alaya yang dikenal oleh yang mulia Alvero.” Ernest langsung melangkah maju dan mewakili Alvero dan Deanda untuk menjawab pertanyaan dari Robert.
“O, begitu ya.” Robert berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Tapi sayang sekali, hari ini nona Alaya mengajukan ijin untuk tidak masuk kerja. Menurut keterangan, dia harus berangkat ke Renhill untuk menemui salah satu kerabatnya di kota Renhill.” Alvero dan Deanda langsung saling berpandangan begitu mendengar perkataan Robert.
“Apa dia memiliki kerabat di kota Renhill Tuan Robert?” Alvero langsung bertanya sambil memandang ke arah Robert yang sedikit berdesis dan menarik nafas lewat sela-sela bibirnya.
“Aku tidak tahu, baru kali ini nona Alaya meminta ijin untuk libur dan pergi ke Renhill. Apa mungkin kerabatnya yang ada di sana sedang sakit, atau mungkin ada pesta di kediaman keluarganya, saya juga kurang paham Yang Mulia.” Penjelasan Robert membuat Alvero Manahan nafasnya sebentar.
Di satu sisi, Alvero merasa kecewa pagi ini dia dan Deanda tidak bisa dengan segera menemui Alaya dan menanyakan tentang kalung dan liontin yang dikenakannya, sekaligus menanyakan tentang jati diri Alaya yang sebenarnya. Namun di sisi lain, Alvero juga merasa sedikit lega tidak perlu mencari banyak alasan untuk membuat orang tidak curiga jika dia mengajak Alaya ke Renhill untuk menemui Vincent, termasuk orang-orang di perusahaan Adalvino yang Alvero yakin, ada mata-mata dan pengkhianat yang sudah disisipkan oleh Eliana ke perusahaan ini dengan sengaja untuk mengawasi gerak-geriknya.
“Ok, kalau begitu Tuan Robert. Tidak masalah. Urusan kami dengan nona Alaya bukan sesuatu yang mendesak, kami hanya ingin menyapa dan mengetahui kabar tentang salah satu kerabatnya. Memastikan bahwa orang yang kami kenal itu dalam kondisi baik-baik saja.” Alvero dengan cepat menanggapi perkataan Robert, agar semuanya tetap terkendali tanpa ada orang ynag curiga.
“Baik Yang Mulia, Permaisuri, selamat pagi.” Robert segera memberikan salam hormat.
Dan setelah Alvero menerimanya, dengan cepat Robert bergegas berjalan ke arah pintu kantornya dan membukakan untuk Alvero dan Deanda.
“Ernest, kita langsung berangkat ke Renhill sekarang juga. Minta Erich melakukan pengecekan tentang keberadaan Alaya di Renhill. Aku mau saat di Renhill, aku bisa langsung menuju tempat dimana dia berada.” Begitu Alvero, Deanda dan Ernest berada di dalam lift, Alvero segera memberikan eprintah selanjutnya kepada Ernest.
“Baik Yang Mulia. Saya akan segera aturkan.” Setelah menjawab perintah dari Alvero, Ernest segera menghubungi salah satu pengawal untuk menyiapkan mobil Alvero di depan gedung perkatoran Adalvino, sehingga begitu Alvero dan Deanda keluar dari lift, mereka bisa dengan segera berjalan keluar dari gedung untuk langsung melakukan perjalanan ke Renhill.
__ADS_1
# # # # # # #
“Yang Mulia, apakah selain pangeran Enzo Yang Mulia memiliki saudara lain di Renhill?” Pertanyaan dari Deanda cukup membuat Alvero mengernyitkan dahinya.
“Tidak ada. Tapi kalau Enzo, dia memiliki beberapa saudara yang berasal dari pihak mamanya. Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?” Alvero balik bertanya tanpa melepaskan genggaman salah satu tangannya, dari tangan Deanda sejak mereka berdua masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan ke Renhill, sedang tangannya yang lain sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya, dan kadang handphone yang sesekali berdering, panggilan dari beberapa rekan bisnisnya.
“Tidak, hanya saja aku sedang berpikir siapa yang sedang ditemui oleh Alaya di Renhill. Jika dia memang adik kandungmu, berarti sebenarnya dia tidak memiliki kerabat di Renhill selain pangeran Enzo. Tapi tidak mungkin dengan tiba-tiba Alaya menemui pangeran Enzo tanpa pangeran Enzo memberimu info apapun, apalagi pangeran Enzo pasti belum mengetahui info tentang kemungkinan Alaya adalah adik kandungmu.” Deanda berkata sambil menarik nafas panjang.
“Jadi… apa yang sedang kamu pikirkan sweety?”
“Aku merasa begitu penasaran dengan orang yang sedang ditemui oleh Alaya di Renhill, dan seberapa penting pertemuan itu sehingga Alaya harus meminta ijin tidak masuk ke kantor hari ini, seolah itu adalah pertemuan yang tidak bisa ditunda lagi.” Deanda kembali mengutarakan apa yang ada di pikirannya, membuat Alvero mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sedikit memajukan bibirnya.
“Kamu selalu memikirkan segala kemungkinan dengan baik. Mempertimbangkan dengan baik apa yang bisa menjadi sebab musabab setiap kejadian. Analisamu sungguh bagus. Kamu memang pantas menjadi permaisuri Gracetian.” Alvero berkata sambil menutup laptopnya dan meletakkannya dengan sembarangan di bawah kakinya, lalu kedua tangannya bergerak dengan cepat merengkuh Deanda dalam pelukannya.
“Yang benar saja Yang Mulia. Apa kalau aku hanya gadis biasa yang tidakt erlalu pintar Yang Mulia tidak akan memilihku sebagai permaisuri?” Deanda berkata dengan memanyunkan bibirnya, dengan sikap terlihat seperti orang yang sedang marah.
Alvero langsung tertawa kecil melihat protes dari Deanda yang baginya justru terlihat begitu menggemaskan, bukan menakutkan karena Alvero tahu bahwa kemarahan Deanda hanyalah sekedar pura-pura, justru terlihat seperti gadis yang sedang merayu kekasihnya.
__ADS_1