
Tubuh Alvero tersentak kaget melihat apa yang dilakukan Deanda, ditambah dengan suara tangis Deanda yang baginya terdengar begitu menyedihkan, sesuatu yang selama ini belum pernah dia lihat Deanda bersikap seperti itu.
“Sweety… apa kamu baik-baik saja? Apa tubuhmu ada yang terasa sakit? Kenapa menangis?” Alvero berbisik dengan lembut sambil tangannya mengelus-elus bagian belakang kepala Deanda agar istrinya merasa nyaman dan lebih tenang.
“Yang Mulia….” Deanda kembali memanggil Alvero, sebelum akhirnya tangisnya bertambah keras, membuat pakaian Alvero di bagian dada semakin basah oleh airmata Deanda.
“Sweety…. Ada apa?” Dengan gerakan lembut, Alvero mencoba untuk menjauhkan wajah Deanda dari dadanya, agar dia bisa memandang wajah istrinya dan memberikan penghiburan, namun pelukan Deanda justru semakin erat.
Dan tangis Deanda justru semakin keras terdengar, membuat Alvero langsung memberikan tanda kepada Ernest agar dia dan tim dokter untuk sementara waktu meninggalkan ruangan itu, agar Deanda bisa bebas menyampaikan apapun yang ada di pikirannya kepadanya tanpa merasa canggung.
“Yang Mulia, kenapa dia begitu kejam padaku? Sengaja membiarkan aku berpikir bahwa aku sudah kehilangan seorang ayah, yang termyata justru pergi meninggalkanku tanpa perduli bagaimana kehidupanku di sini bersama yang lain. Apa dia terlalu malu untuk menganggapku sebagai seorang anak? Apa aku sudah melakukan hal buruk dan memalukan, sehingga dia memilih meninggalkanku tanpa mengatakan apapun padaku?” Deanda berkata dengan nafas sedikit tersengal-sengal karena tangisnya, sekaligus menahan rasa nyeri dan sesak yang menghantam dadanya mengingat bagaimana selama belasan tahun ini dia harus berjuang seorang diri, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya ayahnya ternyata masih hidup, dan justru memilih untuk hidup bersama orang lain dibanding dengan dirinya sendiri, dalam kurun waktu yang cukup lama.
Ayah? Apa laki-laki yang bersama Alaya tadi adalah papa Alexis? Apa hal seperti itu mungkiin terjadi? Apa itu artinya selama ini papa Alexis masih hidup? Berpura-pura sudah meninggal? Apa tujuan dia dengan melakukan semua itu? Sesuatu yang terlalu tidak adil bagi Deanda sebagai putri kandungnya.
Alvero berkata dalam hati sambil mengernyitkan dahinya, mencoba menebak-nebak arah pembicaraan Deanda. Siapa sebenarnya yang sedang dibicarakan oleh Deanda sekarang, yang sepertinya cukup membuat Deanda sedih dan tertekan.
__ADS_1
“Sweety… katakan padaku, apa yang sedang kamu maksudkan? Katakan padaku dengan perlahan-lahan. Kamu harus tenang. Jika kamu emosi seperti ini tidak akan baik untuk dirimu sendiri.” Alvero berkata lembut sambil mencoba kembali menjauhkan tubuh Deanda dari tubuhnya.
Awalnya, begitu Deanda tersadar dari pingsannya, Alvero ingin segera menceritakan kepada Deanda tentang kabar kehamilannya yang membahagiakan. Tapi melihat kondisi Deanda saat ini, untuk sementara waktu Alvero sengaja menunda rencananya, sampai Deanda terlihat lebih tenang.
“Aku… aku….” Deanda yang akhirnya menjauhkan dirinya dari Alvero berusaha mengatakan apa yang sedang dia rasakan kepada suaminya, tapi lidahnya terasa kelu, dengan air matanya masih mengalir dengan deras, membuat nafas Deanda terlihat begitu tersengal-sengal, membuat Alvero langsung mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata di pipi Deanda.
Dengan gerakan pelan Deanda berusaha bangun dari berbaringnya. Dan Alvero langsung bergerak cepat untuk membantu istrinya yang begitu duduk langsung bersandar di sandaran tempat tidur.
“My sweetheart, tenangkan dirimu.” Alvero berkata pelan sambil mencium kening Deanda, berharap istrinya bisa mengendalikan emosinya.
“My Al… suasana hatiku hari ini… benar-benar buruk.” Deanda berkata pelan.
“Ceritakan padaku sweety, aku akan berusaha membantumu sebisa mungkin.” Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya di kursi, beralih duduk di pinggiran tempat tidur, tepat di samping Deanda.
“Laki-laki yang tadi ada bersama Alaya…. Dia… dia adalah papaku. Alexis… Federer.” Walaupun saat mendengar kata-kata Deanda setelah tersadar tadi menunjukkan bahwa laki-laki yang bersama Alaya adalah Alexis.
__ADS_1
Akan tetapi begitu Alvero mendengar dari bibir Deanda sendiri bahwa laki-laki itu benar adalah Alexis, tetap saja membuat Alvero merasa begitu kaget.
“Ah….” Sebuah lenguhan singkat dan pelan terdengar dari bibir Alvero begitu Deanda mengatakan kebenaran itu.
Pantas saja Deanda terlihat sangat terguncang tadi. Sampai wanita sekuat dia jatuh pingsan. Pasti kebenaran ini tidak akan mudah bagi Deanda untuk menerimanya. Apalagi kondisi Deanda yang sedang hamil, menyebabkan emosinya menjadi labil karena pengaruh hormon akibat kehamilannya. Hah, aku harus benar-benar bisa menjadi penengah yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka berdua saat mereka bertemu kembali nanti. Karena sepertinya ini bukan hal sederhana, dan kemungkinan besar apa yang dilakukan oleh papa Alexis berkaitan erat dengan keberadaan Alaya. Dan jika benar dia adalah adik kandungku, urusan ini pasti akan semakin rumit.
Alvero berkata dalam hati sambil menatap lembut ke arah permaisurinya yang terlihat sudah mulai tenang. Airmata di pipinya juga terlihat sudah mulai berhenti mengalir walaupun matanya terlihat masih terlihat merah dan sembab.
“Sweety… kita berdua pasti bisa menyelesaikan semua masalah ini. Aku akan melakukan pembicaraan dengan Alaya dan papa Alexis. Selain untuk memastikan tentang status Alaya. Aku juga akan mencari tahu penyebab papa Alexis dengan teganya meninggalkanmu selama belasan tahun tanpa kabar berita dan membiarkan semua orang berpikir bahwa dia sudah meninggal. Walaupun alasan apapun aku juga tidak bsia mendukung bagaimana seorang ayah meninggalkan anaknya tanpa pesan padahal sebelumnya tidak ada masalah di keluarga kalian. Tapi sebagai pemimpin, kita harus belajar mendengar masalah apapun dari dua sisi. Kita tidak bisa bersikap tidak mau tahu dan menganggap pemikiran kita adalah yang paling benar.” Alvero berkata sambil merengkuh bahu Deanda, dan membawanya mendekat ke arah tubuhnya.
Dengan gerakan pelan Alvero menggerakkan tangannya ke arah kepala Deanda, dan membiarkan kepala istri tercintanya bersandar di bahunya, membuat hati Deanda merasa semakin lebih tenang.
“Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?” Setelah beberapa saat berlalu dan melihat nafas Deanda mulai terdengar teratur, Alvero bertanya sambil menoleh ke wajah Deanda, berusaha memastikan bahwa Deanda sudah lebih baik sekarang.
“My Al… apa aku egois jika aku merasa sakit hati dan kecewa dengan apa yang sudah dilakukan papa padaku? Jika aku memiliki perasaan seperti itu, apakah aku bisa disebut sebagai anak durhaka?” Deanda berkata dengan suara lirih, membuat hati Alvero ikut merasa trenyuh mendengar perkataan istrinya yang merasa tidak dianggap dan dibuang.
__ADS_1
Dari wajah sedihnya, Alvero tahu saat ini Deanda sedang merasakan sebuah perasaan ditolak dan tidak disayangi oleh orang yang memiliki hubungan dekat dengannya. Dan itu pasti sungguh menyakitkan.