
“Jika benar papa Alexis dicabut gelarnya karena melakukan pelecehan terhadap ibu suri Eliana, kenapa… sejak awal yang mulia mengumumkan tentang keinginan yang mulia menikahiku di depan anggota keluarga kerajaan yang lain, yang mulia Vincent bahkan tidak menunjukkan penolakan sama sekali. Beliau selalu bersikap ramah kepadaku. Yang mulia Vincent pasti tahu tentang latar belakang keluargaku, termasuk kasus yang menimpa papa Alexis. Dan sebagai seorang papa yang baik, dia tidak mungkin akan membiarkan anaknya menikah dengan seorang gadis berlatar belakang keluarga yang cacat seperti aku.” Perkataan Deanda sukses membuat semua yang hadir di sana tersentak kaget.
Apa yang dikatakan oleh Deanda benar sekali, seorang raja tidak mungkin akan membiarkan seorang putra mahkota, calon raja berkutnya menikah dengan sembarang gadis. Kalaupun gadis itu berasal dari golongan rakyat biasa, paling tidak latar belakang keluarganya haruslah bagus dan tidak memiliki cacat, bersih… tidak memiliki catatan kriminal, apalagi pernah mendapatkan tuduhan pelecehan terhadap seorang permaisuri Gracetian. Tapi sejak awal, Vincent yang pasti sudah tahu tentang siapa Deanda dengan detail bahkan tidak pernah sekalipun menghalangi pernikahan Alvero dan Deanda.
Sebuah pertanyaan besar yang berhasil membuat semua yang ada di tempat itu mengernyitkan dahi dengan wajah bertanya-tanya, berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing kenapa hal seperti itu bisa terjadi. Ada rahasia besar apa dibalik pencabutan gelar Alexis yang tidak dijelaskan di surat keputusan yang sepertinya sengaja disembunyikan dari khalayak umum oleh Vincent.
Melihat Vincent tidak mempermasalahkan keberadaan Deanda sebagai calon istri Alvero saat itu, menunjukkan Vincent juga tidak keberatan terhadap gadis pilihan Alvero yang ayahnya memiliki latar belakang suram. Dan hal yang lebih aneh lagi adalah bagaimana justru tepat di hari pernikahan Alvero dan Deanda, dengan sengaja Vincent menyerahkan tahtanya kepada Alvero yang jelas-jelas menikahi gadis keturunan dari Federer, yang pernah dituduh melakukan pelecehan terhadap Eliana.
“Alvero… apa mungkin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh uncle Vincent tentang masalah ini?” Enzo bertanya sambil matanya menatap ke arah Alvero yang tampak sedang berpikir keras, berusaha menganalisa kasus hari ini.
“Enzo, setelah acara ulang tahunmu, aku akan ikut denganmu ke kota Renhill. Aku akan tanyakan sendiri kepada papa tentang kasus aneh ini. Erich, pastikan pada saat aku ke kota Renhill, aku bisa bertemu yang mulia Vincent secara pribadi tanpa diketahui oleh banyak pihak, supaya tidak menimbulkan kecurigaan Eliana kita sudah mulai bergerak mencari semua bukti dan info terkait kejahatannya. Ernest, awasi pergerakan orang-orang yang kita curigai sebagai kaki tangan Eliana di istana.”
__ADS_1
“Baik Yang Mulia!” Erich dan Ernest langsung menjawab singkat perintah dari Alvero.
“Sweety, tenang saja, kita akan segera bisa menemukan jawaban dari pertanyaanmu itu. Untuk besok… aku ada rencana, bagaimana kalau kita temui uncle Marcello dan Red? Aku harap mereka berdua bsia memberikan kita sedikit info tentang peristiwa pencabutan gelar knight milik papa Alexis. Untuk saat ini kita tidak mungkin mengunjungi Goldie Tavisha, atau Eliana akan curiga. Lebih baik, kita melakukan kunjungan ke rumah uncle Marcello dan mengundang Red kesana. Bagaimana sweety?” Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung menganggukkan kepalanya.
“Aku akan mengatur semuanya. Aku akan minta kepada Red untuk bisa mengunjungi uncle Marcello besok pagi.” Deanda berkata sambil menarik nafas panjang, berharap dengan pertemuan mereka besok dia bisa mendapatkan titik terang terhadap peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Dan jika saja tuduhan itu adalah hasil rekayasa, Deanda ingin agar nama baik papanya bisa dipulihkan.
“Erich, bereskan semua berkas itu dan kembalikan semua pada tempatnya sesegera mungkin. Jika terlalu lama di tangan kita, aku khawatir orang akan curiga kita berusaha menyelidiki kembali peristiwa yang sudah berlalu cukup lama ini.” Alvero langsung memberikan perintah kepada Erich.
“Malam ini kami akan menginap di sini. Ernest, hari ini coba kamu pelajari data yang dikirimkan Ornado kepadaku, tentang sosok yang ditemui oleh sopir Eliana di hotel waktu itu. Data lengkap tentang orang itu sudah aku kirimkan melalui email. Kita harus bergerak cepat karena kita benar-benar tidak tahu sudah sejauh dan sekuat apa Eliana menyiapkan orang-orangnya untuk merusak kerajaan.” Enzo langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Alvero.
__ADS_1
“O, ya, kamu juga harus mengatur waktumu untuk bertemu Alea, dia mengatakan dia sudah meminta Rock untuk membantu melakukan penyelidikan terhadap Eliana selama ini di istana. Menurut Alea, Rock menemukan ada beberapa kejanggalan terkait dengan masalah keuangan di istana. Ada aliran dana yang tidak jelas di sana, bahkan beberapa transaksi dicurigai mengarah ke pembelian senjata yang tidak berhubungan dengan kerajaan. Aku curiga Eliana melakukan transaksi pembelian senjata gelap untuk kelompoknya.” Mendengar perkataan Alvero, dahi Enzo semakin mengerut.
“Hah, wanita ular satu itu benar-benar tidak bisa dimaafkan. Kalau saja ini masih di jaman kerajaan kuno, aku akan memberikan hukuman penggal begitu berhasil menemukan bukti-bukti kejahatan wanita itu!” Perkataan Enzo yang disertai dengan nada marah dan jengkel membuat Deanda sedikit tersentak.
Hukuman penggal? Mendengar kata-kata sadis dari bibir Enzo yang terbiasa bercanda membuat Deanda sadar. Di balik sikap tidak perduli dan suka bercandanya, saat menghadapi masalah serius, bahkan Enzo terlihat lebih emosional daripada Alvero. Sebuah sisi lain dari Enzo yang baru kali ini dilihat oleh Deanda.
“Ah, jangan menatapku seperti itu Deanda. Aku terbiasa tidak bisa menahan emosiku jika itu berkaitan dengan Eliana. Wanita itu sebenarnya tidak hanya mengejar Alvero, dia juga mengincarku sebagai pangeran Adavino, hanya saja keberadaan kedua orangtuaku membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas untuk mengancamku. Satu alasan kenapa aku memilih kleuar dari istana juga karena tidak tahan harus hidup di dalam istana bersama wanita ular itu.” Enzo berkata sambil tersenyum ke arah Deanda yang berangsur-angsur pulih dari kagetnya, menyadari Enzo bisa berubah dalam situasi tertentu.
“Ambisi wanita itu terlalu menakutkan.” Enzo manambahkan kata-katanya sambil meraih sebotol air mineral berukuran sedang dari atas meja, meneguknya sampai tandas untuk mendinginkan kepalanya yang sedikit panas.
“Yang Mulia… kami akan kembali ke tempat yang sudah ditugaskan oleh Yang Mulia. Kami akan segera menyelesaikannya.” Ernest berkata sambil bangkit dari duduknya, disusul oleh Erich.
__ADS_1
“Baiklah, kalian harus hati-hati di jalan. Perhatikan sekelilingmu dengan baik. Aku yakin saat ini Eliana juga sedang merencanakan sesuatu karena posisi permaisuri sudah tidak dimilikinya lagi, artinya, kekuasaannya sudah banyak berkurang.”
“Ya Yang Mulia. Kami akan pergi, selamat beristirahat.” Ernest dan Erich memberikan salam penghormatan sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar Enzo.