
"Tunggu sebentar sweety. Tahan sedikit lagi ya rasa laparmu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu sebelum kita menikmati makan siang kita." Alvero berbisik lembut ke telinga Deanda yang langsung mengangguk walaupun tidak mengerti kenapa tiba-tiba Alvero menghalanginya untuk tidak membuang waktu, segera menikmati menu makan siangnya.
"Avitus! Kemarilah!" Avitus yang sudah membalikkan tubuhnya dan berniat keluar dari penthouse dan di antar oleh Ernest langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan dari Alvero.
"Kemari sebentar!" Begitu Avitus membalikkan tubuhnya kembali, Alvero segera mengulang perintahnya kepada Avitus agar mendekat ke arah mereka, sambil memberikan tanda memanggil dengan tangannya.
Melihat Avitus yang masih berdiri di tempatnya, dan tidak bergerak, dengan gerakan cepat Ernest merentangkan tangannya ke arah meja makan, mempersilahkan Avitus agar kembali mendekat ke arah Alvero.
Kenapa yang mulia memanggilku kembali? Apa ada yang salah?
Avitus bertanya-tanya dalam hati, dan dengan sikap ragu melangkah mendekat kembali ke arah meja makan dimana Alvero berdiri di samping Deanda sambil memeluk erat bahu Deanda, terlihat jelas bahwa Alvero menunjukkan bahwa dia begitu ingin melindungi Deanda.
"Avitus. Apa kamu yakin sudah mencicip semua makanan ini, dan semuanya sudah kamu pastikan aman?" Dengan tatapan mata tajam, Alvero bertanya kepada Avitus yang langsung terlihat gugup mendengar pertanyaan Alvero yang terdengar seperti orang yang menaruh kecurigaan padanya.
"I... iya Yang Mulia. Sudah, dan semuanya aman." Avitus berkata dengan sedikit menundukkan kepalanya, seolah sengaja menghindari tatapan mata Alvero yang sedang menatap lurus ke arahnya dengan tatapan tajam, wajah serius, tanpa senyum sedikitpun.
Sesuatu yang biasa dilakukan oleh Alvero jika ada sesuatu yang dianggapnya tidak beres atau menyulut amarahnya.
"Ernest, ambilkan piring dan sendok agar Avitus kembali mencicip semua masakan ini." Mendengar bagaimana perintah dari Alvero, Avitus sedikit tersentak kaget, dan langsung melirik ke arah Ernest yang langsung melaksanakan perintah Alvero, walaupun dengan tatapan yang terlihat jelas, bahwa Ernestpun sebenarnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Tapi Ernest memilih untuk diam dan segera melaksakan permintaan Alvero tanpa banyak bertanya.
"Ta... tapi Yang Mulia... saya sudah mencicip semuanya tadi...." Avitus berkata dengan nada suara yang terdengar tidak tenang, karena baru kali ini Alvero memintanya untuk mengulang pekerjannya dalm mencicip masakan.
"Tidak masalah Avitus. Aku hanya ingin memastikan sekali lagi kalau semua makanan itu aman. Karena hari ini permaisuri Deanda merasa perutnya sedikit tidak nyaman. Aku tidak mau ada masalah dengan semua makanan itu." Alvero berkata sambil tangannya yang sedang melingkar di bahu Deanda memberi tanda kepada Deanda agar tidak menyangkal apa yang barusan Alvero katakan tentang kondisi perutnya.
Melihat Alvero berusaha menghalanginya untuk mengatakan bahwa perutnya baik-baik saja, Deanda hanya bisa sedikit mengernyitkan dahinya sambil memandang ke arah Alvero yang terlihat sedang menatap ke arah Avitus dengan tatapan tajam sekaligus menyelidik.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang sedang direncanakan oleh yang mulia terhadap tuan Avitus? Kenapa suasana berubah menjadi setegang ini? Lebih baik aku diam saja dan mengikuti alur, sambil melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Deanda berkata dalam hati sambil melihat bagaimana Avitus mulai mencicip satu persatu masakan yang ada di meja dengan gerakan canggung.
"Semua makanan ini baik-baik saja Yang Mulia." Begitu mendengar perkataan Avitus, Alvero melepaskan lengannya yang melingkar di bahu istrinya, dan berjalan mendekat ke arah Avitus.
"Sepertinya, ada satu masakan yang lupa untuk kamu cicip Avitus. Kamu melupakan cassoulet. Walaupun aku sangat tidak suka dengan makanan mengandung kacang, tapi itu menu yang cukup disukai oleh pemaisuri. Jadi pastikan bahwa cassoulet itu juga baik-baik saja." Alvero berkata dengan nada suara biasa-biasa saja, tapi dari tatapan matanya, Avitus tahu, saat ini, raja Gracetian itu sedang berusaha keras menahan amarahnya.
(Cassoulet adalah semacam kaserol, campuran antara sosis dan kacang putih yang dimasak bersama dalam sebuah panci. Makanan ini sedikit menyerupai sup, namun memiliki tekstur kuah yang jauh lebih kental dan rasa yang lebih berat. Satu porsi Cassoulet bisa membuat anda merasa kenyang karena kandungan lemak yang sangat tinggi di dalamnya. Makanan ini paling cocok disantap di hari-hari yang dingin, di depan perapian sambil bercakap-cakap bersama keluarga. Masakan yang berasal dari Perancis Selatan ini juga sudah mulai diadaptasi dengan menggunakan berbagai bumbu dan rempah-rempah yang bermacam-macam).
Mendengar perintah dari Alvero, tanpa sadar Avitus bergerak mundur dua langkah ke belakang dengan wajah kaget. Bahkan tanpa sadar, Avitus menggerakkan tubuhnya ke samping seperti orang yang berniat untuk melarikan diri.
__ADS_1
Melihat pergerakan dari Avitus yang mencurigakan, dengan cepat Erich yang sedari hanya mengamati dalam diam, dengan sigap menggerakkan tubuhnya untuk menghalangi gerakan dari Avitus, sehingga kepala Avitus hampir saja menabrak tubuh Erich yang langsung menggerakkan tangannya ke arah bahu Avitus, dan sedikit mendorongnya agar kembali mendekati meja makan, untuk melakukan perintah Alvero.
"Tadi saya sudah memastikan bahwa cassoulet itu baik-baik saja Yang Mulia." Dengan gugup, Avitus berkata kepada Alvero sambil memandang ke arah cossoulet itu tanpa berani menatap ke arah Alvero.
"Oooo... begitukah? Kalau begitu silahkan cicipi lagi cassoulet itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya sudah ok." Alvero berkata sambil memberikan kode kepada Ernest, agar mengambilkan cassoulet itu untuk Avitus.
Begitu Ernest menyodorkan piring berisi cassoulet itu ke arah Avitus, dengan cepat Avitus mengalihkan pandangannya dan menggerakkan tubuhnya untuk menjauh dari Ernest. Bahkan tanpa sadar tangan Avitus sedikit bergerak untuk menjauhkan piring yang sedang disodorkan oleh Ernest itu.
"Kenapa tidak mau mencicipinya? Apa karena kamu sudah mencampur cassoulet itu dengan racun!" Suara pertanyaan Alvero dengan nada tingginya membuat Avitus dengan susah payah menelan air ludah di tenggorokannya, yang tiba-tiba terasa begitu pahit dan sulit untuk ditelan.
Begitu Avitus hanya bisa menunduk, tanpa mau menerima piring berisi cassoulet yang disodorkan Ernest, dengan cepat Alvero maju mendekat ke arah Avitus.
"Kamu! Beraninya kamu berniat memberikan racun kepada permaisuriku! Apa kamu ingin mati sekarang juga!" Alvero berteriak dengan suara terdengar menggelegar karena begitu marah kepada Avitus.
Deanda sendiri, begitu mendengar teriakan dari Alvero langsung melangkah mundur ke belakang sambil memegang perutnya, dengan mata melotot karena begitu kagetnya.
Racun? Tuan Avitus berniat meracuni makananku dan yang mulia Alvero...? Apa tuan Avitus adalah mata-mata dari ibu suri Eliana? Ah, my baby.... Untung saja papamu bertindak dengan cepat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya kami jika sampai terjadi sesuatu padamu.
Deanda berkata dalam hati sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata, merasa bersyukur hari ini dia bisa terhindar dari hal mengerikan semacam itu.
__ADS_1