BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEMAKIN TERLIHAT TITIK TERANG


__ADS_3

Dalam beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan, Alvero juga mulai melihat bagaimana Dion berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dan Alvero tahu semua dilakukan Dion untuk menarik perhatian Deanda.


Di satu sisi, Alvero cukup kaget melihat perubahan besar pada Dion sejak adik tirinya itu terobsesi dengan sosok Deanda. Banyak pekerjaan yang dia lakukan tidak lagi seenaknya dan tidak lagi melakukan kesalahan fatal yang merugikan perusahaan.


Akan tetapi, Alvero yang mengetahui semua motif dari apa yang dilakukan oleh Dion, membuat Alvero semakin ingin menendang Dion keluar dari perusahaan Adalvino, jika ada kesempatan dan alasan yang bagus untuk itu.


“Karena obsesi gilanya padamu, dia melakukan itu! Dia berlatih cukup keras untuk bisa menjadi ahli dalam bidang itu! Sungguh konyol! Bahkan sampai dia menghabiskan 12 jam sehari untuk berlatih tidak akan bisa menandingiku yang sudah berlatih selama belasan tahun selama ribuan jam dengan baik.” Nada suara Alvero menunjukkan dengan jelas bahwa dia masih terlihat begitu emosi mengingat sosok Dion yang berusaha mencari kesempatan untuk mendekati istrinya saat dia tidak bersama Deanda tadi.


Melihat bagaimana kemarahan suaminya yang meledak-ledak karena Dion, Deanda langsung tersenyum dan mendekat ke arah Alvero, menggerakkan tangannya ke arah kepala Alvero dan mengelus lembut leher Alvero dengan jari-jari lentiknya.


“Tenanglah my Al. Kamu tahu pasti dia tidak memiliki kemampuan yang perlu membuat kita khawatir. Dengan kemampuannya, bahkan tidak perlu waktu lebih dari 1 menit untuk kita bisa menghajarnya jika dia berani macam-macam dengan kita. Dan yang pasti, apa kamu tahu syarat yang diberikan papa untuk laki-laki yang boleh menikahiku?” Perkataan maupun tindakan Deanda padanya membuat Alvero menarik nafas panjang, dan jujur saja itu membuat Alvero merasa jauh lebih tenang, dan kadar emosinya menurun dengan cepat.


“Memang adalagi? Syarat terakhir adalah bisa mengalahkanmu dalam hal beladiri. Dan itu sudah aku lakukan dengan baik.” Alvero berkata sambil menatap ke arah Deanda yang sedang tersenyum lembut ke arah Alvero.


“Ada satu syarat lain yang tidak disebutkan oleh uncle Marcello karena dia merasa tidak enak hati. Sebab yang melamarku saat itu adalah seorang putra mahkota Gracetian, dimana sebenarnya dia merasa tidak pantas mengajukan syarat-syarat itu.” Alvero langsung mengernyitkan dahinya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Deanda.


“Katakan padaku sweety, apa sebenarnya syarat itu? Apa aku tidak berhasil memenuhinya sampai sekarang? Kalau begitu, aku akan berusaha untuk memenuhinya sekarang. Belum terlambat kan?” Deanda langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar begitu banyaknya pertanyaan dari Alvero dengan wajahnya yang terlihat begitu penasaran.

__ADS_1


“Tidak, kamu sudah sejak lama bisa memenuhi syarat itu. Syarat terakhir dari papa Alexis waktu itu adalah, bahwa laki-laki yang ingin menikahiku, adalah laki-laki yang benar-benar aku cintai, jika tidak, semua syarat yang sudah dipenuhi sebelumnya dianggap gugur. Dan aku, sungguh mencintaimu my Al. Satu-satunya laki-laki yang pernah membuatku jatuh cinta dan tahu apa itu dan bagaimana indah dan rasanya cinta.” Deanda berkata sambil mencium mesra pipi suaminya, membuat Alvero langsung tersenyum sambil menggerakkan tangannya dengan cepat untuk memeluk tubuh Deanda.


“Papa Alexis sungguh pintar sudah membuat syarat-syarat seperti itu. Dan jika boleh menyombongkan diri, memang benar bahwa aku adalah satu-satunya laki-laki yang akan berhasil memenuhi semua syarat-syarat itu dengan baik. Aku yakin tidak akan ada pria lain yang sanggup melakukan semua syarat itu kecuali aku.” Begitu menyelesaikan kata-katanya, Alvero langsung meraih tengkuk Deanda, mengarahkan wajah cantik istrinya kepada wajahnya sendiri, dan mencium bibir Deanda dengan mesra dan perasaan penuh cinta yang memenuhi hatinya.


Deanda hanya bisa tertawa geli dalam hati mendengar bagaimana kata-kata suaminya yang terdengar begitu narsis, namun justru membuatnya semakin mencintai prianya itu. Karena bagi Deanda, suaminya itu, adalah benar merupakan satu-satunya pria yang bisa memenuhi semua syarat dari papanya, Alexis. Terutama syarat terakhir yang menyatakan bahwa laki-laki itu haruslah laki-laki yang dicintai oleh Deanda.


Bahkan bagi Deanda, dia amat sangat mencintai suami yang baginya adalah bagian dari nafas hidupnya, dimana dia tidak bisa lagi hidup tanpa Alvero di sisinya.


Dengan gerakan lembut pada akhirnya Deanda membalas ciuman dari suaminya dengan tidak kalah mesranya.


# # # # # # #


“Hei! Atur dulu nafasmu dengan baik Erich.” Alvero yang duduk di sofa yang ada di kamar tidurnya langsung berkata sambil telunjuknya terarah ke sofa kosong yang ada di depannya, memberi tanda kepada Erich agar duduk di sana sebelum meneruskan kata-katanya kembali.


“Maaf Yang Mulia, saya terlalu bersemangat sehingga tidak sabar untuk menyampaikan berita ini.” Alvero menaikkan salah satu sudut bibirnya mendengar perkataan Erich.


“Berita apa yang kamu bawa dari duke Evan? Sepertinya kamu terlihat senang dengan itu.” Alvero berkata sambil menatap ke arah Erich yang boleh dibilang sangat jarang tersenyum kecuali dalam kondisi tertentu untuk menunjukkan sedikit keramahan kepada orang lain, seperti pada saat berbicara dengan Marcello waktu di kamp pelatihan pasukan khusus waktu itu.

__ADS_1


Atau pada saat dia berusaha menjebak Emilio, menyamar sebagai orang lain atas perintah Alvero dan Deanda.


"Ok, lanjutkan bicaramu." Alvero yang sebenarnya juga tidak sabar mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh Erich, langsung memberikan perintah kepada Erich begitu dilihatnya Erich sudah jauh lebih tenang.


"Yang Mulia, menurut duke Evan, pelayan yang disebutkan oleh Alea memiliki tato kepala singa mengaum dengan matahari setengah lingkaran, dia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan keluarga Edarian. Tapi menurut penyelidikan duke Evan, dia merupakan salah satu kerabat jauh dari Rolland, sopir pribadi ibu suri Eliana." Alvero langsung mengernyitkan dahinya mendengar itu.


"Dan duke Evan juga sudah menemukan info penting tentang keberadaan wanita yang kita curigai pemilik dari plakat itu. Wanita yang menjatuhkannya di kamar yang mulia Vincent dan sempat melakukan pertemuan dengan ibu suri Eliana di Renhill. Sepertinya wanita itu memiliki hubungan dekat dengan ibu suri Eliana maupun tuan Rolland." Erich berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.


Sampai detik ini, pembicaraan tentang plakat selalu saja masih membuat luka di hati Erich terasa menyakitkan.


Yes! Finally, I got you!


Alvero berkata dalam hati sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman sambil menyipitkan matanya, merasa dia sudah menemukan benang merah antara Eliana dan kelompok para pemberontak itu.


"Rolland? Sopir pribadi Eliana yang wajahnya sungguh licik itu...?" Alvero bergumam pelan disambut oleh sebuah anggukan kecil dari Erich.


 

__ADS_1


 


__ADS_2