BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEJUTAN BESAR DARI ORNADO


__ADS_3

“Eh… De…. Permaisuri apa maksud perkataan Anda? Mohon Permaisuri tidak berbuat nekat. Di sana terlalu berbahaya untuk Permaisuri.” Alea langsung bertanya sambil memegang pergelangan tangan Deanda.


Rasa kaget dari Alea bahkan membuatnya lupa siapa Deanda, sehingga dengan cepat tangannya mencekal erat pergelangan tangan Deanda untuk mencegah tindakan Deanda, setelah mengatakan niatnya untuk ikut masuk ke dalam bunker Tavisha.


“Alea, kita harus segera memberi info kepada pasukan kita bahwa kemungkinan Eliana sudah berada di sana bersama Rolland. Ini sudah lebih dari 4 jam sejak Eliana menghilang dari rumah sakit. Dan kamu lihat dengan jelas, dari rekaman cctv menunjukkan bahwa Eliana memang sudah keluar dari lingkungan rumah sakit.” Deanda berkata sambil menatap dalam-dalam ke arah Alea yang wajahnya terlihat begitu bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya melihat bagaimana nekatnya Deanda.


Aku menemani Deanda ke tempat ini sudah merupakan kesalahan besar yang pasti akan membuat yang mulia Alvero memakiku habis-habisan. Dan sekarang Deanda meminta aku membiarkannya masuk ke wilayah bunker? Deanda…. Apa kamu ingin aku mati di tangan suamimu?


Alea melenguh dalam hati dengan berdiri mematung, karena saat ini dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia perbuat.


“Ayo kita berangkat sekarang! Kita tidak bisa lagi menunggu lebih lama lagi.” Alea yang beberapa saat melamun, berkutat dengan pikirannya yang kacau langsung tersentak kaget begitu mendengar ajakan dari Deanda.


“Permaisuri….” Alea berkata dengan mata terbeliak, karena di dekat Deanda sudah berdiri 5 orang, dimana dua diantaranya adalah orang yang tadinya mengantar teman-temannya yang terkena ledakan ranjau kembali ke posko pengintaian untuk diobati.


Deanda sendiri tampak sedang memasang peluru pada pistol yang dipegangnya. Dan dengan sikap percaya diri, Deanda mencoba mengarahkan pistol itu ke depan dengan kedua tangan lurus di depan memegangnya, dengan sikap siap menembak.


“Aku akan pergi menyusul yang mulia Alvero. Kalau kamu merasa tidak nyaman untuk pergi bersamaku, kamu boleh tinggal di sini.” Deanda berkata sambil menepuk bahu Alea, yang hanya bisa menahan nafasnya sebelum akhirnya meraih senapan serbu yang tergeletak di dinding luar posko pengintaian, di dekat kaki salah seorang anggota pasukan khusus yang bertugas berjaga di posko pengintaian mereka.


Kali ini sepertinya aku akan benar-benar mati di tangan yang mulia Alvero. Selamat tinggal negeriku yang indah Gracetian.


Alea berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang dengan sikap pasrah.


“Alea! Aku akan ikut dengan kalian.” Tiba-tiba saja Rock muncul sambil membawa sebuah notebook berukuran cukup kecil.

__ADS_1


“Eh, Rock? Yang akan kita hadapi adalah para anggota kelompok pemberontak yang sudah terlatih. Bukannya aku meremehkan kemampuanmu dalam beladiri. Tapi, jika berhubungan dengan computer, mungkin kamu memang yang terbaik, tapi kemampuanmu untuk….”


“Aku harus ikut. Aku perlu menghancurkan sistem penghalan sinyal yang mereka pasang, tapi aku hanya bisa melakukannya jika berada pada jarak yang dekat dengan dengan alat pengendalinya.” Rock langsung memotong perkataan Alea, sambil menunjuk ke arah notebook yang dibawanya.


“Tidak apa Alea, semakin banyak orang, dengan keahlian mereka masing-masing, kemungkinan kita berhasil akan semakin besar.” Deanda langsung menengahi permbicaraan Alea dan Rock.


“Baik Permaisuri, kita pergi sekarang. Mohon jangan menjauh dari kami. Tetaplah berada dalam kelompok agar kami bisa selalu melindungi Yang Mulia Permaisuri.” Alea berkata dengan nada pasrah, karena dia tahu tanpanya, Deanda akan tetap menerobos masuk ke dalam bunker itu untuk bertemu Alvero.


“Ok, ayo kita berangkat sekarang.” Deanda berkata sambil tersenyum, membuat Alea hanya bisa meringis melihat Deanda yang seolah tidak perduli bahwa tindakannya akan membawa bencana besar untuk Alea karena kemarahan Alvero padanya.


# # # # # # #


“Malam ini kita akan berpesta! Cepat buka kotak-kotak senjata itu!” Rolland berkata sambil menunjuk ke arah peti-peti kayu yang baru kemarin malam sampai di bunker.


Dan Rolland merasa begitu senang karena kedatangan senjata-senjata itu sungguh tepat waktu. Saat pasukan Alvero berusaha menyerang di bunker Tavisha, senjata-senjata itu sudah datang, membuat Rolland merasa begitu percaya diri bisa melibas habis pasukan Alvero malam ini.


“Aku tidak sabar melihat bagaimana tubuh para pasukan Alvero hancur karena tembakan atau ledakan dari senjata-senjata ini. Dor dor dor! Boom!” Rolland berkata sambil tertawa miring, dengan tangannya melakukan gerakan seperti orang yang sedang menembak.


Membayangkan bagaimana banyak mayat akan bergelimpangan dari pihak Alvero malam ini membuat Rolland begitu bersemangat dan bahagia.


“Ayolah! Lambat sekali kalian!” Rolland berteriak sambil bangkit dari duduknya, berjalan ke arah peti-peti kayu tersebut.


“Hei! Apa yang kalian lihat! Apa di kotak itu ada hantunya?” Rolland kembali berteriak sambil melotot karena melihat anak buahnya yang tidak segera bergerak cepat mengambil senjata-senjata itu begitu peti terbuka.

__ADS_1


Mereka justru diam mematung dengan mata memandang ke arah dalam peti dengan wajah terlihat bingung, bahkan takut.


“Haist! Apa sebenarnya yang sedang kalian lihat?” Rolland mengomel sambil menatap ke arah peti-peti yang sudah terbuka.


Begitu melihat apa yang ada di dalam peti, mata Rolland langsung melotot, karena di sana hanya terdapat pistol-pistol mainan anak-anak yang terbuat dari plastik.


Di bagian paling atas tergeletak selembar kertas bertuliskan: SURPRISE, LET'S PLAY!


Selain itu terdapat bola-bola karet berwarna-warni, dan juga bebek-bebek karet beraneka ukuran. Dengan geram, Rolland meraih salah satu bebek karet itu dan melemparnya kuat-kuat ke lantai, menimbulkan sebuah suara cit cukup keras. Ciri khas bunyi dari bebek karet jika pada bagian tubuhnya ditekan.


“Apa-apaan ini? Siapa yang berani bercanda denganku!” Rolland berteriak histeris.


“Aku menghabiskan banyak uang bukan untuk membeli sampah seperti ini!” Rolland kembali berteriak dengan mata melotot dan terlihat begitu merah karena amarahnya yang memuncak.


Mata Rolland langsung memandang ke sekelilingnya. Begitu dia menemukan orang yang bertugas menerima peti-peti tersebut, dia langsung mendekati orang tersebut dan menarik krah pakaiannya dengan erat.


“Katakan padaku! Dimana peti-peti senjataku kamu sembunyikan!”


“Maaf Tuan Rolland, aku melakukan semuanya sesuai perintahmu, aku membawa barang-barang itu dari orang yang sudah menurunkannya dari kargo pesawat. Dan seperti yang Tuan lihat, semuanya masih tersegel. Saya tidak melakukan apapun terhadap semua senjata itu.” Dengan wajah ketakutan laki-laki itu menjawab pertanyaan Rolland.


(Kargo (dari bahasa Spanyol: cargo) mengacu kepada barang yang diangkut untuk kepentingan komersial yang umumnya oleh kapal, kereta api, truk atau pesawat terbang. Pada masa sekarang ini peti kemas digunakan untuk transportasi kargo. Kargo juga dapat mengacu kepada "barang bawaan" atau "bagasi").


“Shit! Dimana orang kita yang bertanggung jawab atas transaksi jual beli senjata ini! Bukannya harusnya dia juga ada di sini sekarang?” Rolland berteriak sambil memukul wajah laki-laki di depannya hingga jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


__ADS_2