BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PEMBICARAAN ALVERO DAN ENZO


__ADS_3

"Sejak kapan teknik bermain caturmu meningkat begitu pesat?" Enzo bertanya sambil menjalankan kembali bidak caturnya setelah beberapa lama harus berpikir keras sebelum melakukan gerakan selanjutnya.


"Sejak beberapa waktu lalu, hanya kamu saja yang tidak menyadari perkembanganku. Karena sekarang aku sudah menemukan guru yang hebat. Salahkan dirimu sendiri yang mendapatkan gelar grandmaster dalam dunia pecaturan, tapi tidak bisa menghasilkan murid yang mumpuni. Kalau aku terus mengandalkanmu untuk mengajariku catur, hasilnya pasti akan seperti itu-itu saja." Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda, meminta petunjuk bidak mana yang harus dia gerakkan untuk mengimbangi gerakan bidak milik Enzo, agar Alvero tidak melakukan blunder.


(Blunder adalah langkah yang sangat buruk yang menyebabkan kehilangan banyak bidak, bahkan hingga menyebabkan kekalahan).


“Ya… ya…. Salahkan terus saja aku. Memang aku bukan pengajar yang baik.” Enzo berkata sambal matanya mengawasi arah mata Alvero yang sedang mengamati bidak catur miliknya.


"Lakukan interpose pada bidak rajamu menggunakan benteng. Agar perhatian pangeran Enzo teralihkan. Setelah itu lakukan double attack menggunakan ratumu." Deanda berbisik lirih ke arah Alvero yang membuat Enzo mengeryitkan dahinya, karena dia tidak tahu apa yang sedang dibisikkan Deanda kepada Alvero, tapi Enzo tahu setelah ini pasti Alvero akan melakukan gerakan bidak yang tidak biasanya lagi.


(Interpose disebut juga sebagai "block", yaitu meletakkan bidak yang biasanya lebih lemah di depan yang lebih kuat untuk menghalangi penangkapan oleh lawan. Sedangkan double attack adalah jenis khusus dari discovered attack atau discovered check. Terjadi ketika dua bidak menyerang raja lawan sekaligus. Langkah ini sangat mematikan karena tidak bisa dihentikan dengan menangkap atau menghalau bidak manapun).


"Enzo, setelah perayaan ulang tahunmu, aku harap kamu bisa secepatnya ke Renhill. Bertemu langsung dengan duke Evan, karena Evan ingin mendiskusikan sesuatu tentang keberadaan wanita itu. Kamu tahu kamu adalah orang yang paling tepat untuk berangkat ke Renhill. Karena keluargamu menguasai sebagian besar kota itu." Alvero berkata sambil menggerakkan bidak caturnya yang berupa benteng seperti yang baru saja dikatakan oleh Deanda, membuat Enzo kembali mengernyitkan dahinya.


Wah... Alvero benar-benar sudah menemukan guru yang hebat. Sepertinya aku memiliki perasaan buruk tentang hal ini. Bisa-bisa hari ini aku dikalahkan oleh Alvero yang sudah dibantu oleh Deanda. Kali ini aku salah sudah meremehkan Alvero karena berpikir kemampuan bermain caturnya masih seperti biasanya.

__ADS_1


Enzo berkata dalam hati sambil mengamati bidak catur miliknya yang sudah berpindah keluar dari atas papan catur ke hadapan Alvero dan Deanda karena sudah dikalahkan oleh mereka berdua.


"Tidak masalah. Aku akan segera berangkat ke Renhill paling lambat 3 hari lagi. Sekalian aku juga harus mengecek usaha properti keluargaku di sana. Aku akan menemui duke Evan saat berada di sana, sekalian menjenguk uncle Vincent. Aku dengar uncle Vincent sudah dipindahkan ke villa keluargaku di Renhill." Alvero menganggukkan kepalanya sambil mengamati gerakan bidak catur Enzo selanjutnya.


"Papa mengatakan dia merasa lebih nyaman menjalani masa pemulihan di villa keluargamu daripada di rumah sakit. Bagiku itu justru pemikiran yang tepat, agar Eliana tidak bisa dengan bebas untuk ikut campur dalam pengobatan papa." Alvero berkata dengan mata hazelnya yang indah terlihat muram.


Entah sampai berapa lamapun setiap Alvero menyebutkan nama Eliana seperti membuka luka lama yang tak kunjung sembuh walaupun apapun yang dialaminya bersama Eliana itu sudah lewat belasan tahun yang lalu.


"Aku dengar kamu tidak mau mengambil tenaga medis satupun dari rumah sakit di Gracetian?" Enzo bertanya sambil memandang ke arah Alvero, sengaja mengalihkan pandangannya dari papan catur untuk mengistirahatkan otaknya sebentar, karena menghadapi permainan catur Alvero kali ini benar-benar menguras otaknya.


"Ah ya, bagaimana kabar sahabat kita yang satu itu? Semoga pernikahannya berjalan dengan lancar. Di acara pernikahan kalian aku tidak bisa banyak mengobrol dengannya karena banyaknya tamu yang harus aku sapa. Lagipula dengan sosok hebatnya Ornado berhasil membuat dirinya seperti seorang artis yang datang ke pernikahan sahabatnya, begitu banyak pengusaha, pemimpin negara lain dan para bangsawan yang berusaha mendekatinya. Tapi kondisi uncle Vincent sepertinya masih memerlukan perawatan lebih lama lagi. Apakah untuk selanjutnya dokter Ornado akan tetap menangani uncle?" Perkataan Enzo membuat Alvero menahan nafasnya sekilas sebelum menjawabnya.


"Ornado mengatakan bahwa sampai berapa lamapun kita memerlukan dokternya untuk tetap tinggal di Gracetian, dokter dan timnya akan tinggal. Aku berpikir mungkin dalam waktu sebulan dua bulan ini sampai papa benar-benar pulih ada baiknya dokter milik Ornado yang menangani papa. Ada sesuatu yang papa curigai dengan obat yang selama ini dia konsumsi, dan tim dokter dari Italia itu sedang melakukan analisa menyeluruh terhadap kondisi kesehatan papa dan akan melakukan cek darah untuk mulai meneliti selama ini obat apa saja yang sudah dikonsumsi oleh papa. Karena itu aku minta kamu ke Renhill untuk memastikan mereka juga mendapatkan semua fasilitas dan kemudahan selama mereka tinggal di kota Renhill. Bagaimanapun mereka adalah tamu penting bagi kita." Enzo langsung mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengar penjelasan dari Alvero.


"Jangan khawatir tentang hal itu. Aku akan mengurusnya dengan baik. Kamu tahu bagi keluargaku kota Renhill seperti kota Tavisha bagi seorang raja Gracetian. Kami menguasai kota itu dan bisa mendapatkan apapun di sana. Mereka akan mendapatkan semua yang terbaik di sana. Aku akan mengurus keamanan dan kesehatan uncle Vincent, supaya kamu bisa lebih fokus untuk menangani masalah kerajaan, juga... segera menemukan bukti-bukti kejahatan ibu suri Eliana." Mendengar janji dari Enzo membuat Alvero langsung tersenyum lega sekaligus puas, melihat bagaimana Enzo selalu menjadi saudara sekaligus sahabat, juga orang yang selalu mendukungnya dengan tulus, suatu hal yang tidak pernah dia dapatkan dari saudara-saudaranya yang lain, bahkan Dion yang seharusnya secara hubungan darah lebih dekat dengannya dibanding Enzo.

__ADS_1


"Sebentar lagi teman-teman seangkatan kita ketika kuliah dulu satu persatu meninggalkan masa lajang mereka. Kamu sendiri mau sampai kapan menunggu gadis impianmu yang bahkan aku dengar sudah hampir bertunangan dengan laki-laki dari kota Renhill itu?" Mendengar perkataan Alvero, Enzo hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Deanda, apa kamu memiliki gadis yang sepertimu yang bisa kamu perkenalkan ke aku?" Enzo bertanya sambil menatap ke arah Deanda yang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Rasanya dari semua gadis yang aku kenal, aku tidak berani memperkenalkannya kepada Pangeran Enzo. Takut gadis-gadis itu tidak sesuai dengan kriteria pangeran Enzo." Deanda berkata sambil memandang ke arah Enzo yang langsung meringis.


"Ahhh…. Beruntungnya Alvero bertemu dengan dirimu sebelum kami para pangeran lain. Sudah kubilang... untuk kami para pangeran Adalvino, hanya ada satu jenis gadis saja yang bisa membuat kami begitu tertarik, harus gadis sepertimu Dean..."


"Jangan teruskan perkataanmu atau kamu ingin aku membawa paksa gadis incaranmu kemari agar matamu tidak lagi mengincar istri orang lain?" Alvero langsung memotong perkataan Enzo sambil telapak tangannya bergerak dengan cepat ke arah wajah Deanda, berusaha menutupi wajah istrinya dengan telapak tangannya, untuk menghalangi pandangan mata Enzo yang sedang tertuju ke arah Deanda.


Alvero tahu pandangan mata Enzo kepada istrinya bukan pandangan seorang laki-laki yang sedang memandang dengan tatapan cinta kepada istrinya. Hanya sebuah pandangan kagum dan terpesona karena melihat sosok gadis cantik, kuat, baik hati, sekaligus cerdas seperti Deanda. Alvero tahu, siapa pria normal yang tidak terpesona melihat sosok cantik dan menarik dari istrinya itu. Namun, Alvero tentu saja tidak akan dengan mudah apalagi rela membiarkan seorang laki-laki memandangi sosok istrinya walaupun itu hanya sekedar tatapan kagum.


Rasa cinta juga pada awalnya timbul karena rasa kagum dan terpesona. Kalau orang tidak bisa mengendalikan rasa kagumnya dan membiarkannya terus berkembang pasti akan berubah menjadi sebuah rasa cinta.


Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Deanda yang dia tahu pada awalnya, perasaan gadis itu kepadanya awalnya dulu juga hanya sekedar rasa kagum kepadanya sebagai sosok seorang putra mahkota dan mengidolakannya sebagai seorang fans tanpa mencintainya sama sekali. Sampai akhirnya Deanda mau membuka hatinya dan mulai mencintainya. Namun harus diakui rasa cinta Deanda kepada Alvero adalah rasa cinta yang diawali dengan sebuah kekaguman. Mengingat proses panjang yang sudah dijalaninya untuk mendapatkan hati istrinya itu membuat Alvero tersenyum bahagia, menyadari untuk saat ini Deanda sudah menyerahkan hati dan raganya kepadanya

__ADS_1


__ADS_2