BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
AKU AKAN MENUNGGUMU


__ADS_3

Benar-benar sial! Awas saja kalian semua para pengkhianat! Saat aku berhasil melepaskan diri, aku tidak akan memberi ampun kepada kalian! Aku akan menginjak-injak harga diri kalian jauh lebih keras deripada yang sudah kalian lakukan padaku hari ini! Aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang kalian lakukan padaku hari ini!


Emilio memaki dalam hati sambil menatap tajam ke arah teman-teman dan orang yang dikenalnya, yang selama ini selalu bersikap hormat dan penurut kepadanya. Namun dalam hitungan detik mereka bersikap seolah-olah tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya sama sekali.


“Terimakasih Kak Enzo.” Melva langsung mengucapkan kata-katanya sambil memandang Enzo yang masih menatap ke arah pintu keluar ruang VIP bar tersebut, seolah dia masih belum merasa lega sebelum ada laporan dari pihak kepolisian tentang hukuman berat apa yang akan diterima oleh Emilio untuk semua kejahatan yang sudah dia perbuat selama ini.


“Ayo kita pulang. Sudah terlalu malam... tidak baik untuk gadis baik-baik sepertimu berada di tempat seperti ini. Aku akan emngantarmu. Tinggalkan saja mobilmu di sini, pengawalku akan mengurusnya untukmu.” Enzo berkata sambil menepuk lembut bahu Melva, mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan bar itu.


Dua pengawal yang masih tinggal, langsung mengikuti langkah-langkah Enzo dan Melva yang menjauh dari ruang VIP bar, menuju pintu keluar bar, dimana sopir Enzo sudah siap di posisi pengemudi dengan mobil milik Enzo.


"Terimakasih untuk malam ini Kak Enzo. Aku yang berpikiran pendek karena emosi, bahkan tidak memikirkan akibat buruk jika aku harus menghadapi Emilio sendirian." Begitu Melva sudah duduk di dalam mobil milik Enzo, di kursi penumpang, Melva langsung mengucapkan terimakasihnya.


"Tidak perlu merasa bersalah. Yang penting semuanya baik-baik saja sekarang. Seperti yang sudah aku katakan padamu tadi pagi. Kapanpun kamu membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu." Enzo berkata sambil tersenyum lembut ke arah Melva.


Malam ini Enzo merasa senang melihat bagaimana Melva sudah berhasil membuat keputusan yang tepat. Apalagi melihat bagaimana wajah Melva sudah menunjukkan bahwa gadis itu sudah bisa mengendalikan dirinya. Melva terlihat sudah terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat pagi tadi Enzo bertemu dengan Melva di rumahnya.

__ADS_1


"Hari yang cukup sulit dilalui, tapi aku bersyukur kamu sudah berhasil menyelesaikannya dengan baik. Aku harap tidak ada penyesalan di hatimu ke depannya tentang apa yang terjadi hari ini." Mendengar kata-kata Enzo, Melva langsung tersenyum tipis dengan sedikit dipaksakan.


Bagaimanapun apa yang sudah dilakukannya hari ini sebenarnya cukup membuat hati Melva terluka. Dan luka itu, tentu saja tidak bisa begitu saja sembuh dalam hitungan hari, apalagi dalam hitungan jam.


"Tidak ada yang perlu disesali tentang apa yang sudah terjadi hari ini Kak Enzo. Justru yang paling aku sesali bagaimana bisa aku begitu bodoh, membiarkan diriku ditipu habis-habisan oleh laki-laki kurangajar seperti itu. Dan aku sungguh menyesal kenapa dalam hidupku, aku harus bertemu dengan laki-laki seperti itu." Setelah menyelesaikan kata-katanya, Melva menarik nafas panjang, rasanya begitu enggan menyebutkan nama Emilio di bibirnya, sehingga dia hanya bisa menyebutkannya dengan sebutan "laki-laki itu."


Ada rasa sesak yang menerjang dada Melva saat ini, akan tetapi ada rasa lega karena dia bisa melewati hari ini dengan baik dan melakukan hal paling tepat untuk dirinya sendiri tentang hubungannya dengan Emilio yang segera dia akhiri hari ini, sebelum semuanya terlambat.


“Kak Enzo, selanjutnya apa yang akan terjadi pada Emilio?” Dengan nada terdengar ragu, Melva bertanya kepada Enzo yang langsung menarik nafas panjang, dengan tangan kanan yang berada di sisi kanan tubuhnya terkepal tanpa sepengetahuan Melva yang duduk di samping kirinya.


Dan jika itu benar-benar terjadi, Enzo tahu dia tidak akan bisa menolak permintaan Melva walaupun hatinya tidak rela. Tapi setelah sekian lama Enzo hanya mendengar suara tarikan nafas Melva tanpa mengeluarkan kata-kata, Enzo tahu saat ini juga Melva sudah mengakhiri perasaannya kepada Emilio. Berusaha menghapusnya hingga tidak berbekas.


Setelah itu, selama perjalanan menuju rumah Melva, baik Melva maupun Enzo lebih banyak diam. Melva yang masih berusaha menenangkan dirinya, sedang Enzo ingin memberi kesempatan bagi Melva untuk menenangkan diri, sekaligus menenagkan dirinya sendiri yang sebeanrnya begitu ingin memeluk Melva, mengatakan pada gadis itu bahwa dia begitu mencintai gadis itu.


Mengatakan bahwa dia akan rela melakukan apapun untuk Melva, dan meyakinkan Melva bahwa dia tidak akan pernah menyakiti Melva seperti apa yang sudah dilakukan Emilio kepadanya. Namun, untuk saat ini Enzo tahu dia harus menahan dirinya, menunggu sedikit waktu lagi sampai hati Melva siap untuk membuka lembaran baru.

__ADS_1


Aku akan dengan setia menunggu lukamu menutup dan sembuh. Dan aku sungguh berharap aku bisa menjadi laki-laki yang bisa mengggantikan Emilio mengisi hatimu, juga membantumu sembuh dari luka parah yang sudah ditorehkan oleh Emilio kepadamu.


Enzo berkata salam hati sambil melirik ke arah Melva, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan matanya, karena tidak ingin Melva merasa diawasi, dan membuatnya tidak nyaman. Dengan sengaja Enzo ingin memberikan waktu kepada Melva untuk bisa menata hatinya, sebelum pada akhirnya dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaan cintanya kepada Melva.


# # # # #


"Aku ingin bertemu dengan yang mulia Alvero dan melihat kondisi kesehatan permaisuri Deanda." Ernest yang berdiri di depan pintu Alvero langsung menyunggingkan senyum di bibirnya begitu mendengar permintaan dari Eliana untuk masuk ke dalam kamar Alvero dengan alasan menjenguk Deanda.


Ernest tahu... saat ini, Eliana pasti merasa penasaran dan curiga setelah 2 hari berturut-turut Alvero dan Deanda tidak keluar dari kamar sama sekali. Dan hari ini terhitung sebagai hari ketiga. Sejak Alvero diangkat menjadi raja, Eliana selalu berusaha dengan keras untuk mengamati pergerakan Alvero.


“Maaf Ibu Suri, Anda sebaiknya tidak mengganggu istirahat permaisuri jika tidak ingin membuat yang mulia raja Alvero marah. Anda tahu sendiri bagaimana sikap yang mulia jika itu menyangkut tentang pemaisuri. Yang mulia Alvero tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu permaisuri Deanda dengan alasan apapun." Ernest berusaha menjawab permintaan Eliana dengan nada tetap terdengar sopan.


"Apakah menjenguk juga bisa dikategorikan mengganggu? Aku tidak tahu bahwa kamu bisa berpikiran sepicik itu Tuan Ernest. Menganggap sebuah niat baik sebagai sebuah gangguan." Eliana berkata dengan senyum di wajahnya, tapi Ernest tahu saat ini Eliana mengeluarkan kata-kata tajamnya untuk membuat Ernest menyerah dan membiarkannya masuk ke kamar Alvero.


 

__ADS_1


 


__ADS_2