
“Tuan Alvi, aku akan berusaha membantu dengan mencari info tentang siapa saja saksi yang pernah melihat kejadian itu dan berusaha membuat mereka mengatakan peristiwa yang sebenarnya.” Alvero tersenyum mendengar janji dari Red.
“Aku akan menunggu kabar baik jika memang Anda bisa menemukan para saksi itu Tuan Red….”
“Saya akan berusaha sebaik mungkin.” Red langsung menjawab dengan cepat.
“Baiklah, untuk hari ini, itu yang ingin aku bicarakan dengan Anda berdua. Aku harap di pertemuan selanjutnya kita sudah sama-sama menemukan titik terang. Aku dan Deanda akan kembali ke tempat kami.” Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya, setelah itu Alvero langsung mengulurkan telapak tangannya ke arah Deanda yang langsung meraihnya dan ikut bangkit berdiri dari duduknya, dibantu oleh Alvero.
“Baik Tuan Alvi.” Red menjawab perkataan Alvi dan ikut bangkit berdiri dari duduknya, disusul oleh Marcello.
“Kalau begitu kami akan pergi terlebih dahulu. Terimakasih untuk sambutan dan pembicaraan kita hari ini.” Mendengar perkataan Alvero, baik Red dan Marcello langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Selamat siang Tuan Alvi, semoga semua kebenaran segera terbuka lebar di depan kita semua.” Marcello menanggapi perkataan Alvero dengan sedikit menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Alvero, diikuti oleh Red.
“Ok, jaga diri Anda berdua. Mungkin ke depannya Anda berdua juga akan menjadi sasaran Eliana.” Alvero memberikan peringatan kepada Red dan Marcello. Karena Alvero tahu, sejak Red menolak wanita yang datang ke Goldie Tavisha untuk menyewa pembunuh, Eliana pasti tahu bahwa orang-orang di Goldie Tavisha berpihak kepada keluarga kerajaan yang sah, keluarga Adalvino.
“Jangan khawatir Tuan Alvi, kita pasti akan memenangkan pertarungan ini. Sudah terlalu lama ibu suri menikmati hidup nyaman dengan semua kejahatan yang sudah dia lakukan. Sudah waktunya untuk dia membayar untuk semuanya itu.” Red menarik nafas panjang setelah mengucapkan perkataannya.
__ADS_1
# # # # # # #
“Yang Mulia, kita kembali ke hotel atau ke istana? Atau Yang Mulia memiliki tujuan lain siang ini?” Ernest bertanya sambil mengurangi kecepatan mobil yang sedang dikendarainya, dengan Alvero dan Deanda yang duduk di kursi penumpang.
“Kita ke gedung perusahaan Adalvino. Hari ini kami akan tinggal di penthouse. Besok siang kita berangkat ke pelabuhan untuk menghadiri acara ulang tahun pangeran Enzo.” Alvero menjawab pertanyaan Ernest sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Ah, besok adalah waktu penyiksaan bagiku. Semoga aku tidak pulang tinggal nama karena mabuk laut.
Ernest berkata dalam hati sambil sedikit bergidik membayangkan besok dia harus mengikuti Alvero dan Deanda untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun Enzo di kapal pesiar kerajaan.
“Baik Yang Mulia. Saya akan aturkan untuk membereskan barang-barang Yang Mulia dan permaisuri Deanda dari hotel.” Ernest segera kembali fokus kepada tugas dari Alvero untuk mengalihkan pikirannya dari mabuk laut yang harus dihadapainya besok.
Hubungan Alvero dan Enzo yang dekat, bahkan sudah seperti saudara kandung itu sudah begitu dimengerti oleh seluruh penghuni istana. Dan baru saja Ernest mendengar perintah yang terdengar begitu aneh. Entah apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi, Ernest hanya bisa menunggu dan melihat kenapa Alvero memberinya perintah yang terdengar aneh itu.
“Sebenarnya… apa yang sedang kamu rencanakan pada pangeran Enzo?” Dengan nada pelan, Deanda bertanya sambil memandang ke Arah Alvero yang tampak menyungingkan sebuah senyum licik di bibirnya.
“Tidak ada…. Maksudku… tidak ada rencana untuk Enzo selain memberinya sedikit pelajaran berharga. Jangan terlalu khawatir, aku tidak akan berbuat sesuatu yang bisa melukai Enzo, apalagi besok adalah hari ulang tahunnya. Ah, ya… sudah waktunya makan siang, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat untuk makan siang kita?” Alvero langsung mengalihkan pembicaraan tentang Enzo.
__ADS_1
“Kita makan siang saja di café perusahaan. Supaya tidak perlu repot-repot.” Deanda berkata sambil menarik nafas panjang, berharap suaminya tidak melakukan hal buruk kepada Enzo.
“Mmmm, baiklah. Begitu juga boleh.” Alvero langsung menyetujui ide Deanda untuk makan siang di café milik perusahaan Adalvino.
# # # # # # #
“Sweety… aku harus menemui Tuan Robert sebentar untuk membicarakan persiapan tim dari perusahaan yang akan membantu di pesta ulang tahun Enzo. Aku akan memastikan agar Enzo mendapatkan tim yang terbaik untuk pesta ulang tahunnya.” Begitu Alvero dan Deanda sampai di café dan duduk di salah satu ruangan VVIP yang dimiliki oleh café itu, Alvero yang baru teringat akan persiapan pesta ulang tahun Enzo kembali bangkit berdiri.
“Tunggulah di sini sebentar. Pesanlah makanan terlebih dahulu, tidak akan lebih dari 15 menit aku akan kembali. Ernest, temani permaisuri. Pastikan kamu menjaga permaisuri dengan baik.” Alvero berkata sambil menepuk pelan tangan Deanda yang ada di atas meja dan berlalu dengan langkah cepat berjalan menuju ke ruang R&D.
Alvero baru saja keluar dari pintu café ketika sebuah panggilan telepon membuatnya dengan cepat mengambil handphone dari saku celananya.
Begitu melihat nama Eliana tertera di layar handphonenya, Alvero langsung menarik nafas panjang dengan wajah yang tadinya terlihat ceria, berubah menjadi kesal. Dengan cepat Alvero berjalan ke arah ruangan Avitus, dan dengan tangannya memberi tanda agar Avitus segera keluar dari ruangan itu, sehingga Alvero bisa bebas menerima panggilan telepon.
“Hallo.” Dengan suara yang terdengar malas, Alvero mengangkat telepon dari Eliana.
“Alvero! Kamu benar-benar sudah keterlaluan!” Suara teriakan dari seberang sana langsung terdengar dengan nyaringnya, membuat Alvero tersenyum sinis sambil menjauhkan handphonenya dari telinganya.
__ADS_1
“Ibu suri…. Perhatikan bagaimana caramu menyebutkan namaku sebagai seorang raja Gracetian. Walaupun usiaku jauh lebih muda darimu, dan saat ini kamu merupakan istri dari ayahku. Tapi, sejak dulu kamu tahu aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang ibu bagiku. Dengan hubungan yang tidak dekat seperti itu, rasanya telingaku merasa aneh kamu memanggilku dengan menyebutkan langsung namaku. Jadi, tunjukkan sikap hormatmu saat sedang berbicara dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi darimu, atau aku tidak akan pernah menerima panggilan telepon darimu lagi sebelum kamu belajar dengan baik tata krama bagi seorang bangsawan dan keturunan kerajaan Gracetian.” Mendengar perkataan Alvero yang diucapkan dengan nada datar, namun isi perkataannya sungguh menusuk hati Eliana, hampir saja wanita itu berteriak dan melempar handphonenya.
Untuk beberapa saat baik Eliana terdiam, begitu pula dengan Alvero yang sengaja menunggu tindakan Eliana selanjutnya setelah dia menegurnya barusan.