
"Erich! Apa kamu sudah menyiapkan sopir untuk pangeran Enzo?" Begitu bertemu dengan Erich di dekat pintu keluar villa, Alvero yang melihat Erich sudah menunggunya di sana langsung mempertanyakan tugas yang sudah diberikan kepada Erich sebelum dia menemui Enzo tadi.
"Sudah siap Yang Mulia." Dengan cepat dan singkat, Erich menjawab pertanyaan Alvero.
"Aku mau menyetir mobilku sendiri." Enzo segera menanggapi perkataan Alvero kepada Erich.
"Pakai sopir atau kamu tetap tinggal di sini! Apa kamu mau membuat orang lain repot karena kamu berniat menyetir dalam pikiran tidak tenang seperti itu? Jangan bertindak seenaknya tanpa berpikir panjang! Kamu ingin mencelakakan dirimu sendiri?" Alvero berkata sambil melanjutkan langkah-langkahnya keluar dari villa, tanpa perduli bahwa Enzo belum menjawab pertanyaannya barusan.
Mau tidak mau, akhirnya Enzo hanya bisa terdiam sesaat, sebelum melangkah ke arah mobinya. Enzo hanya bisa bersikap pasrah terhadap apa yang sudah diperintahkan oleh Alvero kepada Erich. Lagipula saat ini seperti yang dikatakan Alvero, Enzo tahu pikirannya sedang melayang-layang dan berputar-putar tidak jelas. Yang pasti akan sangat berbahaya jika dia sendiri yang mengendarai mobilnya untuk saat ini.
Mengingat bahwa pertemuannya dengan Evan dan Alvero adalah pertemuan yang sangat penting, Enzo tahu apa yang dikatakan oleh Alvero ada benarnya. Tidak seharusnya dia mengendarai sendiri mobilnya dalam kondisi pikirannya yang kacau sekarang ini.
Apalagi tempat pertemuan mereka dengan Evan memakan waktu cukup jauh, menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit dari villa. Belum lagi, pertemuan penting dengan Evan akan membahas tentang masalah kondisi keamanan kerajaan, yang pasti membutuhkan pemikiran panjang dan juga penuh dengan pertimbangan yang matang untuk memutuskan tindakan apa yang harus mereka lakukan untuk menjaga kondisi kerjaan agar tetap kondusif.
Paling tidak, dalam waktu 45 menit itu, jika yang menyetir orang lain, Enzo bisa menjernihkan pikirannya dan memenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum pertemuan itu. Akhirnya hanya itu yang terpikirkan oleh Enzo saat ini. Membuat pada akhirnya dengan langkah gontai Enzo masuk ke dalam mobilnya, di bagian penumpang.
__ADS_1
"Apa Enzo akan baik-baik saja Yang Mulia?" Setelah Deanda duduk di samping Alvero di dalam mobil milik Ernest, dan Erich sudah mulai melajukan mobil itu untuk meninggalkan villa, Deanda langsung bertanya kepada Alvero dengan wajahnya yang menunjukkan bahwa dia cukup mengkhawatirkan kondisi Enzo.
"Tenang saja. Walaupun kadang Enzo terlihat seenaknya sendiri dan terlihat tidak perduli dengan kerajaan, dia orang yang tahu bagaimana dia harus menjalankan perannya sebagai pangeran Adalvino dengan baik. Dia pangeran Adalvino yang akan berjuang untuk kebaikan kerajaan tanpa diminta, saat kerajaan membutuhkannya." Alvero berkata sambil membuka layar handphonenya, menuliskan sesuatu kepada seseorang, setelah itu Alvero langsung menatap ke arah spion mobil.
"Lagipula, seperti rencana awal kita... Kita akan bertemu dengan earl Robin terlebih dahulu sebelum bertemu dengan duke Evan. Aku juga tidak mau membawa Enzo melakukan pertemuan penting, sedang pikirannya masih terfokus pada masalah Melva. Kalau begitu, apa bedanya aku pergi dengan patung lilin?" Deanda langsung tersenyum begitu mendengar perkataan Alvero selanjutnya, yang dikatakannya dengan senyum di wajahnya, membuat Deanda yakin, Alvero sudah memiliki rencana matang untuk segera menyelesaikan kasus Melva, kekasihnya dan Enzo.
“Sepertinya Yang Mulia belum memberitahu pangeran Enzo kalau kita akan menemui earl Robin sebelum menemui duke Evan.” Mendengar perkataan Deanda, Alvero langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Deanda.
“Ckkk…. Aku sengaja tidak memberitahunya. Buat apa memberitahu hal seperti itu kepada orang yang pikirannya sedang kacau. Lebih baik dia mengikuti kita saja. Yang penting apa rencanaku akan membawa dampak baik untuk Enzo.” Dengan santai Alvero berkata, disambut sebuah senyuman oleh Deanda, yang yakin bahwa Alvero pasti sudah memikirkan semua tindakannya dengan baik dan penuh pertimbangan.
# # # # # #
Enzo yang sejak awal masuk ke dalam mobil lebih memilih untuk menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, sambil menutup kedua matanya dengan erat sedikit tersentak begitu menyadari mobil yang tiba-tiba berhenti. Awalnya Enzo berpikir mereka sedang berada di persimpangan jalan dan lampu lalu lintas sedang berada pada posisi lampu berwarna merah. Namun saat Enzo merasakan di sekitarnya tidak terdengar suara ribut kendaraan yang sedang lewat maupun klakson, dengan cepat Enzo membuka kedua matanya.
Begitu mata Enzo terbuka, kedua mata Enzo langsung terbeliak sempurna, karena menyadari saat ini mobil yang ditumpanginya sedang berada di halaman rumah mewah milik earl Robin, yang berarti juga adalah rumah dimana Melva tinggal.
__ADS_1
Belum lagi Enzo sadar kembali dari keterkejutannya, Alvero yang sudah berdiri di depan pintu mobil Enzo mengetuk-ketuk atap mobil Enzo dengan sedikit keras. Tindakan Alvero sukses membuat Enzo kembali tersentak kaget, kali ini diikuti dengan kesadarannya yang mulai pulih setelah sebelumnya karena kaget, Enzo hanya bisa diam mematung di tempatnya.
Melihat reaksi Enzo yang begitu lama, Alvero hanya tersenyum kecil sambil membuka pintu mobil Enzo dari luar.
"Haist... apa yang sedang kamu lakukan pangeran Enzo? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan gadis yang kamu cintai dan memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja?" Alvero yang membungkukkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Enzo yang masih duduk di dalam mobil, bertanya kepada Enzo dengan wajah menggoda.
"Alvero! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu tidak bilang kita akan ke rumah earl Robin? Bukannya kita seharusnya dalam perjalan untuk bertemu dengan duke Evan?" Enzo berkata sambil merapikan rambutnya dengan cepat menggunakan jari-jari tangannya, membuat Alvero justru tertawa geli melihat tingkah Enzo yang tiba-tiba berubah menjadi gugup begitu sadar akan bertamu ke rumah Melva.
Apalagi setelah itu, dengan gerakan terlihat begitu salah tingkah, Enzo berusaha merapikan pakaian yang dikenakannya. Rasanya pagi ini merupakan pagi yang penuh penyesalan bagi Enzo. Jika saja dia tahu bahwa Alvero akan mengajaknya ke ke rumah Melva, dia pasti akan memakai pakaian yang lebih baik, dan juga merapikan rambut dan penampilannya.
Tapi apa mau dikata, tidak yang namanya menyesal di depan. Penyesalah pasti terjadi di belakang. Apalagi tadi sebenarnya Alvero sudah mengingatkannya sebelum pergi, apakah dia ingin mencuci muka atau berganti pakaian, tetapi dia tanpa berpikir panjang langsung mengatakan tidak terhadap penawaran Alvero. Dan sekarang itulah yang sedang dialami oleh Enzo. Menyesal karena karena tidak berpenampilan sebaik mungkin di depan gadis yang dicintainya. Walaupun Melva mungkin belum mengetahui tentang perasaannya, tapi selama ini Enzo selalu berusaha tampil menawan di hadapan gadis cantik itu.
__ADS_1