
"Aku hanya ingin bersantai sebentar sambil menunggumu berbincang dengan Enzo." Deanda berkata sambil melingkarkan kedua lengannya ke leher Alvero sambil tersenyum, membuat Alvero menarik udara dari sela-sela bibirnya yang terbuka.
Hah! Kamu selalu berhasil membuatku tidak bisa memarahimu. Apalagi jika kamu memamerkan senyum manismu kepadaku seperti sekarang ini. Benar-benar istriku sudah memegang titik lemahku dengan baik. Kamu selalu berhasil baik dalam mengendalikan emosiku.
Alvero berkata dalam hati dan dengan hidung mancungnya mulai bergerak menciumi wajah Deanda yang berada dalam gendongannya. Mendapatkan kecupan bertubi-tubi di wajahnya, membuat tubuh Deanda langsung menggeliat karena merasa geli.
"Hentikan my Al... nanti aku bisa terjatuh." Mendengar protes dari Deanda, Alvero bukannya berhenti, justru dia menghentikan langkahnya sebelum mencapai tempat tidur, dan ciumannya mulai menjalar ke area leher dan telinga Deanda yang hanya bisa tertawa geli tanpa bisa melawannya, berusaha keras supaya tubuhnya tidak banyak bergerak agar tidak jatuh dari gendongan Alvero.
"Kamu pikir aku ini seorang suami yang bodoh? Membiarkan istrinya terjatuh? Lagipula sekarang waktunya kamu mendapatkan hukumanmu karena seharian ini sudah bersikap nakal padaku. Jangan mencoba melarikan diri lagi sekarang." Alvero berbisik pelan di telinga Deanda sambil melangkah kembali ke arah tempat tidur untuk menyalurkan hasrat dan gairahnya sepanjang hari ini sudah beberapa kali begitu terpancing karena tindakan dari Deanda yang berulang kali sengaja menggodanya, tanpa ada kesempatan bagi Alvero untuk membalasnya.
"Ap... apa maksudmu my Al?" Deanda berkata sambil mengalihkan wajahnya yang memerah karena tubuhnya yang terasa merinding dan bergetar hebat karena baru saja Alvero menjepit telinganya dengan bibirnya, bahkan menjilatnya sekilas, membuat Deanda begitu sulit untuk mengendalikan dadanya yang berpacu dengan cepat karena sensasi dari tindakan mesra Alvero.
Bahkan tanpa sadar Deanda mempererat pelukan lengannya di leher Alvero, seolah memberikan tanda kepada Alvero bahwa saat ini dia juga menginginkan sentuhan Alvero, lebih dari sekedar sebuah ciuman dan tatapan mesra, sesuatu yang lebih dalam untuk saling menyatakan cinta mereka dengan tindakan yang paling intim sebagai pasang sumai istri yang sedang dimabuk cinta.
"Ayolah sweety, jangan berpura-pura tidak tahu bahwa hari ini kamu sudah begitu nakal padaku, menggodaku di setiap kesempatan. Sekarang waktunya kamu bebas menunjukkan ekpresi cintamu padaku." Alvero berkata lembut sambil merebahkan tubuh Deanda ke atas tempat tidur, dengan kedua tangan Deanda masih melingkar di leher Alvero dan mulai mengelus lembut rambut dan tengkuk Alvero.
Tanpa menjawab perkataan Alvero, dari apa yang sedang dilakukan Deanda saat ini, Alvero tahu pasti bahwa wanita tercintanya itu juga menginginkannya malam ini.
__ADS_1
Dengan tiada bosan-bosannya, Alvero memandangi wajah cantik Deanda yang sudah membuatnya begitu merasa kecanduan. Dan dengan tatapan penuh cinta sekaligus penuh hasrat dan gairah, Alvero menatap wajah istrinya untuk beberapa saat, sebelum dia mulai mencumbu dan memanjakan istrinya, memberikan hal dan menerima hal terbaik untuk Deanda.
# # # # # # #
"Sweety, sudah malam. Mau kemana kamu?" Deanda yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, dan baru saja berniat berjalan ke arah pintu kamar langsung menoleh ke arah Alvero yang ternyata ikut terbangun karena Deanda yang tadinya tertidur dalam pelukannya setelah kegiatan panas mereka sudah melepaskan diri dari pelukan Alvero.
Ah, kenapa yang mulia ikut terbangun? Aku pikir tidur yang mulia sudah nyenyak sehingga tidak akan sadar ketika aku bangun.
Deanda berkata dalam hati sambil memandang ke arah Alvero yang sedang menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Tidak apa-apa. Tapi, mau kemana kamu malam-malam begini?" Alvero sengaja bertanya kepada Deanda karena selama ini yang dia tahu, sejak menikah Deanda hampir tidak pernah terbangun di tengah malam.
Yang ada setiap harinya, Deanda akan tidur dengan nyenyak dalam pelukan Alvero hingga pagi hari.
Sesekali justru Alvero yang terbangun dari tidurnya. Dan jika itu terjadi, Alvero akan dengan sengaja menikmati wajah cantik istrinya yang sedang tertidur, sampai dia sendiri kembali tertidur dengan nyaman karena perasaan tenangnya menyadari bahwa Deanda tetap berada di sisinya.
"Aku mau keluar sebentar. Aku merasa... begitu lapar..." Dengan wajah memerah dan senyum malu-malu Deanda mengatakan niatnya untuk keluar mencari makanan, membuat Alvero tersenyum geli.
__ADS_1
"Aku akan panggilkan pelayan untuk membuatkan makanan untukmu. Apa yang ingin kamu makan sweety?" Begitu Alvero berencana memanggil pelayan, Deanda segera menahan gerakan tangan Alvero dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan. Ini sudah tengah malam. Jangan mengganggu istirahat mereka." Deanda berusaha menghalangi niat Alvero.
"Haist... ada-ada saja kamu ini. Pelayan di istana ini tersedia 24 jam, dan mereka dibayar lebih untuk yang bertugas jaga di malam hari, walaupun sebenarnya seringnya mereka tidak banyak melakukan kegiatan di malam hari." Deanda hanya tersenyum mendengar perkataan Alvero.
"Tidak perlu mereka, aku hanya ingin makan salad buah. Biar aku membuatnya sendiri. Aku ingin membuatnya sesuai dengan seleraku." Kata-kata Deanda langsung membuat Alvero bangun dari posisi berselonjornya.
"Hah, permaisuriku ini memang keras kepala. Kalau begitu aku akan membuatkannya untukmu." Alvero berkata sambil menyingkirkan selimut yang sebelumnya masih menutupi sebagaian dari tubuhnya.
"Eh, tidak usah my Al." Deanda yang sudah berdiri di samping tempat tidur langsung mencegah Alvero untuk ikut dengannya keluar dari kamar.
"Apa kata orang kalau mereka melihat seorang raja tengah malam membuat salad untuk istrinya. Orang lain akan berpikir bahwa aku sudah meremehkan posisimu sebagai raja di Gracetian." Mendengar perkataan Deanda, mata Alvero langsung melotot.
"Siapa perduli dengan itu semua? Saat ini aku adalah seorang suami yang mau membuatkan makanan untuk istrinya. Tidak ada yang mengatakan bahwa suami adalah raja bagi istrinya, dan seorang istri adalah pelayan dari suaminya. Ist... justru sepertinya kamu harus bangga karena aku sebagai suamimu tidak keberatan sama sekali jika harus melayanimu." Alvero berkata sambil bangkit berdiri dan langsung memeluk tubuh Deanda, lalu mengelus punggung Deanda dengan lembut dan menarik nafas panjang dengan senyum di wajahnya yang tampan.
"Karena aku begitu mencintaimu sweety. Aku bahkan akan rela menukarkan semua yang aku miliki untuk bisa selalu bersamamu. Termasuk posisiku sebagai seorang raja." Alvero melanjutkan kata-katanya sambil mengecup mesra bibir Deanda yang wajahnya terlihat salah tingkah karena kata-kata romantis dari Alvero, yang selalu berhasil membuat dadanya berdegup dengan kencang dan hatinya merasa terharu karena dipenuhi oleh rasa bahagia.
__ADS_1