BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERMINTAAN TERAKHIR TIANA ALLEN


__ADS_3

"Permaisuri!"


"Deanda!"


Baik Ernest, Alaya maupun paman dari Alaya dengan wajah terlihat begitu khawatir, langsung berteriak dan berlari mendekat ke arah Deanda yang pingsan dan berada dalam pelukan Alvero.


Alvero sedikit mengernyitkan dahinya mendengar bagaimana laki-laki yang baru saja dilihatnya itu dengan berani menyebutkan langsung nama istrinya tanpa memanggilnya dengan statusnya sebagai permaisuri. Seolah laki-laki itu sudah lama mengenal Deanda dan memiliki hubungan cukup dekat dengan istrinya, sehingga berani melakukan hal seperti itu.


Ada rasa penasaran yang begitu besar di hati Alvero melihat bagaimana pria itu sudah berani dan lancang menyebutkan nama Deanda. Namun melihat kondisi Deanda yang sedang pingsan, Alvero memilih untuk sementara waktu mengesampingkan terlebih dahulu rasa penasarannya.


Bagi Alvero, sekarang yang terpenting adalah segera membawa Deanda pergi dari tempat itu dan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Selama dia mengenal Deanda, Alvero ingat dengan jelas bahwa istri tercintanya memiliki kondisi fisik yang sehat dan cukup terlatih, sehingga belum pernah sekalipun Alvero melihat Deanda sakit apalagi sampai pingsan seperti hari ini, sehingga cukup membuat Alvero khawatir.


"Ernest, siapkan mobil dan segera telepon pangeran Enzo agar secepatnya menyiapkan tempat di villa dan menghubungi dokter yang merawat papa agar segera datang ke villa untuk memeriksa kondisi kesehatan permaisuri!" Alvero segera memberikan perintah kepada Ernest sambil menggerakkan tangannya, untuk kemudian menggendong tubuh wanita tercintanya itu dengan wajah terlihat cemas.


"Dan untuk nona Alaya, juga tuan. Bisakah Anda berdua ikut dengan kami sekarang juga. Sepertinya, akan ada banyak hal yang harus kita selesaikan hari ini juga." Alvero berkata dengan tegas ke arah Alaya dan pamannya dan tanpa menunggu jawaban, Alvero langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu dengan tubuh Deanda yang lemas dan belum sadarkan diri dalam gendongannya.

__ADS_1


Alaya dan pamannya hanya bisa saling berpandangan dan menarik nafas panjang mendengar perintah Alvero barusan. Jika sesuai rencana, saat mereka belum ingin membuka jati diri mereka yang sebenarnya. Tapi sepertinya hari ini mereka tidak bisa lagi menghindar dari masalah itu.


Apalagi melihat bagaimana Deanda pingsan setelah melihat keberadaan pamannya, Alaya yakin Alvero pasti tidak akan dengan mudah membiarkan mereka lepas tanpa memberikan penjelasan apapun tentang siapa mereka sebenarnya.


Dan tanpa mereka menjelaskanpun, begitu Deanda tersadar, Alaya yakin Deanda akan memberitahukan kepada Alvero, tentang siapa sebenarnya laki-laki yang dilihat oleh Deanda, pria yang selama ini selalu dipanggil uncle oleh Alaya. Laki-laki yang memiliki nama lengkap Alexis Federer itu.


Memikirkan tentang itu, baik Alaya maupun Alexis memilih untuk mengikuti perintah tegas dari Alvero. Di samping itu, begitu meliaht putri satu-satunya tiba-tiba jatuh pingsan, membuat Alexis mau tidak mau sebagai seorang ayah merasa khawatir dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Deanda.


Akhirnya dengan berdiam diri, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, baik Alaya maupun Alexis berjalan mengikuti langkah-langkah Alvero yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkan ruangan itu dengan bergegas sambil menggendong Deanda dan memeluk tubuh istrinya itu dengan begitu erat dan wajah tidak tenang.


“Tiana… aku tidak akan meninggalkanmu di sini. Aku tidak bisa melakukan itu Tiana!” Alexis berteriak histeris di samping tubuh istrinya yang terbaring tidak berdaya dengan luka bakar parah di halaman tempat kediaman Larena yang baru saja berhasil diselamatkannya, walaupun pada akhirnya dia sendiri mengalami luka bakar yang begitu parah, dan kaki yang tidak bisa dia gerakkan lagi setelah sebuah pilar bangunan yang terbakar menghantam kakinya.


“Alexis… aku mohon, waktuku tidak banyak lagi Alexis…. Uhuk… uhuk… uhuk….” Tiana berkata sambil terbatuk-batuk karena terlalu banyak asap yang sudah dihirupnya tadi saat berusaha menyelamatkan Larena, yang saat ini sedang tidak sadarkan diri dan tergeletak di samping tubuh Tiana, dengan luka bakar yang juga cukup parah, walaupun tidak separah Tiana yang bahkan sebagian kulit tubuhnya terlihat menghitam dan beberapa bagian kulitnya terkelupas, dan juga begitu sulit untuk bernafas.


“Tiana! Aku mohon jangan membuatku melakukan hal yang begitu berat untuk aku lakukan! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu di sini dengan kondisimu seperti ini! Aku tidak bisa dan tidak mau melakukan itu." Kali ini Alexis berkata sambil menangis.

__ADS_1


Hatinya benar-benar hancur melihat bagaimana kondisi mengerikan sekaligus menyedihkan dari Tiana yang terlihat kesulitan untuk bernafas dan seringkali meringis menahan sakit dan rasa panas yang terasa di seluruh tubuhnya akibat luka bakar yang dialaminya.


“Alexis… tolong dengarkan aku, uhuk..uhuk…. Aku sudah tidak lagi memilki harapan. Tapi permaisuri Larena… kamu harus menyelamatkannya apapun yang terjadi. Kita berdua sudah bersumpah setia kepada kerajaan dan keluarga Adalvino…. Permaisuri… sedang mengandung penerus keluarga Adalvino. Tolong… selamatkan permaisuri, dan jauhkan… dari jangkauan baroness Eliana… Kumohoh Alexis… penuhi permintaan terakhirku ini…” Tiana berusaha keras untuk menyelesaikan kata-katanya.


“Kamu tahu, jika bukan kamu yang menolong permaisuri Larena, siapa lagi yang bisa? Permaisuri Larena… bahkan tidak memiliki saudara atau orang lain yang bisa dia andalkan selain kita. Keberadaan permaisuri dan bayinya, membuat kita rakyat Gracetian memiliki kesempatan untuk membuat baroness Eliana dikeluarkan dari istana dan mengembalikan kedamaian di negara Gracetian…. Wanita itu terlalu kejam dan licik… Gracetian akan hancur, dan rakyat akan sengsara jika dia tidak segera tersingkirkan dari istana. Dan….” Tiana melanjutkan kata-katanya dengan susah payah.


“Tapi Tiana… aku….” Alexis baru saja memotong perkataan Tiana, dan berencana menolaknya, tapi dengan kekuatan terakhirnya Tiana menggerakkan tangannya dan menyentuh wajah Alexis yang langsung memegang tangan yang terluka itu sambil menangis sekeras-kerasnya di depan wanita yang begitu dicintainya itu.


“Aku mohon Alexis… aku mohon… selamatkan permaisuri Larena bersama dengan bayi dalam rahimnya. Jangan membuat pengorbananku… menjadi sia-sia. I love you Alexis….” Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, dengan perlahan Tiana menarik nafasnya dengan berat.


Perlahan-lahan, Tiana menutup mata dan tangannya yang sedang berada di dalam genggaman tangan Alexis melemah dan terlepas, jatuh di tanah bersamaan dengan hembusan terakhir nafasnya, meninggalkan Alexis untuk selama-lamanya, membuat Alexis berteriak histeris disertasi dengan tangisan yang terdengar begitu keras dan menyedihkan.


Dengan langkah-langkah yang terlihat begitu berat dan gontai, Alexis meninggalkan jenazah Tiana di halaman tempat kediaman Larena sambil menggendong tubuh Larena yang masih tidak sadarkan diri dengan luka bakar yang cukup parah juga.


Setelah berjalan cukup jauh dari tubuh Tiana yang tergeletak di halaman dekat pintu masuk rumah dan sudah tidak lagi bernafas, Alexis langsung menundukkan tubuhnya begitu mendengar sebuah ledakan keras dari arah rumah yang membuat tumah titu terbakar semakin parah, juga tubuh Tiana yang kembali terbakar oleh api, membut luka bakar di tubuhnya semakin parah sehingga jenazahnya tidak bisa lagi dikenali saat ditemukan oleh regu pemadam kebakaran.

__ADS_1


__ADS_2