BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENCOBA MEMBANTU CLEOSA


__ADS_3

Melihat wajah Deanda yang terlihat sedang berpikir keras akibat kata-katanya barusan membuat Alvero ingin tertawa.


Istriku ini sungguh menggemaskan. Ingin membantu orang lain, tapi tidak tahu bagaimana cara menemukan jalan keluarnya.


Alvero berkata dalam hati dengan sebuah senyum tersungging di wajahnya, karena gemas melihat wajah bingung Deanda.


"Lalu... apa yang bisa kita lakukan?" Deanda bergumam pelan dengan wajah terlihat berpikir keras, membuat Alvero langsung menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.


"Jangan khawatir. Aku akan menemani kalian makan siang ini. Walaupun dengan kehadiranku makan siang kalian pasti akan terasa formal, paling tidak aku bisa membantu temanmu itu. Tidak perlu pusing memikirkan tentang Erich dan pengagum rahasianya itu. Aku yang akan mengaturnya untukmu, agar Erich dan pengagum rahasianya bisa menikmati makan siang mereka hari ini." Perkataan Alvero langsung membuat Deanda menyungingkan senyum lega sekaligus puas.


"Tapi sweety, aku benar-benar merasa penasaran. Memang sebenarnya siapa yang diam-diam mengagumi Erich? Tidak mungkin Abella kan? Kamu bilang dia sudah memiliki kekasih yang bekerja di toko roti tuan Logan tempat kalian berdua bekerja dulu?" Alvero berusaha keras mengalihkan pikirannya agar tidak terlalu fokus pada tubuh Deanda yang sedang memeluk pinggangnya saat ini, yang sukses membuat dadanya berdebar keras dan berkal-kali harus mengatur ritme suaranya agar tidak terdengar bergetar dan menunjukkan kegugupannya, akibat menahan hasratnya yang begitu membara pagi ini.


"Tentu saja bukan Abella, tapi Cleosa." Deanda menjawab dengan cepat.


"Ah." Sebuah respon pendek terdengar dari bibir Alvero yang tampak kaget begitu mendengar yang mengagumi Erich dengan diam-diam adalah Cleosa.


Alvero tidak terlalu mengenal dekat Cleosa, tapi karena gadis cantik itu bekerja di bagian front office kantor perusahaan Adalvino dan cukup dikenal sebagai salah satu pegawai yang handal di bidang tersebut, membuat Alvero sedikit mengerti tentang sosok gadis itu.

__ADS_1


Apalagi Cleosa merupakan salah satu teman dekat Deanda, membuat beberapa kali Alvero melihat keberadaan Cleosa yang sedang bersama dengan Deanda, terutama ketika mereka belum menikah dulu. Selain Abella, Clare dan Alea, Cleosa yang cukup dekat dengan Deanda, membuat mau tidak mau Alvero yang selalu mengamati apapun tentang Deanda tahu tentang keberadaan gadis ramah itu.


"Gadis yang selalu tersenyum itu? Aku tidak menyangka bahwa pria idamannya adalah laki-laki seperti Erich." Deanda langsung tertawa renyah mendengar komentar dari Alvero.


"Iya, benar, di bekerja di bagian front office. Dia adalah karyawan perusahaan Adalvino yang selalu bersikap ramah padaku sejak awal pertemuan kami. Walaupun saat itu aku masih belum bergabung dengan perusahaan Adalvino. Aku kenal Cleosa ketika pertama kali mengunjungi kantor perusahaan Adalvino. Waktu itu aku harus kembali mengantarkan sample roti dari toko roti tuan Logan. Karena Vian yang menggantikanku untuk mengantar sample roti ditolak mentah-mentah oleh seseorang berkedudukan tinggi di perusahaan Adalvino." Deanda berkata sambil sengaja menatap ke arah Alvero yang hanya berdehem kecil sambil mengalihkan wajahnya mendengar sindiran halus dari istrinya.


"Apa kira-kira yang membuat Cleosa menyukai Erich? Padahal setahuku Erich tidak seperti Ernest yang akan selalu bersikap ramah terhadap orang-orang yang ditemuinya." Dengan cepat Alvero berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya melihat Deanda yang mulai mengerti tentang tindakan-tindakan liciknya di masa lalu, untuk bisa menjebak Deanda agar bisa mendekat ke arahnya, dan menjadikan Deanda sebagai miliknya.


"Meskipun bagi orang lain Erich terlihat dingin dan acuh tak acuh terhadap orang dan lingkungan sekitarnya. Tapi Cleosa bisa menangkap kebaikan hati Erich. Bagi Cleosa, Erich itu dingin di luar, tapi begitu hangat di dalam." Alvero tersenyum mendengar perumpamaan Cleosa untuk menggambarkan bagaimana karakter Erich.


"Akhirnya, ada juga seorang gadis yang bisa melihat sisi lain dari Erich. Walaupun terlihat dingin dan seringkali tidak bisa menunjukkan ekspresinya, Erich adalah laki-laki yang baik, setia dan bertanggung jawab, aku jamin, siapapun gadis yang akan menjadi istrinya kelak, pasti akan bahagia hidup bersama Erich. Tapi aku tidak menyangka bahwa seorang gadis seceria Cleosa akan tertarik dengan si Erich yang dingin seperti es." Alvero berkata sambil tertawa dengan dengusan kecil dari hidungnya.


"Siapa yang berani mengatakan bahwa permaisuriku adalah perempuan biasa? Coba saja hadirkan ribuan atau bahkan jutaan wanita di depanku. Aku pastikan tidak ada satupun wanita di dunia ini yang bisa menandingi kehebatan permaisuriku yang begitu pandai, sudah berhasil mencuri hati seorang raja Gracetian, sejak awal pertemuan kita. Dan sepertinya, bukan pertemuan di depan mall, tapi sejak pertemuan di pantai Renhill 15 tahun yang lalu." Perkataan Alvero yang begitu memujinya membuat Deanda menggigit bibir bawahnya, lalu dengan cepat dipeluknya dengan erat tubuh Alvero dengan tangan Deanda yang berada di pinggang Alvero, mengelus-elus tubuh polos Alvero yang langsung tersentak.


Walaupun Deanda mengelus tubuh Alvero dengan tujuan menunjukkan rasa sayang dan terimakasihnya karena sudah bersedia membantu Cleosa agar bisa lebih dekat dan mengenal Erich. Tetapi, sentuhan Deanda, bagi Alvero adalah sebuah sentuhan yang mendobrak pertahanannya untuk meredam gairahnya yang sebenarnya sedari tadi sudah terpancing akibat kedekatan fisik mereka. Yang berusaha begitu keras ditahan oleh Alvero karena mengingat perkataan Deanda tentang rasa lelahnya.


Hah! Kamu benar-benar sedang mencari masalah sweety. Berani-beraninya kamu membangunkan singa yang sedang tertidur.

__ADS_1


Alvero berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyum liciknya.


Tanpa diduga oleh Deanda, tiba-tiba saja Alvero bergerak bangun dari tidurnya. dan sebelum Deanda sempat menyampaikan protes ataupun sekedar pertanyaan, Alvero yang sudah berdiri di samping tempat tidur langsung menggerakkan tangannya ke bagian belakang tubuh Deanda, dan dengan cepat mengangkat tubuh wanitanya itu dan menggendongnya.


"My Al... apa yang kamu lakukan?" Deanda berkata sambil bersiap untuk melompat turun. Tapi dengan sekuat tenaga, Alvero menahan tubuh Deanda agar tetap dalam gendongannya.


"Ritual mandi bersama. Salah sendiri, sentuhanmumu tadi sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tadi sudah tertidur dengan tenang." Wajah Deanda langsung memerah mendengar perkataan dari Alvero.


"Tapi my Al..."


"Hustt... tenanglah. Aku yang akan memimpin pagi ini, agar kamu bisa menyimpan tenagamu. Seperti kata papa Vincent, dia berharap segera menimang cucunya, karena itu kita harus bekerja dengan lebih giat lagi agar impian papa segera terwujud. Membahagiakan orangtua adalah tugas dan tanggung jawab kita sebagai anak." Alvero berkata sambil tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya.


Dengan tata[an mesranya, Alvero terus melangkah ke kamar mandi, lalu membuka handle pintu kamar mandi dan mendorong pintu kamar mandi dengan menggunakan tendangan telapak kakinya, membiarkan Deanda terdiam seribu bahasa dengan sikap canggung.


Ah, kamu selalu saja membuatku tidak berkutik yang mulia. Tapi jika itu untukmu, asalkan kamu bahagia, apapun akan rela aku berikan untukmu.


Akhirnya Deanda berkata dalam hati sambil tangannya bergerak melingkar di leher Alvero, membiarkan Alvero yang mulai menciumi wajah dan lehernya dengan mesra.

__ADS_1


 


 


__ADS_2