BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RENCANA SELANJUTNYA


__ADS_3

"Eh..." Evan bergumam pelan dengan nada kaget, hampir saja tanpa bisa mengendalikan dirinya, Evan berjalan mendekat ke arah Deanda untuk memastikan bahwa Deanda baik-baik saja dan belum sempat mencicip makanan mengandung racun arsenik itu.


Namun kesadaran Evan akan posisinya sebagai seorang duke dari negara Gracetian, membuatnya memaksakan diri untuk menahan gerakan tubuhnya untuk mendekati Deanda, jika tidak ingin dianggap berani bertindak kurang ajar terhadap seorang permaisuri Gracetian. Dan juga dianggap membangkang kepada Alvero, sebagai raja Gracetian, sekaligus suami sah dari Deanda.


Deanda sendiri masih diam terpaku di tempatnya, berusaha menenangkan diri, merasa sedikit shock dengan apa yang barusan terjadi. Tidak menyangka bahwa ternyata ada seseorang di luar sana yang sedang menginginkan kematiannya, yang pasti akan berdampak juga terhadap bayi di kandungannya, meskipun belum ada orang luar yang tahu tentang kehamilannya.


"Aku tidak pernah menyukai makanan yang menyertakan kacang di dalamnya. Kacang jenis apapun. Dan Avitus yang sudah bekerja sebagai pencicip makanan keluarga istana, tahu dengan pasti tentang kebiasaanku itu. Sedangkan permaisuri Deanda, dia cukup menyukai makanan yang mengandung kacang. Seorang Avitus juga mengetahui tentang hal seperti itu dengan baik. Jadi sasaran mereka  yang sebenarnya jelas adalah permaisuri Deanda, bukan aku." Alvero berusaha menjelaskan analisanya kepada Evan tentang alasan kenapa dia mencurigai bahwa sasaran pembunuh adalah Deanda, bukan dirinya.


"Kenapa orang itu mengincar nyawa permaisuri? Dendam apa yang dimiliki mereka?" Evan bertanya seolah sedang berkata pada dirinya sendiri, dengan sudut matanya menatap ke arah Deanda dengan perasaan lega melihat Deanda masih baik-baik saja saat ini, membuatnya tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum tipis ke arah Deanda, dan yang pasti senyum itu sempat terlihat oleh Alvero yang langsung mengalihkan wajahnya sambil mendengus pelan, tanpa diketahui oleh siapapun.


"Aku tidak tahu apa alasan orang itu, karena kita belum bisa menyebutkan nama siapa yang bertanggung jawab di balik semua ini. Yang penting sekarang segera menemukan bukti siapa yang sudah memberi perintah kepada Avitus walaupun kita mungkin sudah bisa menduga siapa orang yang sedang mencoba bermain api denganku dan mencari mati!" Akhirnya Alvero berkata sambil kembali memandang ke arah Evan, berharap Evan sudah mengalihkan pandangannya dari sosok Deanda, atau dia tidak akan bisa lagi menahan dirinya untuk mencari cara agar Deanda segera pergi dari tempat ini agar pria lain tidak bisa menikmati sosok cantik istrinya.


"Pelayan yang mencurigakan itu memiliki tato di punggungnya berupa gambar matahari setengah lingkaran dan kepala singa yang mengaum. Beberapa waktu ini, aku sengaja meminta seseorang untuk selalu mengawasi tindakan pelayan dengan tato itu." Perkataaan Alvero sukses membuat Evan membeliakkan matanya.

__ADS_1


"Jadi para pengkhianat itu benar-benar masih mengumpulkan para pengikut dan berusaha menyerang keluarga kerajaan." Evan berkata dengan kening berkerut, merasa tidak tenang.


Bagaimanapun keamanan negara Gracetian ada di bawah tanggung jawabnya sebagai seorang duke dengan status paling tinggi diantara duke yang lain karena dia memegang kekuasaan tertinggi di kemiliteran kerajaan Gracetian.


Semasa hidupnya, duke Lexi, ayahnya pernah menceritakan kepada Evan, bagaimana licik dan kejamnya para anggota kelompok pemberontak yang menggunakan tanda bergambar matahari setengah lingkaran dan kepala singa yang mengaum itu.


Menurut duke Lexi para pemimpin dan anggota kelompok itu seringkali dengan mudah membunuh orang tidak bersalah atau yang dianggapnya bisa membahayakan dan menjadi penghalang kelompok mereka.


Mereka dikenal sebagai kelompok yang seringkali bersikap brutal dan sering melakukan pembantaian dan perampokan. Tidak perduli laki-laki, perempuan, anak-anak ataupun dewasa mereka akan dengan mudah membunuh mereka tanpa rasa bersalah, termasuk orang-orang yang ada di desa Erich waktu itu.


"Yang Mulia, ada baiknya kita bergerak lebih cepat dari mereka. Berikan ijin pada saya untuk melakukan pembersihan di istana. Saya akan mengerahkan orang sekarang juga untuk melakukan pengecekan terhadap seluruh pelayan dan pekerja, termasuk para pengawal kerajaan. Siapapun diantara mereka yang memiliki tato di tubuh mereka harus segera kita singkirkan dari istana." Evan berkata sambil menatap lurus ke arah Alvero yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Dari awal aku sudah merencanakan itu jika saat yang tepat tiba. Dan sepertinya ini adalah saat yang tepat. Lakukan apa yang baru saja kamu katakan duke Evan. Tapi...." Alvero menggantung kata-katanya sebentar, sekilsa diliriknya Deanda yang memilih untuk duduk di kursi makan sambil mendengarkan pembicaraan antara Evan dan Alvero.

__ADS_1


"Aku ingin agar berita penangkapan Avitus tidak menyebar ke pihak lawan. Untuk itu, kita harus melakukan sesuatu agar orang yang memberikan perintah kepada Avitus berpikir bahwa rencananya berhasil dengan baik, bahwa Avitus sudah berhasil meracuni permaisuri. Agar kita tahu apa rencana dia selanjutnya setelah permaisuri berhasil diracun. Karena itu, aku membutuhkan bantuan permaisuri untuk berpura-pura mengalami keracunan. Dan Ernest, berikan surat pengunduran diri Avitus kepada departemen HRD, biarkan mereka menganggap Avitus sudah pergi meninggalkan kota Tavisha tanpa pesan." Mendengar perkataan Alvero, baik Evan maupun Ernest langsung mengangguk dan tersenyum puas mendengar rencana Alvero.


"Baik, kalau begitu, duke Evan, aku akan memberikan plakat milik raja sebagai tanda kamu diberikan ijin untuk melakukan penyisiran di istana. Tunggu sebentar. Aku akan mengambilnya untukmu. Dan Ernest, hubungi dokter keprecayaan kita untuk berpura-pura melakukan perawatan terhadap permaisuri. Agar tidak menimbulkan pertanyaan, karena kami makan siang di penthouse, biarkan permaisuri dirawat di penthouse ini. Itu juga bagus agar kami berdua bisa memberikan hak penuh kepada duke Evan untuk mengobrak abrik istana siang ini." Evan maupun Ernest langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Alvero.


"Aku yakin setelah ini, orang itu akan mencari cara untuk meluapkan kemarahannya kepada kita. Saat itu terjadi, justru akan menguntungkan kita. Kita tunggu saja, aku yakin tindakannya kali ini akan gegabah dan tanpa perhitungan karena dikuasai oleh emosi sekaligus ketakutan." Alvero berkata dengan nada terdengar optimis.


“Singa yang posisinya terjepit, dia akan menyerang sekitarnya dengan sembarangan. Bahkan dia tidak akan bisa lagi membedakan mana kawan dan lawan.” Alvero berkata sambil menyungingkan senyum dengan salah satu susudut bibirnya terangkat ke atas.


"Aku akan mengambil plakat raja untukmu duke Evan." Alvero berkata sambil melangkah ke arah kamarnya.


Dan begitu Alvero melewati Deanda, dengan cepat tangannya meraih pergelangan tangan Deanda dan memegangnya dengan cukup erat, mengajaknya untuk ikut pergi bersamanya meninggalkan Evan yang langsung menatap kepergiannya, dan juga Ernest yang sedang menghubungi dokter.


 

__ADS_1


 


__ADS_2