BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERTEMUAN DENGAN RED DAN MARCELLO (1)


__ADS_3

"Selamat pagi, selamat datang Yang Mulia Alvero, Permaisuri Deanda." Marcello yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung memberikan ucapan selamat pagi dan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda yang cukup membuat Deanda merasa kikuk. Karena bagaimanapun Marcello adalah paman yang memiliki hubungan dekat dengannya dan sudah seperti ayahnya sendiri.


Alvero segera menggerakkan tangannya, meminta Marcello menghentikan salam hormatnya karena dilihatnya Deanda yang tampak kikuk dan hanya terdiam di tempatnya berdiri. Terlihat jelas bagi Alvero bahwa Deanda masih belum terbiasa dengan status barunya sebagai permaisuri Gracetian.


"Uncle..." Begitu Deanda melihat Marcello sudah kembali menegakkan tubuhnya dengan langkah cepat Deanda mendekat ke arah Marcello dan memeluk tubuh pamannya dengan erat.


Melihat itu baik Alvero maupun Marcello langsung tersenyum. Dengan lembut Marcello menepuk-nepuk punggung Deanda, menunjukkan bahwa dia begitu menyayangi kepanakannya itu.


"Bagaimana kabarmu setelah menikah? Apa kamu bahagia?" Marcello yang masih memeluk Deanda berbisik dengan suara begitu pelan, tidak ingin pertanyaannya terdengar oleh yang lain, terutama Alvero.


Begitu Marcello merasakan kepala Deanda yang menumpu pada bahunya menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan gerakan pelan, senyum di wajah Marcello tampak semakin mengembang.


"Ah, syukurlah. Mendengar berita yang selama ini tentang bagaimana arogan dan kerasnya yang mulia…. Belum lagi gosip tentang sifat playboynya, aku begitu takut kamu tidak Bahagia setelah menikah dengannya. Apalagi belum lama kalian saling mengenal yang mulia langsung memintamu untuk menikah." Marcello kembali berbisik dengan suara pelan.


"Semua berita itu hanya sekedar gosip Uncle. Jangan pernah percaya berita seperti itu. Yang Mulia Alvero sangat baik padaku Uncle, beliau sangat menghormati dan menyayangiku. Terimakasih untuk dukungan dan doa Uncle atas pernikahan kami." Deanda berbisik pelan, setelah itu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Marcello.

__ADS_1


"Bagiku yang penting kamu bahagia, itu sudah cukup. Rasanya lega bisa menjagamu sampai detik ini. Jujur saja uncle merasa sedikit sedih karena mulai sekarang uncle tidak berhak lagi mengatur kehidupanmu. Tapi uncle merasa lega karena yang mulia pasti akan bisa menjagamu jauh lebih baik dari pada uncle.” Marcello berkata sambil menepuk-nepuk pelan kedua lengan Deanda.


“Ah, maaf Yang Mulia, karena terlalu senang mendapatkan kunjungan dari Deanda, saya sampai lupa mempersilahkan Yang Mulia untuk duduk. Silahkan duduk Yang Mulia….” Setelah Marcello melepaskan tangannya dari lengan Deanda, Marcello segera mendekat ke arah Alvero dan mempersilahkan raja Gracetian itu untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamunya.


“Uncle… dimana Red? Apa dia belum datang?” Deanda bertanya sambil matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok Red.


“Eh, sebentar. Dia ada di belakang. Biar aku memanggilnya.” Mendengar perkataan Marcello, Deanda langsung mengernyitkan keningnya mendengar bahwa Red sedang ada di belakang, membuat Deanda berusaha menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Red di sana.


Namun, begitu beberapa saat kemudian Deanda melihat sosok Red datang bersama Marcelllo yang tadi sempat mengatakan akan melihatnya di belakang, bibir Deanda langsung menyungingkan sebuah senyum. Namun senyuman itu berubah menjadi sebuah senyuman geli begitu melihat Red yang sedang berjalan ke arahnya dan Alvero yang sudah duduk di sofa, berjalan sambil membawa sebuah nampan berisi teko dan sejumlah cangkir kosong di dekat teko itu.


“Uncle Marcello, Red…. Kenapa kalian harus repot-repot seperti ini.” Deanda sudah bangkit dari duduknya bersiap membantu Red, namun dengan gesit Ernest berjalan ke arah Red dan Marcello, mendekati mereka dan langsung meraih nampan itu dari tangan Red.


“Biarkan saya yang membantu Anda Tuan Red.” Ernest berkata sambil membawa nampan itu dan menaruhnya di depan meja yang ada di depan sofa tempat dimana Deanda dan Alvero berada.


Begitu melihat Ernest sudah membantu Red, Alvero langsung meraih pergelangan tangan Deanda yang berdiri di sampingnya, memberikan kepada Deanda tanda agar istrinya itu duduk kembali di sampingnya seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Tenanglah Nona bes… eh permaisuri Deanda. Anda tahu saya sudah terbiasa melakukan hal seperti ini karena memang tidak ada istri yang membantu.” Red berkata dengan tersenyum, menyadari dia hampir saja salah menyebutkan nama panggilan untuk Deanda dengan nona besar, nama panggilan yang selalu dia gunakan untk memanggil Deanda.


Dengan status Deanda sekarang sebagai istri Alvero sebagai raja Gracetian, tentu saja Red tidak bisa lagi dengan sembarangan memanggil nama Deanda dengan sebutan nona besar. Bahkan dia tidak lagi bisa berbicara secara santai dengan Deanda menggunakan kata-kata aku dan kamu seperti dulu lagi.


“Uncle Marcello, Red, bisakah…. Saat kita bertemu tanpa ada orang lain seperti ini, kalian berdua tetap bersikap seperti biasanya kepadaku. Bahkan aku lebih suka jika kalian tetap memutuskan untuk tidak memakai bahasa formal saaat berbicara denganku. Aku merasa tidak nyaman dengan sikap kaku diantara kita.” Deanda yang masih berdiri dengan pergelangan tangannya dipegang oleh Alvero yang duduk di samping tempatnya berdiri mengatakan tentang keinginannya agar mereka tidak bersikap formal kepadanya, agar Deanda tetap merasa nyaman bersama mereka seperti dulu, sebagai sebuah keluarga.


“Tapi Permaisuri, kami tidak bisa…” Red berkata dengan nada ragu.


“Ah, aku lupa, itu bukan sebuah permintaan, tapi sebuah perintah…” Mendengar perkataan Deanda yang diucapkannya dengan penuh percaya diri, baik Red, Marcello dan Ernest tampak tersentak kaget, hanya Alvero yang masih memegang pergelangan tangan Deanda yang terlihat menyungingkan senyum di wajahnya, melihat dan mendengar bagaimana Deanda hari ini bersikap tegas dan mulai bisa menggunakan kekuasaannya untuk menunjukkan kepada orang lain tentang apa yang diinginkannya, dan memberikan perintahnya sebagai penguasa untuk sesuatu hal yang baik.


“Yang Mulia Alvero….” Baik Red dan Marcello langsung menyebutkan nama Alvero sambil sedikit menundukkan kepala mereka setelah mendengar perintah dari Deanda yang membuat mereka merasa tidak nyaman, takut dianggap tidak menghormati Deanda sebagai permaisuri Gracetian.


Jika saja Deanda meminta hal itu kepada mereka hanya untuk saat mereka saja yang sedang mengobrol, bagi Red dan Marcello hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan dengan terlalu dalam. Tetap masalahnya, di hadapan mereka saat ini juga duduk raja Gracetian, Alvero Adalvino. Bagaimana mereka berani memanggil nama Deanda dan berlaku santai seperti dahulu lagi terhadap istri dari raja Gracetian yang seharusnya begitu mereka hormati.


“Tuan Red, uncle Marcello, kalian berdua sudah mendengar perintah dari permaisuri Deanda dengan jelas. Bukankah jika kalian menolak perintah permaisuri Deanda berarti Anda berdua sedang menentang penguasa negeri ini? Lagipula, saat bertemu Anda berdua, aku juga merasa lebih suka sebagai Alvi daripada Alvero.” Alvero berkata dengan suara tenang, yang justru membuatnya terlihat begitu berkharisma dan berwibawa sebagai sosok seorang raja yang bijaksana, tapi di sisi lain sosoknya menunjukkan bahwa dia memiliki kekuatan dan kemampuan hebat dalam memimpin.

__ADS_1


__ADS_2