
Aku tahu sebagai seorang knight, yang sudah mendedikasikan kehidupannya untuk melindungi anggota keluarga kerajaan dan istana, kalau ada berada di posisi papa Alexis, mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengannya. Seperti saat aku memutuskan menikah dengan yang mulia Alvero yang awalnya hanya ingin membantunya agar dia bisa naik tahta. Apalagi saat itu mama Tiana juga memberikan wasiat terakhirnya agar papa melindungi mama Larena.
Deanda berkata dalam hati dengan dada yang terasa sesak karena memikirkan semua hal yang terjadi secara mendadak hari ini. Suatu kebenaran yang membuat hatinya terluka sekaligus bahagia secara bersamaan.
Akan tetapi, sebagai anak, aku juga berhak meminta hakku untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya, walaupun saat itu sepertinya tidak mungkin papa membawaku bersamanya. Jika saat itu papa membawaku, bisa dipastikan ibu suri Eliana akan langsung tahu bahwa papa masih hidup dan akan semakin mengejarnya. Aku tahu jika sikapku akan membuat suamiku sebagai raja Gracetian juga sulit. Karena papa Alexis mengabaikanku sebagai anak untuk melindungi mama dan adik kandungnya. Aku tahu yang mulia juga tidak akan bisa sepenuhnya membenarkan ataupun menyalahkan tindakan papa Alexis. Yang mulia pasti akan menghargai keputusan apapun yang aku ambil. Tapi untuk saat ini, aku ingin menenangkan diriku.
Deanda kembali berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar sebelum akhirnya dia mencondongkan tubuhnya ke arah Alvero. Saat ini Deanda memutuskan untuk tidak mengambil keputusan apapun, karena belajar banyak dari apa yang pernah dia lihat. Keputusan yang diambil seseorang dalam kondisi emosi, bisa membawa kehancuran dan penyesalan di masa depan. Karena itu dia memilih untuk diam.
“Yang Mulia, aku ingin beristirahat untuk sementara waktu. Hari ini cukup melelahkan bagiku, dan aku tidak mau memaksakan diriku lagi.” Tanpa menanggapi perkataan dari Alexis, Deanda berkata pelan kepada Alvero, sambil sedikit mengelus pinggangnya yang tiba-tiba terasa pegal kembali, membuat mata Alvero sedikit terpaku menatap ke arah perut istrinya, dimana hari ini dia baru tahu di sana ada nyawa yang sudah dititipkan Tuhan kepada mereka berdua untuk menjaga dan bertanggung jawab penuh atas kehadirannya.
Mendengar perkataan dari Deanda, Alvero langsung menarik nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Justru Alvero merasa senang Deanda tidak memaksakan dirinya, karena kondisi kehamilan Deanda yang harus menjaga emosinya, membuat Alvero justru khawatir jika Deanda terus memaksakan dirinya akan membawa dampak buruk bagi bayi di dalam kandungannya.
__ADS_1
Sepertinya istriku belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran apalagi memaafkan papa Alexis kembali di kehidupannya. Ah, aku benar-benar dalam situasi yang begitu canggung. Deanda adalah istriku, dimana aku harus menghargai apapun keputusannya, dan menjaga kondisinya yang sedang mengandung agar tidak tertekan dengan apa yang terjadi saat ini. Tapi, papa Alexis melakukan semua itu untuk menyelamatkan dan menjaga mama Larena dan Alaya. Dilihat dari sisi sebagai seorang raja Gracetian, apa yang dilakukan papa Alexis justru menunjukkan begitu besar cintanya kepada negara Gracetian, sehingga dia pantas mendapatkan penghargaan atas kesetiaan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada keluarga kerajaan. Jiwa patriotiknya tidak bisa disandingkan dengan pahlawan lain yang pernah ada di Gracetian.
Alvero berkata dalam hati sambil menatap lembut, dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, ke arah Deanda yang sudah bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi.
“Maaf, untuk hari ini, aku tidak akan ikut serta lagi dalam pertemuan ini. Mungkin yang mulia Alvero dan yang mulia Vincent, perlu lebih banyak penjelasan tentang keberadaan dan kondisi ibu suri Larena saat ini. Untuk hukuman yang tadi disebutkan oleh papa Alexis sebelumnya. Aku bukan seorang anak yang berhak menjatuhkan hukuman kepada orangtuanya. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka karena sudah bersikap kurangajar, berani menghukum orangtuanya sendiri. Aku tidak akan ikut campur lagi dalam urusan ini. Semua keputusan, aku serahkan kepada yang mulia Alvero sebagai raja Gracetian, pemilik kekuasaan tertinggi di Gracetian. Beliau akan mewakili pendapat dan keputusanku.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Deanda langsung membalikkan tubuhnya untuk kemudian berjalan ke arah kamar yang biasa disediakan Enzo untuknya dan Alvero jika menginap di villanya.
Mendengar perkataan Deanda, semua yang ada di ruangan itu tahu bahwa Deanda masih ingin menata hatinya, tapi dari cara Deanda menyebutkan nama Alexis dengan sebutan papa tanpa adanya nada tinggi di dalamnya, terlihat bahwa Deanda berusaha keras untuk bisa menerima penjelasan tentang alasan Alexis meninggalkannya bersama Lilian waktu itu.
Hanya saja Deanda butuh waktu untuk menenangkan dirinya untuk saat ini. Apalagi saat ini, posisinya bukan hanya sekedar anak dari seorang Alexis Federer, tapi dia juga sebagai permaisuri Gracetian, dimana sekarang dia juga merupakan bagian dari keluarga kerajaan.
Saat ini dia sudah menjadi seorang wanita dengan nama Adalvino di belakang namanya sejak menikah dengan Alvero. Sehingga membuatnya harus berpikir dari dua sisi, sebagai Deanda, anak dari Alexis Federer, tapi di satu sisi, harus bisa berpikir sebagai Deanda, istri dari Alvero Adalvino, permaisuri dari Gracetian, sekaligus menantu dari Larena dan kakak ipar dari Alaya.
__ADS_1
“Permaisuri Deanda….” Baru selangkah Deanda berjalan, tiba-tiba saja Alvero memanggilnya sambil dengan cepat tangannya meraih tangan Deanda, membuat Deanda menghentikan langkahnya dan sedikit berbalik untuk dapat menatap ke arah Alvero, sambil mengernyitkan dahinya, dengan wajah terlihat heran.
Kenapa tiba-tiba yang mulia memanggilku dengan sebutan permaisuri? Tidak seperti biasanya? Apa yang sedang ingin ditunjukkan oleh yang mulia kepadaku?
Deanda bertanya dalam hati karena merasa heran, Alvero yang biasanya memanggilnya dengan sweety atau namanya langsung, tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan permaisuri.
Begitu Deanda menatap ke arahnya, Alvero langsung membalas tatapan Deanda dengan lembut dan mesra. Dan dengan gerakan cepat, Alvero menarik tangan Deanda dan mencium punggung telapak tangannya menggunakan bibirnya.
Terimakasih untuk kebesaran hatimu, permaisuriku tercinta. Permaisuri Gracetian yang begitu hebat, tapi juga begitu baik hati dan lembut.
Alvero berkata dalam hati sambil mencium punggung telapak tangan Deanda, dengan matanya menatap intens ke arah wajah permaisurinya.
__ADS_1
Dan seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Alvero, Deanda menarik nafasnya dalam-dalam beberapa saat sebelum akhirnya sebuah senyum tersungging di bibirnya. Seolah menyatakan bahwa dia melakukan semuanya itu untuk Alvero, membuat dada Alvero berdesir merasakan bahwa dia semakin hari semakin terpesona dengan sikap istrinya.