BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RENCANA SELANJUTNYA


__ADS_3

Dengan gerakan tangan yang terlihat begitu cepat, tangan Deanda bergerak untuk mencubit tubuh Alvero. Namun Alvero yang sudah menduga godaannya akan membuat Deanda menyerangnya, dengan cepat melompat turun dari tempat tidur, sambil meraih night robenya yang tergeletak di bagian bawah tempat tidur dan langsung mengenakannya.


Alvero melakukan gerakan menghindar dari serangan tangan Deanda sambil tertawa geli, melihat kesuksesannya dalam menggoda istrinya, yang Alvero tahu pasti tidak akan berani mengejarnya karena tubuh Deanda yang masih polos di balik selimut, sedang pakaian tidurnya terlempar cukup jauh dari tempat tidur.


Dengan kemampuannya menghindar, Alvero yakin, Deanda tidak akan mungkin mengejarnya dengan hanya berbalut selimut di tubuhnya. Yang pasti diketahui Deanda akan percuma saja melakukan itu. Karena gerakannya pasti tidak akan gesit jika dia membiarkan selimut tetap membalut tubuhnya. Sedangkan Deanda tahu persis bagaimana gesit dan hebatnya suaminya dalam hal menghindari serangan.


Dan sesuai dengan perkiraan Alvero, Deanda sendiri tidak berani mengambil resiko. Deanda tidak berani keluar dari selimut dengan tubuh polosnya tanpa mengenakan pakaiannya. Karena jika dia berani mengambil pakaian tidurnya saat Alvero masih berada di dalam kamar, bisa jadi laki-laki itu akan kembali meminta jatahnya kembali.


Lebih baik aku menunggu yang mulia keluar dari kamar. Dengan libido yang mulia yang sedemikian besar, kalau aku berani membuatnya tergoda sedikit saja, pasti kami berdua kan kembali berakhir di tempat tidur. Padahal banyak hal yang masih harus kami kerjakan.


Deanda berkata dalam hati sambil menarik nafas karena sedikit kecewa tidak bisa membalas Alvero. Tapi Deanda juga tersenyum memandang ke arah Alvero dengan penuh kekaguman dan rasa cinta pada sosok laki-laki miliknya itu.


(Munculnya hasrat aktifitas seksual disebut juga dengan libido. Secara umum, libido adalah dorongan atau hasrat seksual yang ada pada setiap orang untuk melakukan akitifitas seksual. Dalam hal ini, tingkat libido pada masing-masing orang bisa berbeda. Tinggi dan rendahnya libido atau hasrat seksual dipengaruhi oleh berbagai macam factor. Mulai dari kondisi kesehatan, konsumsi obat-obatan, maupun kualitas hubugnan dengan pasangan. Masing-masing factor ini dapat memberikan efek tersendiri pada keinginan sesorang untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan).


Walaupun pagi ini Deanda masih merasa mengantuk karena kegiatan panas yang baru dilakukannya bersama Alvero baru berakhir pukul 4 dini hari tadi. Tapi mengingat bagaimana Alvero selalu memperlakukannya dengan lembut saat menyentuhnya, dan begitu memanjakannya, membuat Deanda merasa begitu bahagia dan merasa begitu dipuja sebagai wanita.


Bahkan setiap sentuhan dari Alvero pada tiap jengkal tubuhnya, masih bisa dia ingat dengan jelas, membuat tanpa sadar tubuhnya sedikit bergetar memberikan reaksi atas ingatan peristiwa dini hari tadi. Mengingat semua sensasi yang diberikan Alvero yang membuatnya menjadi wanita yang sempurna dan paling bahagia.

__ADS_1


Akhirnya dengan pasrah Deanda sengaja menunggu Alvero keluar dari kamar, agar nantinya dia bisa bergerak cepat mengenakan kembali pakaian tidurnya, tanpa membuat Alvero kembali tergoda.


“Aku akan keluar sebentar meminta pelayan menyiapkan sarapan untuk kita. Apa kamu ingin aku meminta pelayan untuk datang ke sini agar membantumu membersihkan diri?” Alvero berkata sambil mengikat tali night robe yang sudah dikenakannya kembali.


“Tidak perlu. Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri dan menjadi bahan gosip dari semua orang yang ada di villa pagi ini.” Alvero langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Deanda barusan.


“Apa maksudmu? Siapa yang berani memeprmalukanmu dan membicarakanmu di sini?” Alvero berkata sambil menghentikan gerakan tangannya dari mengikat tali night robenya, sehingga dada bidang dan perut sixpacknya kembali terlihat jelas oleh Deanda.


Setelah itu Alvero bergerak pelan dan sedikit mendekat kembali ke arah Deanda yang masih duduk bersandar di atas temapt tidur dengan tubuh terbalut selimut.


“Kalau kamu menjadi pelayan yang melayaniku, apa yang akan kamu pikirkan dan bicarakan dengan teman-teman sekerjamu kalau melihat ini?” Dengan gerakan pelan, Deanda sedikit menurunkan selimut yang tadinya masih menutupi tubuhnya sampai sebatas leher menjadi sebatas dadanya, membuat Alvero bisa melihat dengan jelas beberapa tanda kepemilikan di tubuh istrinya yang sebagian sudah berwarna biru.


Sebuah senyum bangga, puas, sekaligus bahagia. Dan jika tidak melihat wajah mengantuk masih telihat pada Deanda, rasanya melihat sikap menggemaskan dari Deanda, Alvero tidak keberatan jika harus menambahkan tanda kepemilikannya di tubuh istrinya yang selalu berhasil menggoda dan membangunkan jiwa laki-lakinya.


“Mau sampai kapan kamu terus meninnggalkan tanda seperti ini? Kamu membuatku tidak bebas mengenakan pakaian dengan bahu terbuka.” Mendengar protes Deanda, Alvero langsung tertawa geli.


“Kalau begitu, aku lebih memilih untuk membantumu mandi menggantikan para pelayan agar tidak bergosip, daripada kamu memintaku menghentikan kebiasaanku memberikan tanda cinta di tubuhmu. Lagipula, aku tidak suka jika kamu mengenakan pakaian terlalu terbuka yang bisa mengekspos kulitmu yang putih mulus. Lebih baik kamu tetap memiliki tanda-tanda itu agar aku saja yang bisa menikmati keindahan kulit mulusmu sepuasnya.” Alvero berkata dengan tanpa merasa bersalah dan tangannya kembali mengikat tali night robenya.

__ADS_1


Dasar yang mulia… selalu saja mau menang sendiri. Semuanya harus sesuai dengan keinginannya.


Deanda berkata dalam hati sambil meringis geli, melihat sosok mengagumkan raja Gracetian yang jika berhadapan dengannya kadanag terlihat begitu kekanak-kanakan. Pemikiran itu membuat tanpa sadar Deanda memanyunkan bibirnya.


"Aku keluar dulu sebentar." Tanpa perduli dengan bibir manyun Deanda, Alvero berkata sambil tersenyum.


Begitu Alvero sudah selesai mengikat tali night robenya di bagian pinggang, Alvero berbegas keluar dari kamar. Dan begitu pintu kamar tertutup kembali, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Deanda untuk bangkit dari tidurnya dan segeranmeraih pakaian tidurnya, melemparkannya ke keranjang pakaian kotor yang ada di kamar mandi, dan langsung mengambil pakaian santai di walk in closet kamar tersebut.


Tidak begitu lama kemudian, Deanda yang baru saja mengganti pakaiannya langsung melihat ke arah pintu begitu di dengarnya suara pintu yang dibuka dari arah luar. Sosok Alvero yang menyembul dengan membawa sebuah gelas berisi susu hangat, membuat senyum langsung mengembang di bibir Deanda.


“Sudah berganti pakaian? Sebentar lagi pelayan akan mengantar sarapan kita ke kamar.” Alvero berkata sambil menyodorkan gelas berisi susu hangat di tangannya kepada Deanda yang langsung menerimanya, bahkan langsung meneguk dan menikmatinya.


“Terimakasih my Al.” Deanda berkata lirih sambil kembali meneguk susu hangat itu, karena tenggorokannya juga terasa begitu kering.


"Setelah sarapan dan membersihkan diri, kita akan menemui Enzo dan membahas rencana selanjutnya. Besok aku akan melakukan pertemuan penting dengan duke Evan dan Enzo untuk mebahas masalah papa Alexis, dan beberapa masalah keamanan kerajaan selama beberapa waktu ini. Kamu bisa beristirahat di villa besok sambil menunggu rencana pertemuan kami selesai." Alvero berkata sambil mengelus lembut kepala Deanda yang sedang menikmati susu hangatnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2