
Kegelisahan Enzo semakin menggila mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alvero untuk earl Robin, namun di sisi lain mau tidak mau Enzo juga harus mengakui bahwa pertanyaan Alvero barusan... Dia juga begitu ingin mengetahui jawaban dari earl Robin tentang pertanyaan itu.
Sekilas Enzo melirik ke arah Melva, gadis yang biasanya terlihat selalu ceria itu, saat ini terlihat diam tanpa bisa berbuat apa-apa karena dia tahu betul siapa yang sedang dihadapinya sekarang, seorang raja Gracetian dengan permaisurinya, dua orang yang di kerajaan Gracetian memiliki tampuk kepemimpinan tertinggi. Dua orang yang hanya dengan membuka bibirnya bisa menentukan hidup mati seseorang di Gracetian.
"Kalau pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab oleh Anda. Bagaimana jika aku memberikan pertanyaan lain kepada Anda Earl Robin? Apa yang membuat Anda tidak terlalu menyukai kekasih countess Melva yang sekarang?" Pertanyaan dari Alvero lagi-lagi membuat orang-orang yang ada di sekitarnya kembali tersentak kaget, terlebih Melva yang merasa benar-benar merasa dipojokkan oleh pertanyaan Alvero barusan.
Sebuah pertanyaan lain yang juga tidak mudah untuk dijawab oleh earl Robin, tapi dia tahu dia harus menjawab dengan jujur namun bijaksana pertanyaan dari raja Gracetian yang memang dikenal tidak suka basa basi saat bertindak maupun berkata-kata itu.
Dengan cepat Alvero menggerakkan tangannya yang sedang menggenggam tangan Deanda begitu Alvero merasakan bahwa tubuh Deanda berniat bergerak ke depan. Dan dengan ujung jari telunjuknya yang sedang menggenggam tangan Deanda, Alvero memberi kode kepada Deanda agar tetap diam dengan cara menggerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri ujung jari telunjuknya ke telapak tangan Deanda yang sedang digenggamnya. Mendapat kode dari Alvero, akhirnya Deanda memilih untuk diam dan hanya bisa memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Yang Mulia Alvero..." Karena tidak tahan, akhirnya Enzo menyebutkan nama Alvero sambil berjalan ke depan, mendekati Alvero yang langsung menatapnya dengan mata hazelnya yang terlihat serius.
__ADS_1
"Ah, sepertinya pangeran Enzo juga ingin mendengar jawaban dari Earl Robin. Aku yakin pangeran Enzo bisa membantu earl Robin untuk menemukan laki-laki yang diidamkan oleh earl Robin untuk menjadi menantu jika Earl Robin tidak keberatan menceritakan orang seperti apa yang menjadi menantu impian bagi Earl Robin." Tanpa disangka oleh Enzo, Alvero justru berkata sambil menarik tangan Enzo dan tiba-tiba saja Alvero langsung memeluk bahu Enzo, sengaja ingin menunjukkan kepada earl Robin bahwa Alvero begitu menghargai keberadaan Enzo sebagai pangeran Adalvino walaupun Enzo begitu jarang terlibat dengan urusan kerajaan.
Earl Robin akhirnya menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Alvero.
"Saya sungguh merasa tersanjung, bahkan masalah sekecil itu Yang Mulia Alvero berkenan untuk menanyakan bagaimana pendapat saya. Yang Mulia sungguh perduli dengan keluarga saya. Bagi saya, tidak ada kriteria khusus bagi laki-laki yang ingin menjalin hubungan dengan Melva, hanya perlu seorang laki-laki yang mencintainya dengan tulus, tanpa ada tujuan lain yang disembunyikannya, dan dia harus bisa mendukung kehidupan Melva sekarang sebgai seseorang yang menyukai seni. Saya ingin tidak perduli dengan latar belakang seseorang asal dia mau berubah demi masa depannya. Tetapi jika boleh jujur, mana ada orangtua yang tidak perduli dengan latar belakang dari calon menantunya? Dan untuk laki-laki yang mungkin Yang Mulia dengar saat ini merupakan kekasih Melva, saya hanya merasa belum menemukan bahwa laki-laki tersebut sesuai dengan yang saya katakan sebelumnya." Earl Robin menjawab dua pertanyaan Alvero sekaligus, sambil melirik ke arah Melva yang sedikit menundukkan wajahnya dengan wajah memerah.
Perasaan Melva saat ini benar-benar bercampur aduk. Antara malu, jengkel, kecewa, marah, sedih, dan entah apalagi yang sedang dia rasakan, yang pasti jawaban ayahnya secara tidak langsung menunjukkan padanya secara terang-terangan bahwa ayahnya benar-benar keberatan dia menjalin hubungan kasih dengan kekasihnya sekarang.
Namun, di sisi lain Deanda juga merasa Melva sungguh beruntung masih memiliki ayah yang masih bisa menegur, memberi nasehat dan pendapat, bahkan masih bisa memarahinya jika dia melakukan sebuah kesalahan. Walaupun kadang kemarahan dan teguran seorang ayah terasa menyakitkan, tapi sikap itu merupakan ungkapan dari rasa sayang dan perhatian dari seorang ayah kepada putrinya terkasih yang tidak ingin jika ke depannya mengalami kehidupan yang sulit karena sudah salah melangkah dan memilih pria yang salah sebagai suaminya.
"Countess Melva adalah wanita yang cantik dan hebat dalam seni. Aku berharap Countess Melva bisa bertemu pangeran impiannya dalam dunia nyata yang benar-benar memiliki cinta yang tulus untuk Countess Melva. Entah kenapa, sampai sekarang, aku masih percaya bahwa orang yang baik, akan mendapatkan orang yang baik pula sebagai pasangannya. Seorang kekasih yang baik, belum tentu dia bisa menjadi seorang suami yang baik. Seorang suami yang baik, dia pasti akan menjadi kekasih yang baik, bahkan setelah menikah. Sebelum memutuskan, ada baiknya seperti kata earl Robin, kenali lebih lebih dalam terlebih dahulu tentang dia supaya tidak ada penyesalan di masa depan." Dengan suara lembut dan hati-hati, Deanda memberikan nasehatnya kepada Melva yang ditilik dari usianya, tidak jauh berbeda darinya, karena itu Deanda merasa percaya diri untuk memberi Melva sedikit masukan.
__ADS_1
Toh, selain usia mereka yang hampir sama, Deanda merasa dia juga sudah menikah, merasa pantas untuk memberi nasehat kepada wanita lain yang belum menikah. Dan alasan terbesar Deanda sebenarnya adalah, berusaha membantu Enzo. Berusaha membuat adanya kesempatan bagi Melva untuk mempertimbangkan keberadaan Enzo sebagai seorang laki-laki baik yang pantas untuk dibalas cintanya.
Kata-kata Deanda sukses membuat semua orang diam termenung, membuat suasana kembali sedikit hening untuk beberapa waktu, karena sibuk dengan pikirannya masing-masing akibat perkataan Deanda barusan. Alvero yang merasa begitu bangga mendengar kata-kata bijak istrinya, earl Robin yang merasa kagum dengan cara berbicara permaisuri Gracetian, Enzo yang tidak menyangka bahwa kata-kata Deanda sungguh bisa memberinya kesempatan untuk mendapatkan hati Melva, karena dengan jelas Enzo bisa melihat bahwa saat ini Melva terlihat memikirkan kata-kata bijak Deanda barusan.
"Ah, langit sudah gelap. Ternyata menikmati keindahan suasana sunset bisa membuat orang lupa diri sehingga tidak sadar bahwa cacing-cacing di perut mulai melakukan demo. Apa Countess Melva tidak keberatan untuk menemani kami menikmati jamuan makan malam yang sudah disiapkan oleh pangeran Enzo?" Kata-kata Deanda yang sengaja diucapkannya untuk memecahkan keheningan dan suasana canggung cukup berhasil membuat Melva menyunggingkan senyum di wajahnya yang sebelumnya tampak seperti orang yang sedang memiliki beban berat.
"Kalau Permaisuri tidak keberatan, dengan senang hati saya akan menemani Yang Mulia Permaisuri." Dengan suaranya yang terdengar lembut, Melva menjawab ajakan Deanda dengan sikap sopan.
"Yang Mulia Alvero.... Apa Yang Mulia juga akan makan malam sekarang? Jika tidak aku dan countess Melva akan ke dalam terlebih dahulu untuk menikmati makan malam." Deanda bertanya sambil memandang ke arah Alvero yang langsung menyunggingkan senyumnya begitu mendengar ajakan istrinya.
"Kamu bisa masuk untuk makan terlebih dahulu bersama countess Melva. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan earl Robin dan pangeran Enzo. Sebentar lagi kami akan menyusul kalian." Alvero sengaja mengatakan hal seperti itu, berharap dengan Deanda makan malam bersama Melva bisa memberikan lebih banyak kesempatan untuk memberi nasehat dan meberikan pendapatnya tentang hubungan Melva dengan kekasih yang tidak begitu disukai oleh earl Robin.
__ADS_1
Bagaimanapun pembicaraan Deanda dan Melva sebagai sesama wanita pasti akan lebih dipercaya oleh Melva daripada seorang laki-laki sepertinya yang memberi Melva nasehat. Itu adalah salah satu rencana yang disiapkan oleh Alvero untuk bisa membantu Enzo agar bisa mendapatkan gadis impiannya.