
"Sayang… kamu benar-benar seperti kucing liar, tidak perduli dengan waktu dan tempat." Rolland berbisik pelan dengan tangannya mulai menyingkapkan gaun yang dikenakan oleh Eliana.
"Saat ini hatiku sedang dalam mood yang begitu baik karena berita barusan. Aku menginginkannya. Kita bisa melakukannya sekarang, di sini, atau tidak sama sekali untuk waktu yang lama." Eliana berkata dengan nada terdengar begitu menggoda bagi Rolland, membuat laki-laki itu tidak perduli lagi bahwa saat ini mereka masih berada di sebuah restauran walaupun mereka menempati ruang VIP.
"Kalau begitu... masa bodoh dengan orang lain. Toh tidak lama lagi kita berdua yang akan menjadi penguasa dari Gracetian. Saat itu terjadi, pertama-tama yang ingin aku lakukan adalah memberikan pengumuman bahwa kamu adalah wanita milikku. Aku mau seluruh Gracetian tahu tentang itu." Eliana langsung terkikik mendengar itu.
"Lakukan apapun yang kamu suka. Yang jelas, tunjukkan pada dunia bahwa Vincent adalah laki-laki payah yang tidak berguna. Para lelaki dari keluarga Adalvino memang semuanya menyebalkan." Eliana berkata sambil kedua lengannya langsung melingkar di leher Rolland dan mengelus manja bagian belakang leher Rolland, yang tidak bisa lagi menahan nafsunya, karena sentuhan dari Eliana yang begitu menggodanya.
# # # # # #
"Apa? Benarkah? Aku ikut bahagia untukmu Deanda..." Abella berkata sambil memeluk tubuh Deanda dengan erat, setelah itu berganti dengan Alea yang juga langsung memeluk tubuh Deanda dengan wajah senang mendengar apa yang baru dikatakan oleh Deanda kepada mereka tentang berita kehamilannya.
"Kamu sungguh beruntung Deanda, menikah dengan raja Gracetian yang dikenal begitu tampan, dan digilai oleh banyak Wanita. Seorang raja yang hebat dalam mengatur negara maupun bisnisnya. Dan sekarang... kamu juga mengandung calon penerus tahta Gracetian. Yang mulia Alvero pasti sekarang akan lebih mencintai dan menyayangimu." Abella berkata dengan bibirnya tidak berhenti tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja. Dari awal yang mulia Alvero sudah begitu mencintaiku, bukan karena sekarang aku mengandung anaknya." Deanda berkata dengan senyum di bibirnya yang menunjukkan bahwa dia begitu menyanjung sosok suaminya.
__ADS_1
"Ah, kamu masih seperti bertahun-tahun lalu saat belum bertemu yang mulia Alvero. Selalu menganggap yang mulia Alvero adalah sosok sempurna. Aku masih ingat, kemanapun dan dimanapun kamu yang penggemar berat putra mahkota Alvero saat itu selalu membawa foto dan pernak pernik yang berhubungan dengan yang mulia Alvero. Di Gracetian ini, mungkin kamu adalah penggemar yang mulia Alvero yang paling fanatik dan tidak pernah perduli apa kata orang tentang keburukan yang mulia saat itu." Deanda langsung memanyunkan bibirnya mendengar ejekan dari Alea.
"Sudah pernah aku katakan. Jangan mudah menilai orang kalau kalian belum benar-benar mengenalnya. Coba katakan padaku, sampai detik ini, mana penilaianku tentang yang mulia Alvero yang salah? Dia raja yang bertanggung jawab, murah hati, berwibawa, bijaksana. Belum lagi... dia begitu hebat dalam beladiri dan juga sangat… tampan..." Alea dan Abella langsung tertawa tergelak mendengar perkataan Deanda dengan sikap seperti sedang membicarakan seorang artis idolanya.
"Aduh, sudahlan Alea, kita berdua sama-sama tahu sejak dulu Deanda begitu tergila-gila dengan sosok yang mulia Alvero. Hanya saja justru ketika mereka hampir menikah, Deanda baru sadar tentang perasaan cintanya kepada yang mulia. Aku masih ingat mendekati hari pernikahan mereka bahkan Deanda menanyakan ciri-ciri orang jatuh cinta padaku, sungguh konyol, dan tidak mmmphhhh..." Abella tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena telapak tangan Deanda yang tiba-tiba saja sudah membungkam mulutnya.
Abella langsung berusaha melepaskan bibirnya dari bekapan Deanda sambil matanya melotot ke arah Deanda, membuat Deanda langsung melepaskan tangannya.
"Deanda..."
"Yang... Yang Mulia Alvero...." Baik Abella maupun Alea langsung bangkit dari duduk santai mereka di ruang tamu penthouse milik Alvero dan memberikan salam hormat kepada Alvero, membuat Deanda tersenyum geli, karena sebenarnya tadi dia sengaja membuat Abella tidak meneruskan kata-katanya karena Deanda sudah melihat sosok Alvero yang datang dari arah pintu bersama dengan Ernest dan Erich ketika Abella berkata-kata tadi.
Deanda tentu saja tidak ingin Alvero mendengar bahwa barusan mereka para wanita sedang membicarakan tentang sosoknya. Entah itu pembicaraan tentang hal yang baik atau buruk, Deanda merasa malu jika sampai ketahuan oleh Alvero bahwa mereka sedang bergosip tentang sosok Alvero.
Abella tentu saja tidak bisa melihat kehadiran raja Gracetian yang tampan itu karena posisi duduknya yang membelakangi pintu yang baru saja dimasuki oleh Alvero itu.
__ADS_1
"Duduklah kembali. Aku hanya ingin memastikan kalau Deanda tidak melewatkan makan siangnya karena kalian terlalu asyik mengobrol." Alvero berkata sambil memberikan tanda kepada Ernest dan Erich untuk meletakkan beberapa paper bag berisi makanan yang memenuhi tangan mereka berdua, membuat Deanda sedikit membeliakkan matanya.
"Banyak sekali Yang Mulia?" Deanda bertanya sambil melirik ke arah Alvero yang langsung menyungingkan senyumnya.
"Menurutku tidak terlalu banyak. Kalian kan berempat sekarang? Dan yang satu masih dalam masa pertumbuhan dimana butuh banyak asupan gizi." Kata-kata Alvero sukses membuat mata Abella dan Alea melirik ke arah perut Deanda, sedang Deanda sendiri langsung meringis mendengar perkataan Alvero.
Yang Mulia ada-ada saja, mana mungkin bayi dalam kandungan keberadaannya dihitung sebagai satu orang dewasa?
Deanda berkata dalam hati sambil berpura-pura membuka salah satu paper bag yang diletakkan oleh Ernest tepat di hadapannya agar dia tidak merasa canggung karena saat ini semua orang sedang memandang ke arahnya, terutama bagian perutnya.
"Ok, kalian bisa lanjutkan obrolan kalian. Hari ini aku membebaskan kalian, karena setelah ini mungkin akan sulit sekali membuat kesempatan seperti hari ini." Alvero berkata sambil menahan senyum gelinya, karena kata-katanya sukses membuat Deanda tersentak kaget dengan wajah khawatir kalau-kalau Alvero benar-benar serius tidak akan lagi memberinya kesempatan untuk bertemu dengan teman-temannya untuk mengobrol santai seperti hari ini.
"Yang Mulia..." Belum lagi Deanda sempat mengatakan sepatah katapun, tiba-tiba Alea yang masih berdiri di tempat ya berjalan mendekat ke arah Alvero dan memanggilnya, membuat Alvero menghentikan niatnya untuk membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa Alea? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?" Dengan cepat Alvero bisa menangkap sesuatu hal penting yang sedang disimpan oleh Alea, dan yang pasti, hal itu kemungkinan besar berhubungan dengan kejadian di istana atau Eliana.
__ADS_1
"Benar Yang Mulia, ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada Yang Mulia." Alea berkata sambil sedikit melirik ke arah Abella yang sedang sibuk membantu Deanda membuka paper bag berisi berbagai makanan yang tadi dibawa oleh Ernest dan Erich.