BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MEMULAI AKSI (1)


__ADS_3

"Wahhh... benar-benar seperti yang aku harapkan. Erich! Kamu sudah lihat kan bagaimana permaisuri melakukannya dengan baik. Sekarang giliranmu untuk mencobanya. Sweety... menjauhlah agar kamu bisa melihat dan menilai apakah Erich bisa belajar dengan cepat sepeti dia cepat dalam sebuah pertarungan." Alvero berkata sambil memandang ke arah Erich dan menggerakkan kepalanya ke samping, memberi tanda kepada Erich agar segera mendekat ke arahnya.


"Eits.... tunggu sebentar Erich!" Erich yang sudah bersiap mendekat ke arah Alvero langsung menghentikan langkahnya mendengar perintah dari Alvero yang tiba-tiba mencegahnya untuk mendekat.


Setelah sedikit berteriak, Alvero langsung bergerak cepat ke arah Erich, dan mengulurkan tangannya ke arah kepala Erich, lalu mengacak-acak rambut Erich yang awalnya masih tersisir begitu rapi dan mengkilap karena minyak rambut yang biasa digunakannya untuk merapikan rambutnya. Akibat gerakan tangan Alvero yang mengacak ramburnya, rambut Erich menjadi sedikit berantakan dengan poni yang menutupi keningnya. Setelah itu Alvero dengan sengaja, sedikit merapikan rambut Erich yang sudah berantakan dengan jari-jari tangannya.


Melihat tindakan Alvero kepada rambut kesayangannya yang biasanya selalu rapi dan mengkilap, tubuh Erich langsung tersentak kaget. Rasanya Erich ingin sekali menyatakan protesnya kepada Alvero. Karena bagaimanapun untuk membuat penampilannya yang terlihat begitu rapi, dari atas kepala hingga kaki, Erich harus menghabiskan waktu tidak kurang dari 45 menit untuk berdandan di depan kaca. Tapi apadaya, tentu saja Erich sama sekali tidak berani menanyakan maksud tindakan Alvero, apalagi memprotesnya, mengingat siapa pria tampan yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Seorang pria yang tidak bisa dia lawan dan protes perintahnya.


"Nah... sepertinya penampilanmu yang sekarang baru terlihat sempurna..." Alvero berkata dengan nada bangga melihat bagaimana siang ini penampilan Erich berubah 180 derajat dari biasanya karena pakaian yang sudah dia siapkan untuk Erich, dan disempurnakan dengan rambut Erich yang tampak sedikit berponi dan sedikit berantakan, namun justru menunjukkan kesan macho sekaligus membuat penampilannya menjadi menarik karena tanpa sadar penampilan Erich saat ini justru seperti seorang model yang akan menampilkan pakaian santai yang siap mengajak kencan gadisnya.


Mulai dari cara berpakaian dan tatanan rambut Erich saat ini, betul-betul akan membuat orang yang mengenal Erich tidak akan percaya bahwa laki-laki tampan yang berpakaian santai itu adalah Erich yang si wajah datar tanpa ekspresi yang jarang sekali tersenyum.


Dan yang pasti, penampilan Erich hari ini adalah penampilan yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Alvero, untuk menjalankan misinya hari ini bersama Deanda.

__ADS_1


# # # # # # #


Setelah sepanjang siang itu, baik Erich, Alvero, maupun Deanda mengumpulkan semua info tentang Emilio. Baik bagaimana karakter Emilio, kebiasaan, tempat-tempat yang biasa dikunjunginya dan teman-teman dekatnya dari berbagai sumber, sore harinya mereka sengaja mengintai di sekitar rumah Emilio selama beberapa saat sebelum memulai aksi mereka.


Sore itu Deanda yang menyamar sebagai seorang wanita kaya yang sedang membutuhkan benda seni untuk koleksinya dan kakaknya, Alvero sengaja bertamu di rumah Emilio dengan alasan ingin menemui Emilio, padahal jelas-jelas beberapa waktu sebelumnya Emilio sudah keluar dari rumahnya. Deanda sengaja menunggu Emilio keluar meninggalkan rumahnya, agar bisa leluasa untuk menyelidiki tentang rumah dan oang-orang yang tinggal di rumah itu tanpa diketahui oleh Emilio.


Setelah beberapa kali melakukan ketukan di pintu dengan sedikit keras karena tidak kunjung ada seorangpun yang membukakakn pintu, akhirnya seorang gadis berusia awal dua puluhan tampak membuka pintu dengan tatapan mata menyelidik, menatap ke arah Deanda sambil mengernyitkan dahinya karena merasa tidak mengenal sosok gadis cantik di hadapannya saat ini.


Wajah gadis itu berubah ramah begitu menyadari bahwa gadis yang sedang berdiri di depannya terlihat seperti seorang gadis kaya raya.


Dan wajah gadis itu semakin ramah begitu matanya melihat tas Hermes Birkin yang tergantung cantik di pergelangan tangan Deanda yang lain. Salah satu jajaran tas mewah selain Chanel, Gucci, Louis Vuitton dan Prada yang merupakan pemberian Alvero untuk Deanda yang sengaja disiapkan di walk in closet yang ada di penthouse Alvero, sejak hari pertunangan mereka, besanding dengan puluhan pakaian bermerk untuk Deanda.


(Jika berbicara brand Hermes, pasti yang terlintas adalah harganya yang selangit. Ya, produk brand ini terkenal dengan harganya yang hingga ratusan juta rupiah. Meskipun begitu, tas-tas brand ini paling banyak dicari dan digunakan, terutama oleh artis. Sebut saja seperti Syahrini dan Angel Lelga, yang pernah terlihat menggandakan tas brand asal Paris ini. Kualitas dan model tas Hermes memang tak lekang waktu dan cocok digunakan ke mana saja. Salah satu contoh produk tas Hermes yang paling populer adalah Hermes Birkin, yang bahannya terbuat dari kulit buaya asli.  Bahkan, ada beberapa varian Hermes Birkin yang pada bagian gespernya dihiasi oleh berlian asli. Tidak semua orang bisa membeli tas Birkin langsung di butik Hermes, pihak Hermes-lah yang akan memilih siapa yang bisa membeli Birkin dan juga membatasi pembelian per pelanggan. Harga jualnya pun tidak main-main. Satu buah tas Hermes dijual mulai dari puluhan ribu dolar AS hingga 500 ribu dolar AS (Rp 7,1 miliar).

__ADS_1


"Aku sedang mencari tuan Emilio. Aku dengar dia orang yang akan bisa membantuku menemukan barang-barang seni yang pantas untuk dijadikan koleksi dan dipamerkan." Deanda berkata sambil menggerak-gerakkan kerah bajunya, seolah sedang menunjukkan bahwa dia merasa gerah.


Tindakan Deanda sukses membuat mata gadis itu terpaku melihat besarnya dan indahnya kalung berlian yang sedang dikenakan oleh Deanda saat ini.


"O, uncle Emilio sedang keluar, bagaimana kalau Nona masuk sebentar sambil menunggu aku menghubungi uncle?" Gadis itu berkata sambil membuka pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilahkan Deanda untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sekilas mata Deanda mengitari rumah itu dari balik kacamata hitamnya. Sebuah rumah yang boleh dibilang cukup mewah di tengah-tengah kota Renhill. Dan Deanda yakin bahwa uang pembelian atau sewa dari rumah mewah itu pasti sedikit banyak sudah dibantu oleh Melva. Mengingat itu, Deanda hanya bisa menarik anfas panjang sambil memaksakan kembali sebuah senyum ramah ke arah gadis yang dalam bayangan Deanda pasti keponakan Emilio yang selama ini, dengan alasan biaya sekolah untuk gadis itu, Emilio selalu mengambil uang dari Melva.


"Ada tamu? Siapa?" Suara seorang wanita berusia sekitar 60 terdengar dari arah ruang tamu, dimana wanita itu duduk sambil mengangkat kedua kakinya di atas sofa dan bersandar pada sandaran tangan sofa sambil menonton siaran televisi yang sepertinya sedang menayangkan acara komedi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2