BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEBENARAN TENTANG ALEXIS (3)


__ADS_3

"Maaf pa, aku terlalu emosional. Papa bisa meneruskan pembicaraan papa dengan yang mulia Alvero." Mendengar bagaimana Deanda memanggil Alvero dengan sebutan yang mulia di depannya, membuat Vincent langsung menarik nafas panjang sambil menyungingkan sebuah senyuman di bibirnya.


"Kamu sangat mirip dengan papamu Alexis. Orang yang begitu menghormati dan melindungi kehormatan keluarga Adalvino. Kami keluarga Adalvino sungguh beruntung bisa memilikimu sebagai bagian dari keluarga kami sekarang. Kehadiranmu sungguh membuatmu seperti bertemu dengan Alexis kembali. Maafkan papa karena tindakan papa, kamu harus menderita kehilangan kedua orangtuamu  dengan cara yang menyedihkan." Vincent berkata sambil menepuk-nepuk bahu Deanda lembut.


“Setelah Larena meninggal, aku meminta Alexis untuk kembali ke istana. Tetapi dia memilih untuk menjadi pemimpin di Goldie Tavisha. Mendidik dan meluruskan tujuan para preman, pemberontak yang hatinya sudah berbalik setia kepada kerjaan kembali, bahkan para pembunuh bayaran. Orang-orang yang selama ini dikucilkan, bahkan disingkirkan oleh masyarakat. Di Goldie Tavisha, mereka disambut seperti keluarga. Di bawah kepemimpinan Alexis, mereka menjadi orang-orang yang selalu mendukung keluarga Adalvino di belakang layar. Bahkan sampai sekarang di bawah kepemimpinan Red, yang dulunya adalah tangan kanan Alexis saat masih tergabung dalam tim pengawal ekslusif kerajaan milik raja.” Mata Vincent tampak menerawang jauh saat menceritakan tentang sepak terjang Alexis.


“Melihat bagaimana Alexis harus kehilangan istri tercintanya karena menyelamatkan Larena, tidak membuat Alexis menjauhkan diri dari urusan kerajaan walaupun dia tidak lagi tergabung dalam tim pengawal kerajaan. Terakhir kali, saat terjadi pemberontakan besar-besaran yang hampir saja berhasil menguasai istana. Para pasukan dari Goldie Tavisha datang dan menjadi benteng pertahanan istana yang berhasil mengejar dan mengalahkan para pemberontak, bahkan membuat posisi mereka terpojok dan sampai di pesisir pantai Tavisha. Saat itu Alexis yang bertarung dengan pemimpin kelompok pemberontak dinyatakan meninggal setelah terjatuh dari tebing yang ada di bagian selatan pantai, bersama dengan pimpinan kelompok pemberontak itu. Sayangnya, jenazah yang ditemukan hanya pemimpin pemberontak itu, sedang jenazah Alexis, hilang di telan ombak lautan Tavisha.” Perkataan Vincent kembali membuat airmata Deanda hampir terjatuh kembali, tapi dengan cepat Deanda menarik nafasnya, berusaha agar airmatanya tidak kembali keluar.


“Pa… terimakasih sudah menceritakan kebenaran tentang papa Alexis yang membuatku lega. Pada akhirnya aku tahu, papa Alexis bukan seorang pengkhianat dan bukan seseorang yang memiliki catatan pernah melakukan hal menjijikkan seperti pelecehan seksual.” Deanda berkata dengan mencoba menyungingkan senyum di bibirnya.


“Terimakasih untuk kebesaran hatimu nak. Bahkan seharusnya, kamu berhak marah ataupun meminta keadilan kepadaku tentang papamu. Tapi, jangan libatkan Alvero dalam hal ini. Semua murni kesalahanku, Alvero tidak bersalah sedikitpun dalam kasus papamu. Kamu harus tetap mendukung Alvero sebagai seorang permaisurinya.” Mendengar permintaan Vincent, Deanda langsung menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan.

__ADS_1


Sesakit apapun hati Deanda saat mendengar apa yang sudah terjadi kepada kedua orangtuanya, saat ini statusnya adalah istri dari Alvero, yang memang harus selalu berada di sisi laki-laki itu dan mendukungnya sepenuh hati. Namun ada satu hal yang saat ini begitu ingin dilakukan Deanda, membantu Alvero menemukan bukti-bukti kejahatan dan keterlibatan Eliana atas kematian Larena dan Tiana, atau mungkin juga kematian Alexispun, Eliana ikut terlibat, mengingat cerita dari Alvero bahwa pimpinan pengkhianat yang bertarung dengan Alexis sebelum meninggal juga memiliki plakat dengan ukiran setengah matahari dan kepala singa yang mengaum.


“Kamu benar-benar anak perempuan Alexis yang begitu membanggakan. Tidak salah jika Alvero memilihmu sebagai istrinya. Sejak awal Alvero membawamu ke istana, aku tahu kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk Alvero dan kerajaan Gracetian. Aku berharap, Di bawah kepemimpinan kalian berdua, negara Gracetian semakin maju dan Makmur. Dan kalian bisa dengan segera menyingkirkan setiap orang yang sudah melakukan kejahatan di masa lalu, agar tidak adalagi kejahatan yang mereka lakukan di masa depan.” Sebuah tarikan nafas panjang terlihat dilakukan Vincent setelah mengucapkan harapannya terhadap pernikahan Alvero dan Deanda.


"Tidak banyak yang bisa kukatakan lagi. Yang pasti Alexis tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Jika kamu ingin membersihkan nama Alexis, aku akan membantu kalian untuk menandatangani surat pernyataan bahwa aku melakukan semua itu demi keuntungan pribadiku. Semua murni kesalahanku. Aku akan memberikan pernyataanku di depan publik. Aku harus mengakui kelemahan dan kesalahanku sebagai raja yang tidak bisa melindungi sahabat dan keluargaku dengan baik agar bisa mengembalikan nama baik Alexis Federer." Perkataan Vincent sukses membuat mata Alvero maupun Deanda terbeliak.


“Papa…” Bibir Deanda langsung mengeluarkan suara desisan pelan mendengar perkataan Vincent.


"Alvero, itu adalah cara yang paling cepat dan paling mudah untuk bisa segera membersihkan nama Alexis, dan mengembalikan kehormatannya sebagai seorang knight." Vincent berkata sambil menatap ke arah Alvero dengan tatapan nanar.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengijinkan Papa melakukan itu. Menanggung kesalah orang lain di pundak Papa...."

__ADS_1


"Alvero.... sudah lama aku hidup dalam bayang-bayang Eliana yang selalu berusaha mengendalikanku. Bahkan aku begitu bodoh sampai setelah sekian lama, aku baru menyadari bahwa aku telah hidup dengan seorang wanita berhati jahat seperti Eliana. Karena itu aku ingin menebus semua kesalahanku satu persatu. Aku akan..." Vincent segera memotong perkataan Alvero.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengijinkannya! Aku menolak dengan tegas permintaan Papa! Sebagai raja Gracetian aku meolak itu! Percayalah padaku, aku akan mengembalikan nama baik papa Alexis dengan caraku, tanpa harus mengorbankan lagi orang yang tidak bersalah. Semua orang harus menanggung dosa dan kesalahannya masing-masing. Dan aku, sebagai raja Gracertian.... aku sendiri yang akan memberikan hukuman kepada Eliana dan para kaki tangannya yang sudah berani mengacaukan keluarga kita, mengorbankan banyak orang tidak bersalah untuk kepentingannya sendiri." Alvero kembali memotong perkataan Vincent dan berkata dengan tegas.


Mendengar perkataan Alvero, Vincent hanya bisa terdiam. Di satu sisi Vincent merasa begitu bangga melihat bagaimana Alvero sebagai raja Gracetian berusaha bersikap dan bertindak adil. Seorang laki-laki hebat yang memang pantas menjadi seorang raja menggantikannya.


Namun, di sisi lain ada rasa bersalah yang begitu besar menelusup di hati Vincent. Karena dia sebagai raja Gracetian sebelumnya, merasa tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk Alvero. Membuat Alvero dengan kekuatannya sendiri harus berjuang dengan keras untuk bisa menjadi orang yang hebat dan layak menjadi seorang raja bagi seluruh kerajaan Gracetian.


Melihat bagaimana Alvero bersikap terhadap masalah ayahnya, baik untuk Vincent maupun Alexis, Deanda hanya bisa menatap kagum ke arah suaminya. Sosok tegas, berwibawa, tapi juga cerdik dari Alvero sungguh membuat hati Deanda bergetar dan hatinya begitu dipenuhi oleh rasa bangga, sayang dan cintanya kepada laki-laki itu. Dan rasa itu semakin menguasai dirinya saat ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2