
"Rolland meninggal saat berusaha melarikan diri. Begitu juga Dion karena tembakan dari Eliana. Eliana sendiri sepertinya sangat terguncang dengan kematian anak kesayangannya. Sementara ini dia masih dibawa ke markas militer oleh duke Evan. Anggota kelompok pemberontak yang lain juga sudah ditangani dengan baik." Alvero berkata sambil membetulkan letak headset di telinganya.
"Dari catatan yang ditemukan sudah oleh papa Alexis, kami akan menangkap semua orang-orang yang terlibat dalam jaringan pemberontak itu, termasuk adik kandung Rolland yang ternyata merupakan pemilik plakat yang sempat terjatuh di kamar Papa Vincent, sekaligus pelaku pembakaran kediaman mama Larena belasan tahun yang lalu." Alvero kembali menyambung kata-katanya, membuat Ornado sedikit mengernyitkan keningnya.
"Ooo, sepertinya kejahatan mereka sudah mendarah daging. Benar-benar para manusia berjiwa pemberontak. Tapi untunglah sekarang sudah berakhir. Semoga ke depannya tidak ada lagi orang-orang berhati busuk seperti mereka." Alvero hanya bisa menahan nafasnya mendengar perkataan Ornado.
"Aku juga merasa lega semua sudah berakhir sekarang, hanya saja... aku tidak menyangka, kesuksesan hari ini disertai dengan hilangnya Ernest dari kami." Mata Ornado terbeliak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero.
"Tung... tunggu dulu, Ernest? Pengawal pribadimu yang kembar itu kan?"
"Benar, dia tertembak oleh Rolland dan tubuhnya terjatuh dari ketinggian. Sampai sekarang kamu belum bisa menemukannya." Alvero menjawab pertanyaan Ornado sambil menghembuskan nafasnya melalui bibirnya.
"Kirimkan padaku data detail tentang Ernest, ciri-ciri fisiknya juga beberapa fotonya. Aku akan mengirimkan datanya ke tim IT ku yang ada di Italia agar bisa membantu menemukan Ernest secepatnya. O, ya, berikan juga padaku data perkiraan waktu dan posisi dimana dia terjatuh." Mendengar permintaan dari Ornado, Alvero langsung menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Ah, bagaimana aku bisa lupa bahwa bagi tim IT Ornado yang terkenal begitu canggih, mencari keberadaan seseorang diantara ratusan juta orang sungguh bukanlah hal sulit baginya, asal data yang diberikan lengkap dan detail.
Alvero berkata dalam hati sambil tersenyum, merasa memiliki harapan baru untuk dapat segera menemukan Ernest.
"Ok, aku akan segera mengurus semua permintaanmu." Alvero dengan senyum tersungging di wajahnya, berkata sambil melirik ke arah Deanda yang terlihat serius sedang memperhatikan pembicaraannya dengan Ornado.
"Baiklah, dalam waktu kurang dari 30 menit aku akan segera mengirimkan hasil pencarian tim kami padamu." Ornado berkata dengan nada penuh percaya diri.
__ADS_1
# # # # # # #
Deanda yang sedang duduk di tepi kolam yang ada di salah satu sisi istana, dimana tempat itu dulu biasa digunakan oleh Larena untuk bermain bersama Alvero di masa kecilnya hanya bisa tersenyum dengan wajah terlihat bahagia.
Meskipun dalam tiga hari ini, Deanda harus menjalani hukuman dari Alvero, tidak diperbolehkan keluar dari istana selangkahpun sampai 2 hari ke depan, karena kesalahannya melanggar permintaan Alvero agar tetap tinggal di istana.
Akan tetapi, karena selama masa hukumannya Alvero justru mengirimkan beberapa orang untuk memberinya pelajaran dan pengetahuan khusus tentang kehamilan, dan juga bagaimana cara merawat bayi dengan baik, justru membuat Deanda menikmati masa hukumannya kali ini.
Apalagi hukuman yang diberikan Alvero kepada Alea, nyonya Rose dan para pengawal bukanlah sesuatu yang bersifat hukuman fisik, tapi hukuman yang justru membuat mereka memiliki kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain.
Beberapa orang sengaja dikirim Alvero untuk melakukan tugas sosial di penjara kota Tavisha, sebagian di panti asuhan dan panti jompo, juga ke taman bermain untuk membagikan balon dan permen kepada anak-anak yang bermain di sana.
Sore itu acara afternoon tea, tidak seperti biasanya, diadakan di taman istana, namun di pinggiran kolam ikan istana.
Bahkan Evan, Marcello, Red menjadi pelengkap acara afternoon tea sebagai tamu kehormatan sore itu, selain Alexis yang pastinya diundang secara khusus karena merupakan ayah dari permaisuri Gracetian.
Yang membuat kebahagiaan Deanda semakin lengkap adalah berita tentang diketemukannya tubuh Ernest di pinggiran sungai oleh para tim pencari yang sengaja tinggal dan melakukan pengamatan di sekitar aliran sungai itu tiga hari yang lalu, tepat 20 menit setelah tim IT milik Ornado memberikan info keberadaan orang yang dari tinjauan mereka 95% dinyatakan mirip dengan ciri-ciri Ernest.
Walaupun sore ini Ernest tidak bisa ikut hadir dalam afternoon tea karena belum sadar dari pingsannya, berita dari pihak rumah sakit yang menyatakan bahwa Ernest sudah melewati masa kritis cukup membuat Deanda terlebih Alvero merasa lega.
"Untuk semuanya, mohon perhatiannya sebentar." Suara Enzo yang tiba-tiba terdengar membuat yang lain, yang sedang menikmati sajian di acara afternoon tea sambil mengobrol satu sama lain, langsung menoleh dan fokus ke arah Enzo.
__ADS_1
"Baiklah, untuk semuanya, aku sebagai perwakilan yang dipercaya oleh yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda, sore ini akan memberikan pengumuman penting untuk semua yang hadir di sini." Enzo yang berdiri sambil memegang cangkir tehnya berkata sambilĀ tersenyum.
"Sore ini aku akan mengumumkan secara resmi tentang akan hadirnya calon penerus tahta selanjutnya. Saat ini permaisuri Deanda sedang mengandung calon penerus tahta Gracetian. Mari kita bersulang untuk calon bayi yang sudah hadir. Untuk kesehatan dan kebahagiaan raja dan permaisuri Gracetian, juga keamanan dan kesejahteraan Gracetian!" Enzo berkata sambil mengangkat cangkir tehnya, membuat yang hadir tersenyum geli karena baru kali ini menemui keluarga kerajaan Gracetian bersulang menggunakan cangkir berisi teh.
Deanda dan Alvero sendiri, begitu Enzo mengumumkan tentang kehamilan Denda, mereka berdua hanya bisa tersenyum sambil saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh cinta, yang begitu terlihat jelas bagi mereka yang melihatnya.
Hamil? Deanda hamil anak yang mulia Alvero? Ternyata hubungan mereka sudah sedekat itu. Sepertinya seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya. Hatimu sudah sepenuhnya direbut dan dimiliki oleh yang mulia Alvero. Dan ternyata kita memang tidak memiliki ikatan jodoh sedikitpun. Saat ini hanya satu hal yang bisa aku katakan. Selama kamu bahagia, aku akan berusaha melepaskan perasaan cintaku padamu.
Evan berkata dalam hati sambil menahan nafasnya. Harus diakuinya, bahwa berusaha merelakan orang yang dicintainya bukanlah hal yang mudah bagi Evan, apalagi orang itu adalah cinta pertamanya.
Ada rasa nyeri di dada Evan yang terasa menusuk hatinya, tapi dia yang sejak kecil hidup dalam keluarga duke dan dilatih untuk mengendalikan diri dan emosi, memilih untuk berjalan mendekat ke arah Alvero dan Deanda untuk mengucapkan selamat seperti yang dilakukan oleh yang lain.
"Selamat untuk kehamilan permaisuri Deanda, semoga sehat selalu." Evan berkata sambil sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan rasa hormatnya kepada raja dan pemaisuri Gacetian di depannya.
"Terimakasih Evan, semoga kamu juga segera menemukan gadis pilihanmu. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." Evan langsung tersenyum mendengar perkataan Deanda yang menunjukkan bahwa Denda begitu menghargai hubungan dekat mereka selama ini.
Alvero sendiri langsung berdehem pelan sambil menatap tajam ke arah Evan, karena Deanda yang terlihat begitu akrab dan memanggilnya dengan nama Evan langsung tanpa embel-embel duke, membuat hatinya terasa sedikit panas.
Entah kenapa kedekatan Deanda dengan pria lain masih saja membuat dada Alvero terasa panas walaupun dia tahu Deanda sepenuhnya sudah menjadi miliknya, dan wanita miliknya itu juga begitu mencintai dan memujanya.
Melihat reaksi dari Alvero, Evan langsung menyungingkan senyum sambil menatap ke arah Alvero.
__ADS_1
"Yang Mulia, apakah hari ini saya boleh menyampaikan permintaan saya sebagai hadiah yang dulu pernah Yang Mulia janjikan kepada saya?" Pertanyaan Evan mau tidak mau membuat dada Alvero bergetar.
Begitu mendengar pertanyaan Evan, jantung Alvero berdetak dengan keras, karena begitu khawatir dengan apa yang akan diminta oleh Evan, apalagi di depan Deanda.