
Deanda yang mendapatkan ciuman mendadak dari Alvero langsung menggerakkan tubuhnya, berusaha menjauh, sambil salah satu tangannya menempel ke dada Alvero, berusaha mendorong tubuh Alvero agar menjauh darinya.
Begitu Alvero merasakan dia sedang mendapat perlawanan dari Deanda, Alvero bukannya berhenti, namun salah satu tangannya justru meraih tangan Deanda yang berusaha mendorong dadanya dan menggenggamnya dengan erat, dengan posisi tetap menempel di dadanya.
Dengan sengaja Alvero menahan tangan Deanda agar Deanda tidak lagi berusaha untuk melepaskan dan menjauhkan diri darinya.
"I love you sweety. I love you so much.... really really love you my sweetheart. I want you for always... days, years, and eternities." (aku mencintaimu sweety, aku sangat mencintaimu... sungguh-sungguh mencintaimu jantung hatiku. Aku menginginkanmu selalu... tiap hari, tiap tahun dan selamanya) Alvero berbisik lirih dengan bibirnya masih menempel pada bibir Deanda yang selalu membuatnya seperti orang gila jika tidak menciumnya saat wanita cantik itu ada di dekatnya.
Setelah mengucapkan kata-kata cintanya, Alvero kembali mencium bibir Deanda dengan penuh cinta dan kelembutan, tapi juga penuh dengan gairah. Keberadaan Deanda selalu berhasil membuatnya merasa bangga menjadi seorang laki-laki sejati bagi istrinya.
Kata-kata cinta dari Alvero pada akhirnya membuat Deanda tidak lagi berusaha melepaskan diri dari Alvero. Deanda membiarkan satu tangannya yang ada di dada Alvero tetap dalam genggaman tangan Alvero, sedang tangan Deanda yang lain bergerak pelan, lalu melingkar di pinggang Alvero.
Tanpa menunggu lama, Deanda sudah ikut larut dalam kenikmatan dan kemesraan yang dibawa oleh Alvero melalui ciuman manis di bibirnya. Bahkan jari-jari lentik tangan Deanda, mulai mengelus bagian belakang pinggang Alvero, sehingga tubuh Alvero sedikit tersentak karena sensasi seperti tersengat listrik begitu Deanda mulai mengelus tubuhnya.
Membuat laki-laki itu harus menahan hasratnya sebisa mungkin agar tidak meminta lebih kepada Deanda jika tidak ingin membahayakan bayi dalam perut Deanda.
Begitu Alvero melepaskan ciumannya dari bibir Deanda, dengan cepat Alvero meraih tengkuk Deanda untuk menarik tubuh Deanda semakin mendekat kepadanya, dan memeluknya dengan begitu erat. Dan tanpa bosan Alvero yang memejamkan matanya, menghirup udara di sekitar tubuh Deanda yang bercampur dengan bau khas dari tubuh Deanda, yang selalu membuatnya bukan hanya merasa nyaman, tapi merasa ketagihan.
__ADS_1
Saat ini Alvero tahu dadanya berdetak dengan begitu kencang, dan bagian tubuhnya yang ada di bawah sana sudah menegang dan sedang meminta pelepasan, tapi dia memilih untuk memeluk Deanda dan merasakan kehangatan suhu tubuh istrinya yang mengingatkan bahwa dia memiliki istri yang begitu mencintai dan dicintainya, yang sedang membawa calon bayi mereka dalam tubuhnya.
Dan balasan pelukan dari Deanda sungguh membuat hati Alvero terasa damai dan nyaman. Saat ini hati Alvero benar-benar dipenuhi oleh rasa syukur.
Sepanjang hari ini terlalu banyak hal membahagiakan yang sudah didapatkan oleh Alvero. Berita tentang keberadaan Alaya sebagai adik kandungnya, Larena yang ternyata masih hidup. Dan berita tentang kehamilan Deanda.
Alvero tahu hari ini dia sudah bersikap begitu egois, memiliki begitu banyak kebahagiaan di atas penderitaan Deanda yang ayahnya harus berkorban sedemikian besar untuk dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang bertubi-tubi itu.
"Maafkan kami sweety, maafkan kami keluarga Adalvino yang sudah bersikap egois terhadap kamu. Memaksamu berpisah dari ayah tercinta untuk melindungi dan menyelamatkan keluarga kami." Alvero berbisik pelan, membuat airmata Deanda kembali menetes.
Deanda tahu, sejak mengenal Alvero, bahkan sebagai tuan Alvi, Alvero begitu anti mengucapkan kata "maaf" yang baginya begitu pantang dia ucapkan karena merasa memiliki kedudukan tinggi, dan juga Alvero yang dikenal begitu keras kepala dan arogan, baginya semua yang dia inginkan dan lakukan, juga perintahkan adalah hukum.
Wanita yang akan membuatnya gila jika jauh darinya. Wanita yang sekarang menjadi sumber kekuatan dan alasan terbesarnya untuk menjadi seorang raja, suami, laki-laki yang hebat bagi wanitanya, agar bisa selalu melindungi dan membahagiakannya.
Dada Deanda terasa begitu sesak, penuh dengan rasa haru mendengar dengan lembut Alvero mengucapkan permintaan maaf yang baginya sungguh berarti. Seolah memberikan obat pada luka di hatinya karena apa yang sudah dilakukan Alexis padanya.
"Sekarang... aku juga... bagian dari keluarga Adalvino. Mulai sekarang, aku juga harus belajar berpikir sebagai anggota keluarga Adalvino." Dengan susah payah Deanda menjawab lirih permintaan maaf dari Alvero, sambil kedua tangannya bergerak pelan memeluk tubuh Alvero dengan erat.
__ADS_1
Begitu mendengar jawaban dari Deanda dan merasakan pelukan erat dari Deanda, Alvero langsung mengelus lembut punggung Deanda, mendongakkan kepalanya ke atas sambil menarik nafas panjang dengan hati yang terasa begitu lega.
Istriku tercinta. Betapa beruntungnya aku bisa memilikimu sebagai pendampingku. Dan kamu menambahkan kebahagiaanku dengan memberikanku seorang bayi dalam rahimmu. Terimakasih sudah memberikan dirimu padaku untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Seorang wanita hebat sepertimu, pastia kan melahirkan anak-anak hebat untukku juga.
Alvero berkata dalam hati sambil kembali memejamkan matanya, untuk beberapa saat menikmati keberadaan Deanda dalam pelukan eratnya.
Alvero mengecup sekilas kening Deanda sebelum melepaskan pelukannya, membuat Deanda lagnsung menyungingkan sebuah senyuman manis di bibirnya.
"Sweety, aku harus bertemu Enzo sebentar, aku takut jika besok saat kita berangkat, pengeran satu itu masih bermimpi indah dengan air liur memenuhi bantalnya. Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Malam ini hembusan angin di sini cukup kencang." Alvero berkata sambil menepuk pelan bahu Deanda yang langsung mengangguk sambil tersenyum geli mendengar bagaimana Alvero menggambarkan cara tidur saudara sepupunya itu.
"Ok, aku akan menunggumu di kamar." Deanda berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, menjauhi pagar pembatas balkon tempatnya berdiri semula.
Deanda sudah terpisah dari Alvero yang pergi ke kamar Enzo, ketika di ruang tamu yang harus dia lewati, sebelum dia mencapai pintu kamarnya dilihatnya sosok Alaya dan Alexis yang berjalan beriringan dari arah lain.
Tanpa sadar Deanda menghentikan langkahnya begitu melihat sosok Alexis yang semakin mendekati posisinya berdiri, seolah Deanda sengaja melakukan itu karena begitu ingin melihat sosok Alexis, berharap laki-laki yang dulunya dianggapnya sebagai sosok sempurna seorang ayah, datang kepadanya, dan menyapanya dengan sikap yang hangat.
"Selamat malam permaisuri Deanda." Sebuah sapaan dari Alexis yang memanggilnya dengan sebutan permaisuri membuat dada Deanda tarasa begitu sakit, ada rasa nyeri sekaligus sesak yang dirasakan oleh Deanda karena panggilan itu membuat jarak diantara dia dan Alexis tampak semakin jauh.
__ADS_1
Apalagi Alexis mengucapkan sapaan kepadanya sambil memberikan salam pernghormatan kepadanya.