
"Hah, harusnya kalian berdua memberitahuku, sebelum aku membocorkan rahasia kalian. Apa kalian tidak tahu bagaimana Eliana, yang selalu ingin menunjukkan perhatian palsunya padaku. Hampir sehari lebih dari 2 kali dia selalu menelponku. Tadi tepat setelah Erich mengatakan kalian berdua ingin bertemu denganku, sesudah kalian beristirahat dan membersihkan diri sebentar, Eliana menelponku untuk menanyakan kabarku. Lebih tepatnya mengamati apa yang terjadi padaku dan memastikan bahwa aku masih dalam kondisi yang sama dan tetap dalam pengawasannya." Vincent menarik nafas panjang sebelum meneruskan perkataannya, merasa lega dia sudah melakukan hal benar dengan tidak memberitahukan kepada Eliana bahwa Alvero dan Deanda saat ini sedang ada bersamanya di Renhill.
"Dia mengatakan bahwa di acara makan malam istana kemarin, Deanda mengalami sakit perut yang membuat Alvero langsung menyelesaikan acara makan malam lebih awal. Dan bahkan membatalkan seluruh schedule kalian hari ini karena Alvero ingin menjaga Deanda yang sedang sakit. Apa jadinya kalau tadi tanpa sadar aku mengatakan padanya, kalau kalian berdua sedang berada di Renhill sekarang?" Vincent berkata sambil menatap ke arah Deanda dan Alvero yang hanya bisa terdiam mendengar perkataan Vincent tentang panggilan telepon dari Eliana, sebelum mereka datang menemui Vincent.
Tanpa sadar, Deanda menghembuskan nafas lega mendengar perkataan dari mertuanya barusan, menyadari bahwa sampai saat ini rencana mereka msih berjalan sesuai rencana. Walaupun mereka sempat tidak memikirkan kemungkinan justru Vincent yang memberitahukan kepada Eliana bahwa Alvero dan Deanda sedang bersamanya di Renhill, karena tidak ada koordinasi yang baik diantara mereka dengan Vincent.
"Eh... Ehem... ya Pa, seharusnya kami memberitahukannya kepada papa. Kami tidak berpikir sampai ke sana tadi." Dengan sikap canggung, Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang juga bersikap canggung setelah mendengar teguran dari Vincent.
"Ah, lupakan saja. Sebenarnya apa yang membuat kalian ingin bertemu denganku secara diam-diam? Kalau hanya karena merindukanku, tidak mungkin kalian melakukannya secara sembunyi-sembunyi." Vincent berkata dengan senyum di wajahnya, berusaha membuat suasana tegang menjadi cair.
"Maaf Pa, tapi kami ingin menanyakan tentang ini." Karena merasa tidak adalagi yang harus dirahasiakan dan tidak perlu menahan diri karena takut Vincent tersinggung, Alvero langsung mangambil map yang sejak tadi dibawanya dibalik pakaiannya, dibukanya map itu dan disodorkannya ke hadapan Vincent.
Untuk beberapa saat Vincent terlihat serius membaca dan file-file yang ada di dalam map itu. Semua file tentang sepak terjang Alexis Federer, semasa hidupnya. Entah itu tentang banyaknya tindakan heroik dari Alexis dalam melindungi kerajaan Gracetian dari para pemberontak, catatan-catatan tentang penghargaan yang dia dapat karena jasa-jasanya kepada kerajaan Gracetian, ataupun... tentang pencabutan gelar knight yang dimilikinya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Vincent membaca semua berkas-berkas yang ditunjukkan Alvero kepadanya, Vincent menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya sesaat. Baru setelah itu Vincent menatap ke arah Alvero dan Deanda secara bergantian.
Baik Deanda maupun Alvero sama-sama sedikit tersentak melihat mata Vincent yang terlihat sedikit memerah setelah membaca berkas-berkas itu.
"Akhirnya kalian berdua datang juga kepadaku untuk menanyakan hal ini." Vincent berkata sambil menatap dalam-dalam ke arah Deanda.
"Deanda... yang pertama-tama harus aku lakukan adalah meminta maaf kepadamu. Karena untuk saat ini, aku sudah tidak bisa lagi meminta maaf kepada Alexis atas kesalahan yang sudah aku perbuat padanya. Bagaimana aku sudah mengorbankan sahabat terbaikku untuk kepentingan pribadiku. Karena keegoisanku. Aku benar-benar menyesal. Bahkan, sampai detik ini, perasan bersalah itu masih begitu menghantuiku." Deanda hanya bisa terdiam mendengar perkataan dari Vincent yang tidak dimengertinya sama sekali, apa maksud dari perkataan mertunya itu.
Perasaan Vincent saat ini bercampur aduk menjadi satu. Antara sedih, merasa bersalah dan juga malu, namun di satu sisi merasa bahagia dan juga lega melihat Deanda saat ini sudah menjadi istri sah dari Alvero.
Deanda tidak tahu pasti apa maksud kata-kata Vincent. Tapi yang pasti, dari kata-kata yang diucapkan oleh Vincent, saat ini yang dia tahu bahwa Alexis Federer, ayahnya tercinta... tidak pernah melakukan hal memalukan yang sudah dituduhkan, seperti yang tertulis dalam surat keputusan pencabutan gelar knight yang dimilikinya saat itu.
Melihat bagaimana tangan Deanda yang berada di pangkuannya terlihat bergetar. Dan juga wajah Deanda yang terlihat begitu tegang, dengan cepat Alvero meraih tangan Deanda, merangkum kedua tangan Deanda yang saling menggenggam itu, dalam tangannya, untuk membantu Deanda agar merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Papa minta maaf kepadamu Deanda, karena keegoisanku, kamu kehilangan sosok ayah, yang seharusnya bisa melindungimu sampai kamu dewasa. Tapi, saat itu dia terpaksa berkorban untuk keluarga kami." Vincent berkata dengan menatap ke arah Deanda dengan wajah terlihat sedih.
"Pa, sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Apa benar papa Alexis melakukan pelecehan seksual terhadap Eliana?" Mendengar pertanyaan Alvero, Vincent menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
"Bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya...." Vincent menghentikan perkataannya sejenak.
"Saat itu.... Setelah mamamu memutuskan untuk pergi dari istana. Alexis menemui Eliana secara pribadi tanpa sepengetahuanku, dan memberikan peringatan keras karena Alexis yang aku perintahkan untuk tetap mengawasi dan melindungi mamamu di luar istana, menemukan beberapa orang yang berencana menyakiti mamamu. Untung saja saat itu Alexis berhasil melindungi Larena. Untuk menghentikan Eliana yang bertindak tanpa sepengetahuanku, Alexis sengaja mendatangi Eliana dan mengingatkannya agar tidak lagi mengusik Larena yang sudah pergi dari istana dan menyerahkan posisi permaisuri kepada Eliana." Suara deheman pelan dari Vincent, membuat Vincent kembali menghentikan bicaranya, untuk sekedar menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kembali bicaranya.
"Tapi sepertinya Eliana tahu, bahwa jika kita menikah dengan hukum Gracetian, walaupun Larena meninggalkan istana, tanpa aku sebagai raja Gracetian yang meminta perceraian, sampai kapanpun status Larena tetaplah sebagai permaisuri. Dan Eliana, walaupun berada di sampingku, di istana, tetap akan menjadi seorang wanita tanpa status. Kamu tahu secara hukum Gracetian, pernikahan antara pangeran dan istrinya, sama artinya dengan pihak istri akan tunduk sepenuhnya kepada pihak laki-laki, sehingga apapun keputusan pihak pria tidak bisa diganggu gugat. Hukum Gracetian menetapkan laki-laki seperti raja, ucapannya adalah hukum yang harus dipatuhi oleh wanitanya. Sehingga peceraian hanya bisa terjadi jika pihak laki-laki yang meminta hal itu." Mendengar perkataan Vincent, tanpa sadar Deanda langsung menatap ke arah Alvero yang langsung tersenyum dengan canggung.
Alvero tahu, saat ini Deanda pasti menyadari kenapa saat itu dia hanya meminta satu syarat di surat perjanjian waktu itu. Bahwa pernikahan mereka akan dilakukan sah menurut hukum Gracetian.
__ADS_1