BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MAKAN SIANG


__ADS_3

"Selamat siang Yang Mulia."


Begitu Alvero sudah menegakkan tubuhnya kembali dan berdiri tegak di samping tempat Deanda duduk sambil tangan kirinya memegang sandaran kursi Deanda, baik Cleosa, Clare, maupun Abella segera bangkit dari duduknya dan memberikan salam hormat mereka sekaligus ucapan selamat siang yang tadi belum bisa mereka lakukan karena Alvero melarang mereka melakukan itu.


"Apa acara makan siang kalian sudah selesai?" Alvero bertanya sambil menggerakkan tangannya kepada ketiga gadis di depannya agar menghentikan salam penghormatan mereka.


"Baru saja selesai Yang Mulia." Dengan cepat Abella menjawab pertanyaan Alvero yang melirik ke arah meja di depan Deanda, dimana terlihat segelas jus dan sepotong cake stroberi tampak masih utuh, belum tersentuh sama sekali.


Melihat itu Alvero hanya bisa tersenyum sambil menahan nafasnya, mencoba menebak kenapa sepertinya hari ini mood Deanda terlihat kurang bagus, sehingga membuatnya yang biasanya menyukai cake terlihat tidak menyentuh cake itu sama sekali.


"Ooo, begitu ya? Kalau begitu aku harus membawa permaisuri pergi dari sini. Ada sesuatu yang harus kami kerjakan." Alvero berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Deanda.


"Ernest dan nyonya Rose sudah menunggu kita di penthouse. Kita harus segera ke sana sekarang. Nyonya Rose mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan kepada kita berdua." Alvero berkata lirih begitu melihat Deanda yang tampak termenung dan tidak dengan segera menyambut uluran tangannya.


"Maaf teman-teman, aku harus ikut yang mulia. Lagipula jam makan siang kalian hampir berakhir. Terimakasih untuk waktunya. Lain kali kita akan aturkan agar bisa berkumpul besama kembali." Deanda mau tidak mau langsung meletakkan telapak tangannya ke tangan Alvero yang masih terulur ke arahnya.


Begitu tangan Deanda berada di atas telapak tangannya, Alvero segera menggenggam tangan istrinya dengan erat.

__ADS_1


"Untuk semuanya.... Aku pergi dulu. sampai bertemu lain waktu." Mendengar perkataan Deanda, ketiga temannya langsung menganggukkan kepala mereka.


"Selamat siang permaisuri Deanda." Ketiga gadis itu segera mengucapkan salam sekaligus memberikan penghormatan mereka, membuat Deanda hanya bisa sengan segera menggerakkan tangannya sebagai tanda menerima salam hormat mereka.


Jika saja diperbolehkan, Deanda merasa jauh lebih nyaman jika ketiga temannya itu memanggilnya dengan namanya langsung, tapi sepertinya itu justru akan membuat masalah karena statusnya sekarang sebagai permaisuri Gracetian sejak dia menikah dengan Alvero yang merupakan raja Gracetian.


Sepanjang perjalanan mereka menuju penthouse, tidak sedetikpun Alvero membiarkan tangan Deanda lepas dari gandengan tangannya. Hal itu membuat beberapa pegawai yang bertemu dengan mereka langsung menyunggingkan senyum sambil berbisik-bisik melihat bagaimana sikap over protektif raja mereka terhadap permaisurinya.


# # # # # #


"Aku akan mengajak permaisuri makan siang terlebih dahulu, setelah itu baru kita bahas urusan kita." Begitu sampai di penthousenya, Alvero langsung berkata kepada Ernest dan nyonya Rose yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua.


Mendengar perkataan Ernest, Alvero yang masih mengggenggam tangan Deanda langsung mengajaknya berjalan ke arah ruang makan yang ada penthousenya. Begitu sampai di meja dan melihat banyaknya makanan yang ada, Deanda langsung memandang ke arah Ernest.


"Kamu memesan semua masakan ini dari mana Ernest? Kenapa banyak sekali?"


"Dari restoran di hotel milik pangeran Enzo, Permaisuri. Yang Mulia Alvero yang meminta saya untuk menyiapkannya, dibantu oleh nyonya Rose dan para pelayan." Ernest menjawab pertanyaan Deanda dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Ernest, Deanda hanya bisa menahan nafasnya sebentar, lalu meraih gelas berisi air mineral dan meminumnya. Melihat sikap ogah-ogahan Deanda, apalagi tadi di kantin bahkan Deanda tidak menyentuh sama sekali jus dan cakenya, Alvero langsung mengernyitkan dahinya.


"Kenapa denganmu hari ini swetty? Apa kamu sedang kurang sehat? Sepertinya nafsu makanmu benar-benar buruk hari ini?" Begitu rangkaian pertanyaan dari Alvero terlihat khawatir, Deanda langsung membalas pertanyaan Alvero dengan sebuah senyuman tipis.


"Nyonya Rose adalah orang yang hebat dalam hal obat-obatan herbal. Kalau kamu membutuhkan sesuatu untuk memulihkan tenagamu atau ada sesuatu yang tidak beres dari tubuhmu... kamu bisa meminta bantuan nyonya Rose untuk memberimu obat." Alvero berkata sambil melirik ke arah nyonya Rose yang sedang berdiri tidak jauh dari meja makan.


"Aku baik-baik saja Yang Mulia." Deanda berkata pelan sambil kembali meneguk air mineral dalam gelasnya.


Mendengar Alvero menyebutkan namanya, nyonya Rose segera berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Yang Mulia... rasa tidak enak yang timbul di tubuh bukan hanya saja karena penyakit, tapi kadang juga karena pikiran dan hati yang tidak tenang." Nyonya Rose berkata sambil mengisi mangkuk kecil di depan Deanda dengan sup.


"Ooo, begitukah? Kalau benar begitu, apa yang sedang mengganggu pikiranmu sweety? Tadi di kantin bahkan kamu membiarkan jus dan cake milikmu tidak tersentuh sama sekali." Alvero berkata sambil mengambil masakan dari piring saji, memindahkannya ke piringnya.


"Tidak Yang Mulia, mungkin saya hanya merasa lelah saja. Semuanya akan baik-baik saja setelah saya beristirahat. O ya Nyonya Rose, tumben sekali nyonya Rose datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu?" Deanda dengan sengaja berusaha mengalihkan pembicaraan agar Alvero tidak lagi mempermasalahkan dirinya yang hari ini terlihat lesu sejak kejadian tadi.


"Yang Mulia Alvero harus lebih peka dan memperhatikan kondisi sekitar, termasuk kondisi permaisuri. Mungkin ada kejadian yang membuat permaisuri merasa tidak tenang dan tertekan hari ini. Yang Mulia Alvero harus tahu perubahan emosi yang mendadak dapat mengganggu kesehatan permaisuri. Makanlah sup ini supaya permaisuri merasa nyaman di perut." Nyonya Rose yang sudah mengisi mangkuk Deanda dengan sup asparagus langsung menyodorkannya ke arah Deanda.

__ADS_1


"Sup asparagus ini sengaja saya pesan buat permaisuri. Yang Mulia sudah memberitahukan kepada saya agar ke depannya saya harus lebih memperhatikan menu makan untuk permaisuri. Saya berharap dengan menu-menu yang saya aturkan secara khusus, mengandung zat-zat penting untuk menguatkan dan menyuburkan kandungan permaisuri, dalam waktu dekat permaisuri bisa mengandung penerus kerajaan Gracetian." Mendengar perkataan nyonya Rose, Deanda hampir saja menyemburkan minuman dari dari dalam mulutnya yang belum sempat tertelan di lehernya.


__ADS_2