
"Ayolah... aku tidak suka jika kamu bertindak aneh setelah aku menikah. Tetaplah bersikap seperti biasa dan panggil namaku langsung jika tidak di depan orang banyak. Bolehkan yang mulia?" Alvero langsung berdehem mendengar pertanyaan Deanda, meminta ijin padanya agar Rock diperkenankan untuk memanggil namanya langsung seperti biasanya.
Alvero melenguh dalam hati mendengar permintaan Deanda barusan. Dengan tatapan mata memohon dan senyum di wajah istrinya, bagaimana bisa Alvero mengatakan tidak untuk sebuah permintaan yang diucapkan dengan nada dan wajah semanis itu.
"Eh... ya... tentu saja..." Pada akhirnya, pertanyaan dari Deanda yang tiba-tiba itu membuat Alvero sedikit tergagap.
"Asal kamu menginginkannya... silahkan saja." Akhirnya Alvero berkata dengan nada suara berusaha terlihat setenang mungkin setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa cemburunya barusan.
Mendengar jawaban dari Alvero, yang Deanda tahu sebenarnya dari wajahnya Alvero tidak terlalu setuju, dan mengatakan iya dengan wajah terpaksa, Deanda langsung mendekat ke arah Alvero, berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kamu memang yang terbaik my Al. Terimakasih." Mendengar bisikan lembut dari Deanda yang disertai dengan senyum manis di bibirnya, hanya bisa membuat Alvero menahan nafasnya sebentar dan dengan sembunyi-sembunyi menelan ludahnya dengan susah payah.
Hah! Sweety.... Kamu benar-benar tahu dimana dan bagaimana titik lemahku. Jika kamu meminta sesuatu padaku dengan sikap semanis itu, bagaimana aku bisa menolak keinginanmu dan mengatakan tidak padamu?
Alvero berkata dalam hati sambil meraih bahu Deanda, menariknya mendekat agar tubuh istrinya itu berada dalam rengkuhan lengannya. Paling tidak dengan melakukan itu Alvero ingin semua orang tahu, termasuk Rock, bahwa Deanda adalah miliknya. Dan jawaban iya darinya, itu semua dia lakukan hanya untuk menyenangkan wanitanya, bukan yang lain.
Mendapatkan perlakuan mesra dari Alvero di tempat umum, hampir saja membuat Deanda berusaha melepaskan diri dari Alvero secepatnya. Namun, dengan gerakan tidak kalah cepat, Alvero langsung memererat rengkuhan lengannya di bahu Deanda agar wanita itu tidak lagi berusaha melepaskan diri darinya, sambil mata Alvero menatap ke arah Deanda dengan sedikit tajam, menunjukkan bahwa kali ini Alvero tidak akan mengalah.
__ADS_1
Melihat tindakan suaminya itu, akhirnya Deanda hanya bisa menarik nafas panjang dan menyerah. Membiarkan tubuhnya tetap dalam rengkuhan lengan Alvero.
"Ayo Rock, antarkan kami ke tempat Red sekarang." Deanda langsung mengajak Rock untuk menemui Red, setelah pandangan matanya yang menyapu sekitarnya, dan tidak menemukan sosok Red sejauh matanya memandang.
Apalagi sebelum mereka turun dari mobil tadi, di tempat parkir terlihat mobil milik Marcello juga terparkir di sana. Melihat itu, sudah dipastikan bahwa Marcello dan Red memang sudah siap dan menunggu untuk menemuinya dan Alvero. Membuat Deanda ingin segera bertemu dengan mereka berdua.
"Red dan uncle Marcello memang sudah menunggumu sedari tadi. Ikutlah denganku." Rock langsung mengajak Deanda untuk berjalan ke arah sebuah bangunan rumah, yang merupakan rumah milik Red, diikuti oleh Ernest yang selalu setia mengikuti kedua majikannya itu kemanapun mereka memberinya perintah.
Awalnya rumah bergaya minimalis namun terlihat rapi dan asri itu adalah rumah yang biasa ditempati oleh Alexis ketika masih menjadi pimpinan di Goldie Tavisha. Namun, setelah Alexis dinyatakan hilang dan meninggal, rumah itu ditempati oleh Red yang menggantikan Alexis menjadi pemimpin dari Goldie Tavisha.
Beberapa orang yang bertemu dengan mereka di jalan setapak menuju rumah itu, terlihat berhenti, memberikan salam penghormatan mereka kepada Alvero dan Deanda, sebelum akhirnya meneruskan kembali kegiatan mereka, setelah kedua pemimpin tertinggi di negara itu berlalu pergi.
"Aku hanya bisa mengantar Anda berdua sampai di sini, karena masih banyak urusan yang harus aku kerjakan di tempat lain. Baiklah Deanda, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Sampai jumpa lagi di lain waktu." Rock berkata sambil membungkukkan tubuhnya memberikan salam penghormatan sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi, menyelesaikan dalah satu tugas dari Red, membobol sistem keamanan sebuah pabrik pembuatan senjata illegal, atas pemintaan salah seorang customer.
Setelah kepergian Rock, dengan langkah-langkah elegan Alvero memasuki halaman rumah Red bersama Deanda dan Ernest, mendekat ke arah pintu masuk rumah tesebut.
Begitu memasuki halaman rumah itu, Deanda sedikit menjauhkan tubuhnya dari Alvero, sehingga lepas dari rengkuhan lengan Alvero di bahunya. Kali ini Alvero membiarkan Deanda melepaskan diri darinya. Setelah itu dengan langkah terlihat ceria, Deanda mendekati pintu rumah yang sedang terbuka lebar.
__ADS_1
"Yang Mul... Tuan Alvi,..." Marcello menyebutkan nama Alvero dengan gugup karena belum terbiasa memanggilnya tanpa sebutan yang mulia.
Begitu melihat kedatangan dua tokok besar dari kerajaan Gracetian, baik Red dan Marcello langsung bangkit berdiri dan memberikan salam penghormatan mereka.
"Selamat datang di Goldie Tavisha Tuan Alvi, Nona Besar." Red berkata sambil memandang ke arah Alvero dengan sedikit menganggukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Alvero.
"Selamat siang Red, Uncle Mercello." Dengan senyum terlihat cerah, Deanda langsung berjalan mendekat ke arah mereka sambil tangannya bergerak meminta mereka menghentikan sikap hormat mereka.
"Apa kabar kalian? Uncle, ternyata Uncle sudah datang. Padahal aku pikir aku sudah datang lebih awal dari jam yang sudah ditentukan." Deanda berkata sambil mengambil posisi duduk di sofa ruang tamu, dimana Alvero langsung mengambil posisi duduk di samping Deanda.
Untuk Ernest sendiri, dia berdiri dengan sikap siaga di samping sofa dimana Alvero dan Deanda duduk, tepat berhadapan dengan Marcello dan Red. Baik Marcello dan Red yang sudah beberapa kali bertemu dengan Ernest, dan mengetahui posisinya sebagai pengawal pribadi Alvero, melemparkan senyum mereka sekilas ke arah Ernest yang langsung membalasnya dengan sikap hormat.
"Uncle sengaja datang lebih cepat agar bisa mengobrol lebih lama dengan Red. Dengan kesibukan kami masing-masing, selama ini sangat sulit mengatur waktu untuk bertemu dan saling berbincang seperti ini. Bagaimana kabarmu? Kenapa tiba-tiba ingin bertemu dengan kami berdua? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi? Atau mungkin sudah ada perkembangan tentang kasus Kak Alexis?" Marcello langsung menjawab pertanyaan Deanda yang disambut sebuah senyuman oleh Deanda.
"Tidak Uncle, aku dan yang mulia baik-baik saja. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh yang mulia kepada Uncle dan Red secara pribadi. Sebuah permintaan khusus kepada kalian berdua, dan sepertinya hanya kalian yang bisa mengabulkannya." Deanda berkata sambil memandang ke arah Marcello dan Red secara bergantian dengan senyum di bibirnya, membuat baik Red maupun Marcello mengernyitkan dahinya dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1