
"Tidak, dimanapun bagiku sama saja, selama bersamamu." Deanda berkata sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Alvero sambil tersenyum manis.
Dengan gerakan cepat tapi lembut, Alvero langsung mencubit pipi Deanda dengan gemas mendengar kata-kata Deanda yang semakin hari semakin mesra dan semakin berani menggodanya, tidak sama seperti saat baru mengenal Deanda dulu.
Deanda yang dikenal Alvero dulu akan lebih banyak diam dan terlihat tidak perduli pada Alvero, karena rasa tidak percaya dirinya bahwa seorang Alvero Adalvino benar-benar jatuh cinta padanya. Sedangkan sekarang, dari sikap dan tatapan mata Deanda, Alvero bisa dengan begitu jelas melihat adanya cinta yang begitu besar untuknya dari wanita miliknya itu.
"Ok, sekarang kita harus membicarakan tentang rencana Eliana terhadap Alaya." Alvero berkata sambil menyunggingkan senyum geli ke arah Alaya yang ikut tersenyum.
Ingatan Alvero tentang rencana Eliana kepadanya yang melibatkan Alaya benar-benar membuatnya merasa jijik sekaligus geli karena memikirkan bagaimana dengan percaya diri dan bodohnya, Eliana memilih Alaya sebagai umpan untuknya.
Bagi Alvero itu sama saja Eliana sedang mengarahkan pistol ke keningnya sendiri, bahkan menggunakan tangannya sendiri, tanpa dia sadari. Suatu tindakan yang benar-benar bodoh. Memikirkan tentang hal itu, wajah Alvero terlihat dingin sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang terlihat sinis.
Sebentar lagi, semuanya hal buruk akan segera berbalik, mengarah ke Eliana sendiri. Saat pembalasan sudah datang Dan aku akan secepat mungkin membuat agar itu segera terjadi.
Alvero berkata dalam hati dengan tatapan matanya yang terlihat tajam. Rasanya dia begitu tidak sabar melihat bagaimana semua penderitaan, penghinaan dan kesulitan yang dialami oleh Larena dan Alaya, agar segera dibayar oleh Eliana.
"Menurutku, rencana Eliana sebenarnya baik untuk kalian berdua. Setelah sekian lama baru bertemu, kalian sepertinya memang perlu memiliki waktu berdua untuk bisa lebih saling mengenal satu sama lain sebagai kakak adik. Kalian bisa menikmati waktu kencan di luar untuk bisa saling berbicara dari hati ke hati. Hal itu akan membuat kalian berdua sebagai kakak adik akan semakin dekat. Aku justru suka dengan rencana kencan kalian. Kalian memang membutuhkan itu." Deanda berkata sambil tersenyum dan menepuk lembut paha Alvero yang menaikkan salah satu alisnya, kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
"Jadi bagaimana menurutmu Alaya? Kapan dan dimana kita akan memulai kencan pertama kita?" Perkataan Alvero langsung membuat Alaya tertawa tergelak, merasa konyol bagaimana dia harus berpura-pura berkencan dengan kakak kandungnya sendiri.
Bagi Alaya, dia yakin kencan palsu mereka justru akan menjadi seperti acara liburan keluarga yang menyenangkan.
"Terserah Kakak. Aku baru saja berpindah dari Renhill ke Tavisha. Itupun di tempat aku bekerja banyak pekerjaan yang langsung diberikan padaku. Membuat aku belum memiliki banyak kesempatan untuk berkeliling di kota Tavisha." Alaya mengucapkan akta-katanya sambil matanya terlihat cerah karena membayangkan tempat-tempat indah yang pernah dia lewati saat melakukan perjalanan antara kota Renhill dan kota Tavisha, tanpa memiliki kesempatan untuk menikmati keindahan tempat-tempat itu lebih lama, hanya sekedar lewat.
"Ok kalau begitu." Alvero berkata sambil menepukkan kedua tangannya.
"Dalam minggu ini, siapkan dirimu untuk pergi berkencan denganku Alaya. Aku akan mencari tempat yang indah untuk kita kunjungi. Aku jamin kamu tidak akan pernah menyesal mengunjungi tempat-tempat indah itu." Perkataan Alvero sukses membuat Deanda maupun Alaya langsung tersenyum.
“Akan tetapi… sebelumnya, besok kita akan membuat Eliana melihat bagaimana tanpa sengaja kita menjadi dekat. Kita harus membuat semuanya terlihat sealami mungkin agar Eliana tidak curiga jika melihat kita tiba-tiba menjadi begitu dekat.” Alvero menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.
“Begitukah? Drama romantis apa yang kira-kira akan kamu buat besok? Apakah itu akan membuatku cemburu sehingga kamu takut aku akan merusaknya?” Pertanyaan Deanda yang dikatakannya dengan senyum di wajahnya, membuat Alvero dan Alaya langsung tergelak.
“Ah, kamu sungguh membuatku gemas.” Alvero berkata sambil mengacak pelan rambut Deanda, lalu menarik kepala Deanda mendekat ke arahnya, agar dia bisa mengecup puncak kepala Deanda dengan lembut, membiarkan Alaya yang melihat kemesraan mereka langsung tersenyum dengan wajah bahagia.
Kak Alvero dan kak Deanda, aku begitu senang bisa melihat keharmonisan kalian berdua. Semoga secepatnya mama Larena juga bsia menerima papa Vincent kembali. Agar keluarga kita bersatu kembali dan bisa hidup bahagia. Aku sungguh ingin merasakan keluarga yang utuh. Itu pasti akan sangant membahagiakan.
__ADS_1
Alaya berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam.
Sesuai rencana, besok lusa Alaya akan menjemput mamanya di bandara kota Renhill bersama Alexis. Dan dalam waktu dekat mereka berdua akan berusaha untuk mencoba membujuk Larena agar mau menemui Vincent dan Alvero secara langsung, bukan sekedar melihat suami dan anak pertamanya itu dari jauh secara diam-diam, seperti rencana Larena semula ketika dia memutuskan datang kembali ke Gracetian.
Sampai saat ini, baik Alaya maupun Alexis sengaja menyembunyikan tentang kenyataan kepada Larena, bahwa sebenarnya Vincent dan Alvero sudah mengetahui tentang keberadaan mereka berdua. Bahkan hubungan Alaya dengan Alvero maupun Vincent untuk saat ini boleh dibilang sangat dekat.
Walaupun Alaya masih bertemu sekali saja dengan Vincent, lebih dari sekali, setiap ada kesempatan, Alaya akan melakukan panggilan melalui video dengan Vincent untuk sekedar menanyakan keadaan dan mengobrol.
Bagi Vincent sendiri, setelah dia mengetahui keberadaan Alaya, setiap saat yang dipikirkannya adalah mencari waktu untuk dapat mengobrol dengan Alaya, mulai mencoba mengenal lebih dekat sosok putri cantik yang keberadaannya baru dia ketahui. Dan juga untuk mendapat kesempatan menanyakan bagaimana kondisi Larena, kabarnya maupun cerita di masa lalu saat mereka berdua hidup di negara lain tanpa Alexis bisa menemani mereka.
“Sudah malam Alaya, sebaiknya kamu segera kembali ke apartemenmu untuk beristirahat. Detail rencana besok pagi, nanti malam aku akan kirimkan lewat pesan kepadamu. Aku akan aturkan orang untuk mengantarmu.” Perkataan Alvero langsung menyadarkan Alaya dari lamunannya.
“Eh, jangan Kak, lebih baik aku naik taxi untuk menghindari pengawasan dari mata-mata wanita itu. Untuk sementara ini, sebelum kita menjalankan rencana kita, kita tidak boleh terlihat memiliki suatu hubungan dekat.” Alaya berkata sambil membuka tasnya, sedang Alvero sendiri akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui ide Alaya.
“Ini Kak.” Alvero dan Deanda sedikit kaget melihat Alaya yang berkata sambil meletakkan setumpuk uang ke atas meja yang ada di depan mereka.
“Apa maksudnya ini Alaya?” Alvero bertanya sambil telunjuk tangannya terarah ke tumpukan uang di depannya.
__ADS_1