
“Dan sejak jabatan permaisuri beralih dari ibu suri kepada Deanda, sudah seharusnya tanpa perlu diingatkan, apalagi sampai ditegur, secara sukarela dan otomatis harusnya ibu suri segera menyerahkan semua wewenang ibu suri terhadap segala keputusan yang berhubungan dengan rumah tangga istana kepada permaisuri Deanda.” Dengan sengaja Alvero menambahkan kata-kata yang terus mengingatkan kepada Eliana bahwa posisinya sekarang sudah digantikan oleh Deanda, dan dia tidak lagi berhak atas urusan rumah tangga istana, termasuk dalam urusan melakukan screening terhadap para pegawai yang akan bekerja di dalam istana.
Mendengar perkataan dari Alvero, tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi, dengan cepat Eliana mematikan sambungan telepon tersebut dan membanting handphonenya ke atas kasur dengan wajah terlihat begitu memerah, dengan mata melotot. Pada akhirnya Eliana tidak tahan juga mendengar setiap perkataan dari Alvero yang terdengar memojokkan sekaligus dengan jelas menunjukkan rasa tidak hormat dan meremehkan keberadaannya sebagai ibu suri, istri sah dari Vincent.
Alvero! Benar-benar kurang ajar! Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan yang kamu lakukan hari ini kepadaku! Aku akan membuatmu menangis dan menderita! Dan orang yang paling bisa membuatmu menderita adalah Deanda Federer! Orang yang paling kamu cintai! Aku akan membuatmu menderita melalui dia karena sudah berani meremehkanku hari ini! Dia akan menjadi senjata yang paling tajam untuk dapat melukaimu! Sampai kamu tidak dapat bangun kembali karena luka itu!
Eliana memaki dalan hati dan dengan langkah tergesa, segera berjalan meninggalkan kamarnya, berjalan keluar istana. Begitu samnpai di depan pintu gerbang istana, Eliana langsung berjalan mendekati mobilnya, dimana sopir pribadinya sedang menikmati rokok yang ada di tangan kirinya sambil memandang ke arah para pengawal yang berjaga-jaga di sekitar istana.
"Ayo, pergi dari sini!" Melihat sosok Eliana mendekat, sopir pribadinya segera melemparkan sisa rokok di tangannya dengan sembarangan ke tengah-tengah taman rumput yang ada di dekatnya, sedang seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Eliana.
"Kita akan kemana ibu suri?" Sopir itu berkata sambil melirik ke arah kaca spion untuk dapat melihat raut wajah Eliana tanpa harus menoleh ke belakang.
"Kita ke markas sekarang!" Dengan suara nyaring yang masih menunjukkan bagaimana dia masih marah, Eliana segera menjawab pertanyaan sopir pribadinya itu.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Sudah lama sejak terakhir kalinya kita mengunjungi markas baru setelah markas lama diobrak-abrik orang-orang putra mahkota Alvero." Mendengar perkataan sopirnya, Eliana hanya bisa mendengus kesal, apalagi dia sadar sepenuhnya bahwa hari ini Alvero sudah membuatnya begitu marah, tanpa dia bisa melakukan apapun untuk membalas Alvero saat ini.
# # # # # # #
"Hah! Kamu pikir siapa yang mau kamu bodohi? Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Dengan kemarahanmu, aku harap banyak keputusan dan tindakan bodoh yang akan kamu lakukan ke depannya. Dan aku tidak sabar menantikan hal itu." Alvero berkata lirih sambil menyunggingkan sebuah senyum puas karena hari ini bisa membuat Eliana menunjukkan kemarahannya.
__ADS_1
Suatu hal yang sudah sejak lama begitu ingin dilakukan oleh Alvero. Membuat Eliana menunjukkan sosok aslinya di depan banyak orang, termasuk di depannya. Dan Alvero yakin, ke depannya akan ada begitu banyak kesempatan yang akan bisa dia gunakan dengan baik untuk membuat orang tahu orang seperti apa sebenarnya sosok Eliana. Karena Alvero yakin, dengan membuat Eliana semakin marah, Alvero berharap Eliana akan semakin membuat banyak keputusan dan tindakan yang salah.
Hah, dasar Eliana! Kamu sudah membuatku kehilangan banyak waktu hanya untuk mendengarkan protes tidak bergunamu. Aku harus segera menemui tuan Robert dan kembali ke café agar Deanda tidak menunggu terlalu lama.
Alvero berkata dalam hati sambil menjauhkan tubuhnya dari meja kerja Avitus yang tadinya dia pakai untuk bersandar. Setelah itu dengan langkah sedikit bergegas, Alvero keluar dari ruangan Avitus dan berjalan ke arah lift.
Aist… gara-gara sibuk meladeni Eliana membuat aku harus meninggalkan istriku terlalu lama. Benar-benar membuang-buang waktu berhargaku bersama Deanda.
Alvero kembali berkata dalam hati sambil melirik ke arah jam di tangannya sambil berusaha menghindari para pegawai yang kebetulan beberapa diantaranya terlihat berlalu lalang di dalam gedung perusahaan Adalvino. Bahkan Alvero sedikit tidak perduli dengan salam hormat dari para pegawai yang melihat kehadirannya di gedung perusahaan.
Begitu memasuki pintu lift pribadinya, Alvero langsung memencet tombol nomer lantai dimana terletak departemen R&D. Setelah itu Alvero langsung mengirimkan pesan kepada Ernest.
Dengan gerakan cepat Alvero segera keluar dari pintu lift pribadinya, namun gerakannya sedikit terhambat karena banyaknya pegawai yang ternyata sedang berkumpul di dekat pintu lift pribadinya menunggu lift umum terbuka agar mereka bisa masuk ke dalamnya.
“Selamat siang Yang Mulia.” Begitu mereka yang ada di sana melihat sosok Alvero, mereka langsung mengucapkan selamat siang dengan memberikan salam hormat kepada Alvero yang dengan cepat menganggukkan kepalanya dan memberikan tanda melalui tangannya bahwa dia menerima salam hormat mereka.
“Yang Mulia Alvero.”
Dengan terburu-buru dan sedikit berlari, Alvero menuju ruang R&D, sehingga ketika sebuah suara yang dikenalnya memanggilnya dari arah belakang tepat di depan pintu R&D, Alvero langsung memoleh tanpa menghentikan langkahnya yang terburu-buru. Tindakan Alvero membuatnya tanpa sengaja menabrak bahu salah seseorang yang baru saja keluar dari pintu ruang R&D.
__ADS_1
Hal itu membuat Alvero langsung menoleh kembali ke arah depan. Dan tubuh Alvero langsung tersentak begitu menyadari orang yang telah ditabraknya adalah Alaya.
“Maaf… maafkan saya Yang Mulia.” Dengan cepat Alaya meminta maaf kepada Alvero dengan membungkukkan tubuhnya, sambil mengambil berkas-berkas yang jatuh tercecer akbibat bahunya ditabrak oleh Alvero barusan.
Melihat itu Alvero langsung ikut berjongkok, membantu Alaya mengambil berkas-berkasnya yang tercecer.
“Biar saya saja Yang Mulia…” Alaya berkata sambil meraih beberapa lembar kertas yang ada di tangan Alvero, sehingga tanpa sengaja Alaya menyentuh punggung tangan Alvero.
“Ah, aku yang tidak sengaja menabrakmu. Aku sedang terburu-buru….”
“Yang Mulia, biar saya yang membantu nona ini. Lebih baik Yang Mulia melanjutkan urusan Yang Mulia.” Nyonya Rose yang tadi merupakan orang yang memanggil Alvero langsung berjongkok di depan Alaya dan membantunya mengambil dan merapikan berkas yang terjatuh itu.
“Ok, tolong bantu nona Alaya, Nyonya Rose. Aku harus segera menemui tuan Robert.” Dengan cepat Alvero bangkit dari posisi berjongkoknya, berencana masuk ke pintu departemen R&D.
Namun, begitu Alvero berdiri tegak dan pandangan matanya lurus ke arah pintu ruang R&D yang terbuat dari kaca tebal yang transparan, Alvero sedikit tersentak begitu menyadari Deanda sudah berdiri di balik pintu itu, sedang menatap ke arahnya. Dan bisa dipastikan Deanda melihat dari awal kejadian barusan antara Alvero dan Alaya. Walaupun dengan cepat baik Alaya maupun Alvero segera menarik tangan mereka begitu tangan mereka bersentuhan tadi, pemandangan itu tetap saja membuat Deanda menarik nafas panjang.
Jujur saja, Deanda tidak ingin melakukan itu. Dia ingin bersikap tenang, melihat apa yang terjadi di depannya bukanlah sesuatu yang disengaja. Tapi begitu teringat bahwa selain dia, Alaya adalah gadis yang tidak menimbulkan alergi kepada Alvero, membuat dada Deanda sedikit bergejolak.
Deanda tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini, yang pasti hatinya begitu merasa tidak tenang melihat keberadaan Alaya yang tidak menimbulkan alergi pada Alvero, berada di dekat Alvero. Rasanya saat ini dia ingin berlari ke arah Alvero, menarik lengan suaminya agar secepatnya menjauh dari sosok Alaya. Namun, tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah diajarkan bagaimana bersikap sopan dan tetap bersikap elegan sebagai istri seorang raja Gracetian, Deanda tidak bisa melakukan hal seperti itu.
__ADS_1