BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
HARAPAN ALVERO ATAS GRACETIAN


__ADS_3

Melihat itu Tira hanya bisa ketakutan sekaligus berusaha keras untuk menahan tangisnya dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya agar tidak menimbulkan suara yang dapat membuat Eliana mendengarnya dan berakhir dengan penyiksaan yang akan dia dapat seperti Alvero. Dengan buru-buru dan ketakutan, Tira langsung berlari meninggalkan tempat itu. Jika kepada Alvero, yang merupakan seorang putra mahkota saja Eliana berani berbuat sekejam itu, Tira yakin Eliana sanggup melakukan hal yang lebih kejam kepadanya yang kedudukannya lebih rendah dari Alvero.


Pemandangan yang dilihat Tira dan pemikirannya saat itu, membuat Tira langsung membatalkan niatnya untuk mengadu kepada orangtuanya. Bahkan sampai di usainya sekarang, Tira menyimpan rapat-rapat rasa trauma dan ketakutannya dari peristiwa hari itu kepada semua orang, termasuk kepada kedua orangtuanya dan Alvero sendiri.


Sekilas Tira memandang ke arah Alvero, merasa senang bahwa kakak sepupunya itu sudah tumbuh dewasa, menjadi seorang laki-laki yang hebat dan kuat. Sehingga Eliana tidak bisa lagi menekan dan mengendalikannya lagi, memperlakukannya dengan sesuka hatinya, seperti saat Alvero masih kanak-kanak dulu. Dan kekuatan Alvero yang dia tunjukkan sejak dia masih seorang putra mahkota, sudah membuat posisi Eliana semakin tersudut. Apalagi sekarang Alvero merupakan seorang raja Gracetian.


Mengingat bagaimana Alvero membuat wajah Eliana tercoreng dan dipermalukan karena tidak bisa menghadiri acara penganugerahan gelar putri kepada Deanda waktu itu, membuat Tira merasa senang sekaligus puas. Seolah dendam lamanya sedikit demi sedikit dibayar oleh Eliana, melalui Alvero. Belum lagi selain kejadian itu, Tira bisa melihat bagaimana sikap tegas Alvero terhadap Eliana dan kedua anaknya yang bagi Tira, seringkali melakukan tindakan yang tidak pantas sebagai seorang putri dan pangeran.


Dan sebuah senyum lega sekaligus meremehkan, begitu ditahan oleh Tira, mengingat bagaimana Desya yang diusir dari istana karena berusaha mencelakakan Deanda. Sebuah hukuman yang bagi Desya pasti terasa berat karena dia sebagai putri Gracetian, yang terbiasa dimanjakan oleh Eliana, dan dilayani oleh banyak pelayan. Apalagi dengan sikap sombongnya, Desya pasti merasa kehilangan muka di depan para teman dan keluarganya karena harus keluar dari istana karena ketahuan berusaha mencelakai pemaisuri.


Membayangkan bagaimana menderita dan malunya Desya akibat hukuman itu, rasa puas di dada Tira semakin membuncah. Walaupun bagi Tira, sebenarnya tahu Alvero bisa saja memberikan hukuman yang lebih berat dari itu kepada Desya. Tapi Tira yakin, sosok baik hati dan sabar dari Deanda, ikut mempengaruhi keputusan Alvero hari itu.

__ADS_1


Saat kejadian itu, Alvero masih berbaik hati dengan tidak memberikan alasan dengan terang-terangan menyatakan alasan kenapa Desya diusir dari istana kepada publik. Tapi tidak ada yang bisa mencegah orang dalam istana yang membicarakan hal itu diluar dinding istana, sehingga mau tidak mau berita itu terdengar juga oleh orang-orang diluar tembok istana. Yang pada akhirnya mencibir perilaku Desya.


"Kak, apa perlu aku mencari info tentang siapa yang ditemui oleh ibu suri kemarin? Kebetulan aku mengenal baik pemilik hotel itu." Mendengar penawaran Tira, Alvero langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan ikut campur dalam urusan ini Tira. Kamu tidak tahu sekejam dan seburuk apa orang yang sedang kita hadapi. Serahkan hal itu kepadaku. Aku tidak mau kamu terluka atau berada dalam bahaya jika sampai Eliana mengetahui kamu sedang mencari info tentang dia. Biar aku yang mengurus hal itu. Infomu hari ini sudah begitu membantuku. Sebuah petunjuk baru yang bisa membawaku ke petunjuk yang lain. Lebih baik kamu tidak dekat-dekat dengan ibu suri untuk sementara waktu ini. Lihat saja apa yang dilakukan olehnya, tapi jangan berusaha untuk mendekatinya. Demi keamanan dirimu sendiri." Alvero berkata dengan nada terdengar jelas bahwa dia mengkhawatirkan Tira.


"Tenang saja Kak. AkuĀ  bisa menjaga diri. Apalagi raja Gracetian sekarang adalah Kak Alvero. Aku rasa dia terlalu nekat jika berani menentangmu. Bukan mau meremehkan uncle Vincent. Tapi Kak Alvero tidak selemah uncle Vincent. Aku rasa ibu suri sekarang tidak terlalu berani bertindak macam-macam sejak Kakak menjadi raja." Tira berkata dengan tatapan mata terlihat begitu optimis, sekaligus menatap bangga ke arah Alvero.


"Hah, kamu ini. Pokoknya jangan bertindak sembarangan. Kalau ada apa-apa, kamu harus hubungi aku. Dan jika membutuhkan bantuan, ingat untuk meminta bantuan dariku tanpa ragu." Dengan wajah serius, Alvero memberikan nasehatnya kepada Tira yang langsung tertawa kecil.


Mendengar perkataan Tira, Alvero hanya tersenyum sambil memandang Tira dalam-dalam. Sebagai seorang raja, Alvero begitu ingin melindungi tawa Tira dan keluarganya yang lain, agar bisa selepas dan seceria itu. Dan itu hanya bisa dilakukan jika dia berhasil menyingkirkan Eliana dan para kaki tangannya sampai bersih. Agar kedamaian dan keamanan di Gracetian bisa tercapai.

__ADS_1


"Sudah hampir gelap, sebaiknya kita masuk ke dalam sekarang." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya setelah meletakkan cangkir tehnya di atas meja yang ada di depannya.


"Iya Kak, aku juga ada janji makan malam bersama teman. Maaf ya, untuk hari ini aku tidak bisa ikut makan malam di istana." Tira berkata sambil sedikit menjauhkan wajahnya dari tatapan mata Alvero dengan sikap hati-hati dan sedikit canggung, membuat Alvero langsung tersenyum.


"Apa sebuah janji makan malam dengan seorang pria?" Alvero bertanya sambil menatap lurus ke arah Tira yang wajahnya langsung bersemu merah.


"Bu.. bukan Kak. Hanya seorang senior. Kami tidak memiliki hubungan lain selain kedekatan antara seorang senior dan yunior di kampusku dulu." Deanda ikut tersenyum mendengar jawaban gugup dari Tira.


"Aku tidak menanyakan hubungan kalian. Aku tadi kan hanya bertanya, apa janji makan malam dengan seorang pria?" Wajah Tira semakin memerah mendengar pertanyaan Alvero yang jelas-jelas sedang mengolok-oloknya.


"Tenang saja. Kamu sudah dewasa, sudah diperbolehkan untuk berkencan. Hanya saja, jika kalian sudah mulai serius, bawa dia menghadap kepadaku. Aku ingin tahu jelas dia orang seperti apa sebelum dia berani melamarmu. Kamu percaya kan dengan mata tajamku saat menilai tentang seseorang?" Tira hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sikap terlihat malu-malu mendengar permintaan Alvero.

__ADS_1


"Aku akan ingat dengan baik pesan Kak Alvero. Kalau begitu, aku akan pergi lebih dulu. Selamat sore Kak. Semoga acara makan malam kalian bersama yang lain menyenangkan." Begitu menyelesaikan kata-katanya, Tira langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari Alvero dan Deanda dengan senyum dan langkah-langkah cerianya, membuat Alvero dan Deanda yang memandang ke arahnya ikut tersenyum.


"Tidak aku sangka, para adik-adikku sudah mulai beranjak dewasa dan waktunya untuk mereka bertemu dengan jodoh mereka masing-masing." Alvero bergumam pelan dengan mata masih menatap ke arah sosok Tira yang sudah semakin menjauh.


__ADS_2