
Sebentar kemudian Alvero tersenyum simpul dengan berusaha keras, agar senyumnya tidak diketahui oleh orang lain. Bagaimanapun dia selalu merasa bangga dan suka saat melihat stempel kepemilikannya memenuhi tubuh istrinya.
Hah, jika menyangkut tentang istriku. Pikiranku selalu saja liar dan tidak terkendali. Rasanya tidak pernah puas meskipun kami sudah melakukannya berulang kali. Kamu benar-benar sudah membuatku kecanduan terhadap keberadaan dan tubuhmu sweety.
Alvero berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya, menatap ke arah nyonya Rose untuk mengalihkan pikirannya terhadap sosok wanita miliknya yang sedang mandi itu.
Dasar gadis polos. Di dalam pikirannya pasti hanya tahu bagaimana cara bertarung saja. Sampai-sampai tidak sadar bahwa walaupun permaisuri Deanda adalah sahabatnya, dan dia ingin segera bertemu dan mengobrol dengan permaisuri, dia harusnya ingat bahwa permasuri dan yang mulia Alvero adalah pengantin baru. Entah berapa lama lagi yang mulia Alvero tidak mengijinkan pelayan untuk membantu permaisuri untuk membersihkan diri. Melihat bagaimana mesranya yang mulia kepada permaisuri. Sepertinya tidak dalam waktu dekat. Ah…. Semoga kabar tentang keberadaan calon putra mahkota segera terdengar. Permaisuri Deanda, semoga anda cepat mengandung calon penerus tahta Gracetian.
Nyonya Rose berkata dalam hati sambil melemparkan senyum ke arah Alvero yang tampak menggaruk-garuk alis kanannya dengan ujung jarinya karena sedikit salah tingkah melihat tatapan mata nyonya Rose yang terlihat mengerti kenapa Alvero bersikeras agar Alea tidak membantu permaisurinya dalam membersihkan diri.
Melihat tatapan penuh arti dari nyonya Rose, hanya bisa membuat Alvero berdehem kecil dan mengalihkan pandangan matanya dengan sikap menunjukkan wajah sedikit memerah karena malu akibat tatapan nyonya Rose barusan. Tatapan yang seolah-olah mempertanyakan apa saja yang sudah dilakukannya bersama Deanda sampai Alea tidak diijinkan untuk membantu Deanda mandi. Sedangkan pelayan yang membantu permasuri atau putri mandi di pagi hari sebenarnya sudah merupakan hal wajib, rutinitas di istana yang dilakukan tiap pagi hari.
Begitu mendengar permintaan Alea tadi, bahkan sebelum Alvero menjawab, dengan cepat tangan nyonya Rose bergerak untuk memberikan tanda kepada Alea agar tidak meneruskan niatnya. Karena itu, begitu Alvero menolak permintaannya, tanpa bertanya ataupun meyanggahnya, Alea langsung kembali memundurkan langkahnya.
__ADS_1
"Yang Mulia, kapan Yang Mulia dan permaisuri datang? Bukankah jika sesuai jadwal harusnya Yang Mulia dan permaisuri baru akan kembali besok malam?" Ernest yang merasa begitu penasaran langsung bertanya tentang kedatangan Alvero dan Deanda, yang seharusnya baru besok malam kembali ke istana.
"Baru saja, mungkin tidak ada 5 menit sebelum kamu mengetuk pintu dan datang bersama Eliana. Untung saja kami berpikir dengan cepat untuk bisa mengecoh Eliana barusan, dengan berpura-pura kami sebagai pengantin baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Dengan kejadian tadi Eliana pasti berpikir bahwa selama beberapa hari ini, kami memang tidak berniat keluar kamar karena sedang ingin menikmati waktu berdua." Alvero berkata dengan nada santai.
"Sebelum memasuki istana, aku sempat memeriksa cctv yang menunjukkan pergerakan orang dalam istana. Karena itu kami tahu bahwa Eliana sedang berusaha mengunjungi kamarku karena rasa penasaran dan kecurigaannya. Bahkan kami sempat melihat bagaimana kamu dan Eliana bersitegang karena masalah ijin untuk memasuki kamarku." Alvero berkata sambil melirik ke arah jendela kamarnya yang masih terbuka lebar.
Melihat ke arah jendela itu mau tidak mau Alvero teringat bagaimana beberapa waktu yang lalu dia dan Deanda dengan terburu-buru memanjat ke jendela kamar mereka seperti pencuri. Dan karena terlalu bergegas, membuat mereka tidak sempat lagi menutup kembali jendela kamar itu.
Wanita yang bukan hanya terbaik untuknya, tapi juga satu-satunya wanita yang begitu dicintainya dengan sepenuh hati. Wanita yang selalu menjadi fokusnya dan selalu ingin dibahagiakan dan dilindunginya.
"Urusan kami di Renhill lebih cepat selesai dari waktu yang kami perkirakan, karena itu kami memutuskan untuk segera kembali ke istana. Apalagi, ada banyak hal yang harus kami kerjakan terkait dengan rencana kita di kota Renhill. Aku yakin Erich sudah memberitahukan tentang hal itu kepadamu." Mendengar kata-kata Alvero, Ernest langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang, karena semuanya tetap dalam kendali.
"Hah! Bagaimanapun saya merasa lega, Yang Mulia dan Permaisuri datang di waktu yang sangat tepat. Jika tidak itu akan membuat rencana yang sudah kita buat sedemikian detail menjadi rusak." Ernest berkata sambil menarik nafas lega.
__ADS_1
"Tenang saja Ernest. kita pasti akan berhasil dengan rencana kita. Secepatnya kita akan mendapatkan bukti kejahatan Eliana dan mengusirnya keluar dari istana secepat mungin. Secepat yang kita bisa agar tidak laki ada korban berjatuhan karena kekejaman Eliana." Ernest dan yang lain langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Alvero yang terdengar begitu percaya diri, sekaligus terlihat tenang.
Menunjukkan wibawanya sebagai seorang raja yang bukan hanya bijaksana, namun juga cerdas dan selalu berpikir jauh ke depan. Memiliki jiwa kepemimpinan yang begitu terasa bagi siapapun yang berada di dekatnya.
"Apa yang sudah terjadi selama kami tidak ada di istana?" Alvero bertanya sambil mengambil posisi duduk di sofa.
Setelah itu Alvero memberi tanda kepada yang lain agar ikut duduk bersamanya untuk membicarakan apa saja yang sudah terjadi di istana selama dia dan Deanda tidak ada di istana beberapa hari ini.
"Ada beberapa hal yang perlu kami laporkan kepada Yang Mulia." Ernest berkata sambil melirik ke arah Alea yang langsung menganggukkan kepalanya begitu Ernest memandang ke arahnya, seolah memberi kode agar Alea mulai berbicara tentang apa yang dia ketahui beberapa waktu ini.
"Dari pengamatan dan info saya, selama berberapa waktu ini, setiap sore pangeran Dion berlatih beladiri dengan seorang guru privat. Selain itu ada beberapa orang pelayan yang kami curigai merupakan orang-orang dari ibu suri sedang berusaha menempati posisi dalam tim pelayan permaisuri Deanda, tapi nyonya Rose sudah menghalangi agar hal itu tidak terjadi. Putri Desya dengan alasan mengunjungi ibu suri, kemarin masuk ke istana, walaupun hanya sebatas bertemu dengan ibu suri di ruang tamu istana. Tapi menurut info, putri Desya memberikan sebuah paket yang terbungkus rapi kepada ibu suri. Tapi saya belum bisa memastikan apa yang diberikan putri Desya kepada ibu suri kemarin." Alea berkata sambil memandang ke arah Alvero yang tampak tersenyum miring mendengar bagaimana Dion mulai berlatih beladiri, suatu hal yang sejak dahulu tidak disukainya.
Alvero bukannya tidak tahu bahwa apa yang membuat Dion saat ini begitu giat berlatih beladiri adalah untuk dapat mendekati Deanda.
__ADS_1