
“Salad jenis apa yang kamu inginkan sweety?” Alvero berkata sambil memandang ke arah jajaran kulkas berukuran besar yang ada di dapur dan berjajar rapi.
“Apapun asal, yang terasa segar tapi sedikit mengenyangkan. Yang berbahan utama buah. Salad buah.” Deanda menjawab pertanyaan Alvero dengan matanya memandang ke arah Alvero yang masih berdiri di sampingnya.
"Ok, aku akan buatkan Florida Salad untukmu." Begitu tinggal mereka berdua yang ada di dapur, Alvero mengajak Deanda mendekat ke salah satu kursi tinggi, seperti kursi bar, menekan kedua bahu Deanda agar duduk di kursi itu sambil menunggunya membuat salad.
Setelah itu, Alvero berjalan ke arah lemari pendingin dan membuka kukas yang khusus berisi aneka macam buah-buahan segar.
(salad buah merupakan gabungan beberapa buah yang dihidangkan dengan topping yoghurt dan mayonaise, disempurnakan dengan parutan keju di atasnya. Kata salad diperkirakan berasal dari bahasa latin “herba salata” artinya herba berarti sayuran dan salata berarti digarami atau diberi garam, jadi herba salata adalah sayuran yang diberi garam. Pada mulanya salad diartikan sebagai makanan yang terdiri dari sayur-sayuran segar (crispy leaf vegetables). Dalam perkembangan, salad diartikan hidangan yang merupakan campuran dari sayuran hijau segar, buah, daging, unggas dan ikan yang dihidangkan bersama dengan dressing (sauce) atau hanya terdiri dari buah segar dan juice. Berbagai macam nama salad yang dikenal seperti tomato salad, orange salad dan mixed salad, diambil dari dressing yang dipergunakan. Salad dapat dihidangkan dalam keadaan dingin, panas, mentah, masak atau kombinasi yang terpenting penampilan salad pada waktu dihidangkan harus segar dan menarik. Klasifikasi salad mempunyai pengaruh terhadap cara pembautan salad, yaitu: simple salad (dibuat dari satu atau dua jenis bahan utama, contoh: potato salad), compound salad/complete salad (salad yang terbuat dari tiga atau lebih bahan utama, contoh yolande salad), American salad (mirip dengan compound salad, hanya terbuat dari buah, contoh Florida salad).
"Tapi My Al… aku tidak mau kamu mencampurkan tomat di dalam salad itu." Mendengar permintaan Deanda Alvero hanya tersenyum, walaupun dia tahu tomat adalah salah satu ciri khas dari bahan pembuatan Florida Salad, Alvero kembali meletakkan tomat yang sudah dia pegang, memasukkannya kembali ke dalam lemari pendingin.
"Ok, aku tidak akan menambahkan tomatnya. Aku gantikan dengan buah anggur saja ya?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda langsung menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata terlihat berbinar cerah melihat buah anggur yang ada di tangan Alvero.
__ADS_1
Bahkan setelah Alvero mencuci buah anggur itu, dengan cepat tangan Deanda meraih sebuah biji anggur, melepasnya dari tangkainya dan langsung mengunyahnya dalam mulut, membuat Alvero tersenyum sambil sedikit menggeleng-gelengkankan kepalanya melihat bagaimana perilaku disertai dengan wajah bahagia Deanda yang sedang menikmati sebutir buah anggur barusan, seolah dia baru pertama kalinya memakan buah anggur dan ternyata begitu menyukai buah itu.
"My Al, aku mau untuk dressingnya, jangan terlalu banyak yoghurt. Aku juga tidak mau terlalu banyak keju, dan aku mau sedikit perasan jeruk lemon di bagian paling atas. Untuk buah aku mau potongan jeruk dan apel lebih banyak daripada buah yang lainnya. Tidak perlu menggunakan selada, aku hanya menginginkan potongan buah segar, tanpa sayur." Alvero yang sedang mengambil bahan-bahan dari dalam kulkas langsung mendekat ke arah Deanda begitu mendengar permintaan Deanda, yang malam ini baginya terdengar sedikit manja dan cerewet, tidak seperti biasanya.
Selama mengenal Deanda, Alvero tahu Deanda bukanlah orang yang sulit untuk dilayani. Dia akan memakan apapun yang disuguhkan kepadanya tanpa banyak bertanya atau menolak. Tapi sejak Alvero menyiapkan bahan-bahan untuk membuat salad, Deanda terus berbicara tentang apa yang diinginkannya tanpa berhenti, membuat Alvero merasa geli sekaligus gemas.
"Ok my queen. As you wish. As long as you are happy." Alvero berkata sambil mengecup lembut kening Deanda yang langsung tersenyum dengan wajah terlihat bahagia karena hari ini Alvero bersedia memenuhi semua keinginannya.
Begitu selesai melakukan aksinya, dengan cepat Alvero melepaskan apron yang dikenakannya dan duduk tepat di hadapan Deanda setelah menyodorkan sebuah mangkuk salad buah jenis Florida salad ke arah Deanda yang dia garnis dengan indah, membuat tanpa sadar Deanda menelan air liurnya karena melihat tampilan salah buah hasil karya Alvero itu.
“Mau makan salad ini bersamaku?” Deanda menawarkan kepada Alvero untuk makan bersama dalam satu mangkuk karena dilihatnya Alvero sengaja hanya membuat satu mangkuk saja.
“Tidak, aku tidak lapar. Makan saja sampai kamu puas sweety. Jika kurang, aku akan segera membuatkannya lagi untukmu. Jadi, jangan khawatirkan hal itu.” Alvero berkata sambil tersenyum dan melipat kedua tangannya di atas meja dan mengamati bagaimana Deanda menikmati salad itu.
__ADS_1
Rasanya malam ini Alvero merasa begitu puas bisa membuatkan Deanda semangkuk salad buah. Walaupun itu hanya sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tapi bagi Alvero itu sungguh membuatnya bahagia. Apalagi dengan kesibukan mereka berdua setelah menikah membuat mereka berdua juga jarang memiliki waktu istimewa berdua seperti ini.
Kadang ada sedikit rasa penyesalan dalam diri Alvero karena kesibukan mereka membuat dia tidak bisa memiliki waktu berdua dengan Deanda seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
"Sweety, kadang aku sungguh merasa bersalah tidak bisa melakukan banyak hal indah berdua denganmu karena kesibukan kita." Deanda yang baru saja menikmati satu sendok dari salad di depannya itu langsung memandang ke arah Alvero karena merasa aneh dengan perkataan Alvero barusan.
"Kenapa berbicara seperti itu? Bukannya kita selalu bersama, baik di istana maupun di kantor?" Dengan nada santai Deanda menanggapi perkataan Alvero.
"Kita memiliki waktu bersama cukup banyak, tapi kita menghabiskannya untuk bekerja, bukan menikmati waktu berdua seperti pasangan pengantin baru pada umumnya." Mendengar perkataan Alvero, Deanda tersenyum sambil tangannya menggenggam tangan Alvero.
"Jangan khawatir my Al. Aku sudah siap menerima setiap resiko menjadi istri seorang raja sepertimu. Dan aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang ini. Bukan kuantitas, banyak dan lamanya waktu kita habiskan berdua, tapi kualitas dari waktu yang kita lalui bersama. Bukankah sekarang itu yang terpenting untuk kita berdua sekarang?" Deanda berkata sambil mengerlingkan matanya kepada Alvero sambil melepaskan genggaman tangannya.
Walaupun Alvero tidak menjawab perkataan Deanda, tapi senyum dan aura lega di wajah Alvero sudah cukup membuat Deanda mengerti bahwa Alvero setuju dengan pemikirannya barusan.
__ADS_1