BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RUMAH KAYU DI TENGAH DANAU


__ADS_3

“Ayo, kita kesana sekarang selagi masih pagi. Aku jamin kamu akan menyukai tempat itu.” Alvero berkata sambil menggandeng tangan Deanda, mengajaknya berjalan menyusuri jalan setapak yang ada, sampai di sebuah persimpangan dengan jalan setapak yang terlihat sedikit lebih sempit, Alvero menarik tangan Deanda dan mengajaknya berbelok ke arah kanan.


Kaki Deanda masih melangkah menyusuri jalan setapak ketika dilihatnya pemandangan di sekelilingnya semakin lama semakin indah. Jalan setapak yang sedang mereka lewati saat ini, di samping kanan dan kirinya terdapat kebun bunga. Aneka macam bunga dengan aneka warnanya membuat jalan setapak itu terlihat cerah dan indah. Selain itu bau harum dari bunga-bunga tersebut mengiringi perjalanan Alvero dan Deanda, seperti aroma terapi yang mampu menenangkan pikiran yang sedang kacau.


“Apa di sini memang sengaja ditanam bunga-bunga dengan berbagai jenis?” Alvero yang berjalan santai di samping Deanda langsung menganggukkan kepala.


“Kamu ingat saat mengikuti pelatihan merangkai bunga waktu itu? Sebagian besar dari bunga-bunga itu berasal dari tempat ini.”


“O ya?” Deanda langsung bergumam pelan sambil menikmati keindahan bunga-bunga itu.


“Masih ingat bunga yang kamu rangkai waktu itu? Baby breath berwarna pink? Di sebelah utara sana ada tanaman bunga itu? Kamu masih ingat arti dari bunga itu?” Mendengar pertanyaan Alvero, wajah Deanda kembali memerah.


Siapa yang bisa melupakan arti bunga baby breath yang sudah membuatnya menahan malu waktu itu karena digoda habis-habisan oleh Alvero karena tanpa sengaja memilih bunga itu saat berlatih seni merangkai bunga. Bunga yang memiliki arti kehadiran seorang bayi perempuan.


“Kamu masih menginginkan anak pertama kita seorang putri cantik?” Alvero berbisik pelan sambil melepaskan genggaman tangannya pada tangan Deanda, namun setelah itu lengan tangannya dengan cepat bergerak melingkar ke bahu Deanda, dan sengaja menarik tubuh Deanda agar mendekat ke arahnya, sehingga tubuh mereka selain saling berdampingan, juga saling menempel.

__ADS_1


“Aku tidak pernah mengatakan menginginkan anak perempuan sebagai anak pertamaku.” Deanda menjawab lirih pertanyaan Alvero karena tidak ingin suaminya menggodanya lagi.


“Oh ya? Berarti kita sepakat sweety. Anak pertama kita adalah seorang pangeran tampan. Kamu setuju dengan itu kan?” Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya bisa tersenyum dengan wajah malu-malu.


“Kita mana bisa menentukan jenis kelamin anak kita?” Mendengar gumaman pelan dari Deanda, Alvero langsung mendekatkan kepala Deanda dengan tangannya ke dadanya.


“Ada banyak cara, aku sudah mempelajarinya beberapa di internet. Mulai dari pola makan dan juga posisi saat kita bercin…”


“Ah, pemadangannya indah sekali…” Deanda langsung memutus perkataan Alvero sambil menjauhkan diri dari Alvero, dengan tangan menunjuk ke arah danau buatan yang sudah terlihat, membuat mau tidak mau Alvero tersenyum geli melihat bagaimana Deanda yang masih terlihat malu-malu dan selalu menghindari pembicaraan ke arah sesuatu yang intim antara suami istri.


“Benar-benar indah.” Deanda kembali menyatakan kekagumannya melihat danau buatan yang semakin dekat, dimana di tengahnya tampak terdapat sebuah bangunan yang walaupun terlihat tidak terlalu besar, tapi tampak artistik dengan dinding dan lantai terbuat dari kayu.


“Bolehkah kita ke sana?” Deanda bertanya kepada Alvero sambil menunjuk ke arah rumah kayu itu, yang langsung dijawab oleh sebuah anggukan kepala dan senyuman di wajah Alvero.


“Tentu saja, memang tujuanku mengajakmu bersantai di sana. Silahkan Permaisuri!” Alvero berkata sambil menggerakkan kepalanya ke arah rumah kayu tesebut dengan senyum menggoda.

__ADS_1


Dengan langkah-langkah lebar, Deanda berjalan di atas jembatan penghubung tepian danau ke rumah kayu tersebut, sedang Alvero berjalan di belakangnya dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana berkudanya, merasa cukup senang melihat Deanda sudah tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kejadian tadi masih mempengaruhinya.


“Begitu sampai di depan pintu rumah kayu itu, Deanda menghentikan langkahnya, dan untuk beberapa saat berdiri di sana sambil menunggu Alvero mendekat ke arahnya.


“Jadi, bukan cuma kamu yang bisa memamerkan rumah pohonmu sekarang.” Alvero berkata sambil membuka pintu rumah kayu itu.


“Ist… mana sebanding rumah pohonku dengan rumah kayu yang indah ini?” Deanda berkata sambil mengikuti langkah-langkah Alvero masuk ke dalam rumah kayu yang ternyata di dalamnya membuat Deanda memandang takjub. Karena tanpa disangkanya, bagian dalam dari rumah kayu itu begitu lengkap, ruang tamu, dapur, kamar, dengan perabotnya yang terlihat bersih dan terawat. Mulai dari sofa, lemari, kulkas, lampu-lampu, televisi, semuanya sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing, seperti sebuah rumah yang siap ditempati dengan semua keperluan yang dibutuhkan untuk orang tinggal di sana.


“Wah…. Benar-benar rumah yang bagus.” Deanda mengucapkan kata-katanya dengan matanya memandangi sekelilingnya dengan tatapan kagum sekaligus senang, membuat Alvero yang menyandarkan tubuhnya di pintu masuk rumah kayu itu hanya bisa tersenyum dengan mata hazelnya menikmati pemandangan sosok istri cantiknya yang sedang mengagumi rumah kayu miliknya yang biasa dia kunjungi bersama Enzo saat sedang ingin menyendiri.


Setelah puas mengamati sekeliling rumah kayu itu, Deanda berjalan mendekat ke arah salah satu jendela yang berada di belakang meja dapur. Dengan gerakan cepat Deanda mendorong jendela kayu yang begitu terbuka hembusan angin dari arah danau langsung menerpa tubuhnya, membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam menikmati kesegaran baru air sekaligus udara sejuk yang baru saja menyapanya.


Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Deanda, Alvero langsung berjalan menjauhi pintu setelah sebelumnya menutup rapat pintu itu. Dan dengan langkah bergegas, Alvero berjalan mendekat ke arah Deanda dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, membuat tubuh Deanda sedikit tersentak, namun sedetik kemudian tangan Deanda mengelus lembut lengan Alvero yang sedang memeluk tubuhnya, bahkan kembali menyandarkan tubuhnya ke dada Alvero sambil tetap menikmati terpaan angin sepoi-sepoi dari arah danau yang menerobos masuk lewat jendela yang dibuka lebar oleh Deanda tadi.


“Tempat ini indah sekali, aku suka tempat ini…” Deanda berkata lirih sambil kepalanya menoleh ke arah Alvero dengan sedikit mendongak, membuat Alvero langsung menundukkan kepalanya dan mengecup lembut kening Deanda.

__ADS_1


“Kalau kamu suka, kita bisa sering-sering kemari, tapi tidak saat musim dingin, karena pada musim dingin, di tempat ini akan sangat dingin. Dan karena lebih dari 80 persen bangunan terbuat dari kayu, tidak ada pemanas ruangan di tempat ini.” Alvero berkata lirih, dengan mata yang memandang lembut ke arah Deanda yang sedang tersenyum ke arahnya.


“Saat ini adalah saat yang paling tepat, di musim semi, udara yang masuk ke rumah kayu ini benar-benar terasa sejuk dan benar-benar terasa nyaman, seperti….” Alvero menghentikan bicaranya, sekilas ditahannya nafasnya, karena sejak mereka memasuki rumah pohon  dan melihat wajah cantik dan senyum senang di wajah Deanda, gairah dan hasrat Alvero sudah terpancing, membuat sesuatu yang ada di bawah sana memberontak dari balik celananya berkudanya, berharap bisa menikmati kembali sesuatu yang kemarin malam baru pertama kalinya dia rasakan dan ternyata sanggup membuatnya lupa diri dan menginginkannya lagi, dan lagi, dan lagi.


__ADS_2