
Dan sampai saat itu tiba, aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dan menjauh dariku lagi. Penyesalan terbesarku adalah menerima dan diam saja saat yang mulia Alvero menolak permintaanku tentang kamu. Seharusnya saat itu aku tetap bersikeras untuk meminta restunya, dan memberanikan diri untuk mempertanyakan kepada yang mulia Alvero alasan dibalik penolakannya atas permintaanku tentang kamu. Andai saja bisa, permintaanku yang masih tertunda itu adalah meminta Yang Mulia melepaskan ikatannya kepadamu dan berhenti memanfaatkanmu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi mengingat karaktermu, jika aku melakukan itu sekarang pasti itu justru akan membuatmu menolakku. Dengan senang hati aku akan membantu yang mulia memberantas semua musuhnya, membuatnya dalam posisi aman, agar perjanjian yang mulia Alvero denganmu segera berakhir. Dan aku bisa mengajukan permintaan kepada yang mulia Alvero untuk melepaskanmu, Deanda Federer.
Evan kembali berkata dalam hati sambil matanya menatap ke arah dimana sosok Deanda dan Alvero menghilang, sebelum pada akhirnya dia menoleh, untuk menjawab sapaan seseorang yang diucapkan untuknya barusan, mencoba mengalihkan pikirannya dari satu-satunya sosok wanita yang baru pertama kalinya mampu membuat hatinya bergetar dengan hebat karena pesonanya.
Hembusan angin langsung menyapa tubuh dan wajah Deanda dan Alvero begitu mereka menginjakkan kaki mereka di buritan kapal, membuat tubuh Deanda sedikit tersentak dan langsung menyipitkan matanya.
“Wah, ternyata seperti katamu tadi, di sini anginnya terasa segar sekali my Al.” Deanda berkata lirih sambil tersenyum memandang ke sekelilingnya, dan ternyata beberapa orang juga tampak berada di buritan kapal untuk menikmati udara segar.
Begitu mereka melihat kehadiran Alvero dan Deanda, mereka langsung menganggukkan kepala mereka dengan sikap hormat kepada Alvero dan Deanda.
Di salah satu sisi buritan, Deanda dan Alvero bisa melihat Dion yang sedang berbicara serius dengan Desya. Walaupun Desya sudah keluar dari istana, tapi statusnya sebagai putri Gracetian membuatnya masih mendapatkan undangan pesta ulang tahun Enzo yang memang sudah dikirimkan bahkan sebelum Desya diusir keluar dari istana. Dan Desya merasa tidak ada alasan baginya untuk tidak menghadiri pesta hari ini, untuk menunjukkan bahwa sampai detik ini dia masih seorang putri Gracetian, yang layak hadir di tempat ini.
Begitu melihat kehadiran sosok Deanda dan Alvero, Desya langsung memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan mata dari Deanda maupun Alvero, walaupun dalam hati, jika boleh jujur, Desya begitu ingin melihat ke arah Alvero, mengagumi sosok kakak tirinya yang dalam mimpipun Desya selalu berharap agar bisa memiliki laki-laki itu. Sedang Dion, langsung menarik nafas panjang, tanpa bisa menyembunyikan keinginannya untuk mendekat ke arah Deanda agar bisa menikmati kecantikan serta pesona wanita itu dari dekat, membuat beberapa kali kaki dan tangannya bergerak dengan gerakan yang terlihat canggung dan ragu-ragu.
__ADS_1
Kak Alvero, kenapa sejak dulu kakak tidak pernah menganggapku sebagai wanita yang rela melakukan apapun untukmu. Aku ingin agar aku bisa menunjukkan bagaimana aku benar-benar mencintaimu kak Alvero, jauh lebih mencintaimu dibandingkan dengan si Deanda yang dengan tidak tahu diri, sudah berani mengambil kak Alvero dariku. Bahkan sejak kita kecil, apa kakak tidak ingat, jika aku tahu kakak sedang mendapatkan pukulan dari mama, aku akan segera menyelinap dan mencari seribu satu alasan, berusaha menarik perhatian papa Vincent untuk menemui mama, sehingga mama tidak menyiksamu berlarut-larut. Semua itu aku lalukan karena aku begitu ingin melindungimu.
Desya berkata dalam hati sambil menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata karena merasa sedih sekaligus kecewa dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Baginya, diusir keluar dari istana tidak lebih baik dari hukuman pencabutan gelar putrinya. Karena begitu dia keluar dari istana, kesempatannya untuk bisa lebih sering melihat Alvero dan menyingkirkan Deanda akan semakin kecil.
Andai saja kak Alvero tidak selalu berada di sampingnya, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekat ke arahmu, walaupun hanya ingin sekedar berbincang denganmu, menikmati suara dan sosokmu yang begitu mempesona. Aku berharap suatu ketika akan ada kesempatan seperti itu datang padaku biarpun hanya sekejap saja. Jika saat itu tiba, aku akan menyatakan padamu tentang apa yang sudah aku rasakan selama ini… Bagaimana sejak mengenalmu kamu membuatku tidak bisa lagi tertarik kepada gadis manapun lagi. Mungkin orang menyebutku gila, tapi mata dan hatiku sudah tidak bisa lagi berpaling darimu.
Dion berkata dalam hati sambil tangannya menyentuh dadanya sekilas, berusaha menenangkan sesuatu yang bergemuruh di dalam sana karena melihat sosok cantik dan mempesona dari Deanda dengan balutan gaun berwarna putih tulang yang menunjukkan lekuk-lekuk tubuh indahnya, membuat wanita itu tampil begitu anggun sekaligus seksi.
Tahan dirimu dengan baik Dion. Sekarang belum waktunya untukmu mengambil kesempatan untuk mendekati Deanda. Jadilah lebih kuat agar dapat membuat mata Deanda beralih kepadamu. Deanda memerlukan seorang pria yang kuat untuk mendampingi sekaligus bisa menjadi pelindungnya.
Mengingat akan hal itu, Dion menarik nafas panjang sambil memaksakan dirinya untuk mengalihkan pandangan matanya dari Deanda, karena dilihatnya mata hazel Alvero sudah menatap tajam ke arahnya, seolah melalui pandangan matanya Alvero memberikan peringatan kepada Dion agar menghentikan tatapan kagumnya ke arah permaisuri tercintanya.
“Ayo kita ke sana!” Deanda yang tidak menyadari bahwa Alvero baru saja menyerang Dion dengan tatapan tajam dari matanya, mengarahkan telunjuk tangannya ke salah satu sudut buritan dimana tidak banyak orang terlihat di sana.
__ADS_1
Mendengar permintaan Deanda, Alvero langsung menangkap telunjuk Deanda yang sedang terarah ke tempat yang diinginkannya dan menggenggamnya dengan jari-jari tangannya. Kemudian Alvero melangkah ke arah itu sambil menarik ujung jari Deanda yang digenggamnya dengan erat, membuat senyum di bibir Deanda semakin melebar, merasa senang karena Alvero menuruti keinginannya.
“Eh, Ernest?” Deanda langsung mengeluarkan kata-kata dengan nada heran melihat sosok Ernest yang terlihat sedang berjongkok dengan tangannya berpegangan erat pada pagar pembatas buritan dan kepala menghadap ke arah lautan, di salah satu sudut buritan yang akan ditujunya bersama Alvero.
Ernest yang mendengar suara panggilan dari Deanda langsung menoleh dengan wajah pucatnya dan bibir bergetar, membuat Deanda langsung mendekat ke arahnya dengan wajah khawatir.
“Ada apa denganmu Ernest? Apa yang sudah terjadi padamu?” Deanda berkata dengan nada terdengar heran sekaligus panik, apalagi wajah Ernest yang saat ini benar-benar terlihat begitu pucat seperti tidak ada darah yang mengalir ke wajahnya.
Di sisi lain, Alvero hanya bisa menahan senyumnya melihat bagaimana hukuman yang sudah dia rencanakan untuk Ernest berjalan sesuai perkiraannya, walaupun setelah melihat kondisi Ernest, Alvero cukup merasa sedikit menyesal karena kasihan.
“Eh, Permaisuri… Yang Mulia…. Alvero… Maaf, saya tidak pernah tahan dengan lautan lepas…. Saya selalu mabuk laut… jika berlayar, bahkan hanya dengan membau air laut, langsung membuat saya mual dan…” Belum lagi Ernest menyelesaikan kata-katanya, dengan susah payah Ernest bangkit dari berjongkoknya dan memuntahkan kembali isi perutnya ke lautan yang ada di bawahnya.
Melihat itu dengan cepat Deanda merogoh saku jas Alvero, dimana biasanya Alvero menyimpan sapu tangannya di sana.
__ADS_1
“Eh sweety….”
“Aku pinjam ya, kasihan Ernest….” Deanda langsung memotong perkataan Alvero sebelum Alvero menyatakan protesnya dan dengan cepat Deanda mengulurkan sapu tangan milik Alvero kepada Ernest, yang membuat Alvero hanya bisa menahan nafasnya melihat bagaimana sikap Deanda yang selalu begitu perduli pada orang lain, siapapun dan apapun posisi orang itu.