
Harus diakui oleh Vincent, kehadiran Alvero pagi ini yang tiba-tiba muncul di hadapannya sungguh membuatnya terharu sekaligus bahagia. Selama bertahun-tahun Vincent, sengaja menjaga jarak dengan Alvero, berharap dengan begitu bisa menjauhkan Alvero dari kecemburuan Eliana dan Dion, terhadap sosok Alvero. Sehingga, Vincent berharap Eliana tidak akan menyakiti Alvero karena menganggap Alvero sebagai saingan dari Dion.
Pada akhirnya, Vincent tahu, apa yang sudah dilakukannya selama ini membawa dampak yang menyakitkan bagi Alvero, membuat hubungannya dengan Alvero renggang, tidak seperi hubungan seorang ayah dan anak pada umumnya. Sedangkan usahanya untuk membuat Eliana tidak mengusik Alvero tetap saja tidak berhasil. Dan hal itu baru diketahui oleh Vincent di saat-saat terakhir sebelum Alvero membawa Deanda ke istana dan memperkenalkan wanita cantik itu sebagai calon tunangannya.
Melihat Alvero sudah menemukan seorang wanita kuat sekaligus baik hati sebagai pelabuhan hatinya, membuat hati Vincent mantap untuk menyerahkan tahtanya kepada Alvero di hari pernikahan mereka. Vincent mempersiapkan itu semua dengan diam-diam, sehingga peristiwa hari itu juga membuat semua orang terkejut, termasuk Alvero sendiri, yang tidak menyangka akan mendapatkan tahta secepat itu.
Dan itu juga didapatkannya, di saat ayahnya masih hidup. Jika saja saat itu Alvero tidak berpikir untuk dapat melindungi Deanda, Vincent dan orang-orang di sekitarnya, dia ingin menolak saat harus naik tahta secepat itu.
Tapi keinginan Alvero untuk dapat menjaga dan melindungi orang-orang yang disayanginya akan bisa lebih mudah dilakukannya saat dia menjadi raja Gracetian. Tanpa ragu, saat itu juga Alvero langsung menerima penyerahan tahta tersebut.
Dengan apa yang dilakukannya itu, Vincent sungguh berharap Eliana mulai menghentikan tindakan gilanya untuk melawan Alvero. Namun, melihat bagaimana perbuatan Eliana yang dicurigai Vincent sudah meletakkan sesuatu untuk membuatnya sengaja tetap berada di kursi roda, bagi Vincent, tidak adalagi yang harus dia pertahankan dari Eliana. Hanya saja Vincent sedang menunggu waktu yang paling tepat sampai semuanya bisa terbongkar.
Andai saja waktu bisa diulang. Aku tidak akan pernah membiarkan Eliana merebut posisi Larena. Dengan alasan apapun, seharusnya aku mempertahankan Larena agar tetap berada di sisiku. Dan seharusnya, Alvero bisa mendapatkan kasih sayang sempurna dariku dan Larena. Alveroku yang malang, bukan hanya kehilangan sosok seorang ibu. Namun, tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang ayahpun tidak bisa aku lakukan dengan baik kepadamu.
__ADS_1
Vincent berkata dalam hati sambil memejamkan matanya sebentar sambil menikmati pelukan dari Alvero.
Hah! Andai waktu bisa diulang! Harusnya aku tidak bertemu dengan Eliana dalam hidupku! Semua terjadi karena kebodohanku di masa lalu! Kebodohan yang sungguh memalukan dan menjijikkan!
Vincent kembali berkata dalam hati, kali ini penuh dengan emosi terhadap dirinya sendiri, yang saat itu bisa terlibat hubungan satu malam dengan Eliana karena tidak bisa mengendalikan dirinya, saat mabuk di pesta yang dilakukan di kediaman saudara Eliana yang merupakan seorang Earl yang baru mengakhiri masa tugasnya, dan digantikan oleh anak laki-lakinya.
Setelah puas memeluk Alvero, dengan enggan Vincent melepaskan tubuh Alvero. Begitu Vincent melepaskan pelukannya, Alvero langsung menyentuh pinggang Deanda dengan telapak tangan kanannya, menepuknya dengan lembut, memberikan tanda agar Deanda memberikan salam kepada Vincent.
"Selamat pagi papa, semoga sehat-sehat selalu." Deanda berkata lembut sambil memeluk tubuh Vincent yang langsung tersenyum dan mengelus rambut Deanda, seolah sedang mengelus rambut putri kandungnya yang sudah sekian lama tidak bertemu.
Walaupun dalam diam, setelah Alvero mengumumkan hubungan mereka berdua, Vincent selalu meminta seseorang untuk mengamati apa yang terjadi antara Alvero dan Deanda. Semua hal yang terjadi diantara mereka, dan bagaimana hubungan mereka, membuat Vincent merasa lega, karena Alvero sudah menemukan seorang wanita hebat, yang bisa mendukungnya dengan sepenuh hati sebagai raja Gracetian.
Bahkan beberapa keputusan Alvero yang dipengaruhi oleh pendapat Deanda, membuat Vincent merasa lebih tenang. Karena pada akhirnya Deanda bia membawa dampak baik bagi Alvero, dan membuatnya lebih bijaksana dan hatinya jauh lebih hangat, tidak seperti dulu lagi.
__ADS_1
Erich yang berdiri di samping kursi roda Vincent segera berjalan ke sisi lain ruangan itu, dimana terdapat kursi yang berjajar rapi di sana. Dengan cekatan Erich mengambil kedua kursi itu, mengangkatnya, dan meletakkannya di hadapan kursi roda Vincent, agar bisa digunakan untuk duduk oleh Alvero dan Deanda.
"Yang Mulia Alvero dan Yang Mulia Vincent, silahkan berbincang dengan nyaman. Saya akan keluar." Erich berkata sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, sebelum akhirnya Erich berjalan keluar meninggalkan ketiga orang itu untuk mengobrol dengan tenang.
"Bagaimana kondisi papa sekarang?" Alvero bertanya sambil mengambil posisi duduk tepat di depan Vincent.
Setelah itu, dengan lembut Alvero menarik pergelangan tangan Deanda, agar ikut duduk di sebelahnya, untuk bisa mulai mengobrol dengan Vincent.
"Seperti yang kamu lihat, kondisi papa jauh lebih baik sekarang. Bahkan merasa jauh lebih sehat dibandingkan saat dulu papa masih di istana, sebelum pingsan. Mungkin karena sekarang sudah ada kamu yang menggantikan semua tanggung jawab dan beban papa sebagai raja Gracetian. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa hidup dengan santai." Vincent berkata sambil tertawa kecil ke arah Alvero dan Deanda yang sudah di duduk di hadapannya.
"Akhhh... tentu saja semua itu tidak benar. Kamu tahu bahkan jauh sebelum kamu menjadi raja, bahkan semua tugas dan tanggung jawabku sudah hampir semuanya kamu kerjakan dengan baik. Sepertinya karena ketidakmampuanku, dalam sejarah Gracetian, kamu akan menjadi satu-satunya putra mahkota yang melakukan semua kewajiban dan pekerjaan seorang raja." Lagi-lagi Vincent mengucapkan kata-katanya dengan tawa kecilnya, dengan tatapan mata bangga ke arah Alvero yang membalasnya dengan sebuah senyuman juga.
"Jangan berkata seperti itu. Papa adalah raja yang hebat. Hanya saja, kondisi kesehatan Papa yang tidak memungkinkan, untuk Papa melakukan pekerjaan Papa dengan baik. Aku hanya membantu, tanpa pengarahan dan didikan dari Papa. Aku juga tidak akan pernah sampai di titik ini." Alvero berkata dengan nada merendah, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan, menunjukkan bahwa Alvero sungguh menghormati Vincent.
__ADS_1
Melihat bagaimana suaminya yang selama ini dikenal sebagai laki-laki yang dingin, arogan dan tidak perduli dengan orang lain, saat ini terlihat begitu menghargai dan menghormati Vincent, terlepas dari kesalahan besar dan fatal yang pernah diperbuat oleh Vincent, membuat Deanda tersenyun dengan mata ambernya menatap dengan bangga sekaligus kagum ke arah Alvero. Membuat rasa cintanya kepada laki-laki itu semakin bertambah besar.