
"Makan malam hari ini akan segera aku akhiri, karena aku sedang merasa kurang enak badan hari ini. Aku akan pergi lebih dahulu, untuk beristirahat. Hari ini aku tidak bisa menemani kalian semua untuk mengobrol. Selamat malam." Alvero mengucapkan kata-katanya sambil bangkit dari duduknya.
Alvero sengaja berpamitan lebih awal karena baginya, pertanyaan salah satu pamannya, pandangan mata Dion kepada Deanda, juga wajah Eliana yang terlihat tenang tapi menyimpan begitu banyak rencana jahat, cukup membuat Alvero kehilangan nafsu makannya. Selain itu juga membuatnya begitu malas menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama dengan ketiga orang itu di meja makan.
Walaupun sejak mengenal Deanda, sebenarnya Alvero mulai belajar bahwa dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, dia tidak boleh semena-mena dan dengan mudah membuang makanan, sedangkan diluar sana mungkin ada orang yang sulit untuk mendapatkan makanannya.
Keberadaan Deanda di sisi Alvero mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menghargai dan memperhatikan orang lain, juga menghargai hal sekecil apapun yang dia miliki. Termasuk dalam menghargai makanan dan orang-orang yang sudah bekerja untuknya.
Namun malam ini, Alvero benar-benar tidak ingin lebih lama lagi berada di meja makan dengan situasi hatinya yang sudah cukup berantakan setelah mengunjungi museum istana, dan sikap dari tiga orang yang menambah kegalauan hatinya.
Kalau Alvero tetap bertahan di meja makan malam ini, yang ada justru dia akan semakin sulit untuk menahan emosinya. Belum lagi rencananya untuk melakukan panggilan telepon dengan Vincent karena rasa penasaran yang begitu besar tentang liontin dan siapa Alaya sebenarnya, membuat Alvero ingin segera kembali ke kamarnya.
Deanda yang melihat suaminya bangkit dari duduknya, dengan gerakan cepat ikut bangkit berdiri dan juga berpamitan dengan yang lain.
Alvero yang sudah membalikkan tubuhnya membelakangi meja makan, bersiap melangkah meninggalkan ruang makan istana, begitu melihat Deanda bangkit dari duduknya dan berpamitan, sengaja menghentikan langkahnya dan menunggu Deanda untuk mendekat ke arahnya.
Begitu berada di dekat Alvero, lengan Deanda langsung melingkar ke lengan Alvero yang langsung tersenyum dan menepuk-nepuk lembut lengan Deanda yang sedang memeluk lengannya. Dengan cepat mereka langsung berjalan meninggalkan ruang makan istana.
Tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk Eliana, Dion langsung menarik nafas panjang melihat pemandangan mesra antara Alvero dan Deanda yang baru saja terlintas dengan begitu jelas di depan matanya.
__ADS_1
Aku tahu aku benar-benar sudah menjadi gila karena begitu menginginkan wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku seorang pangeran Adalvino bisa begitu tergila-gila padamu. Bahkan sebelum bertemu denganmu, bagiku wanita hanyalah sebuah pakaian yang kapanpun dan dimanapun bisa aku ambil ataupun aku buang. Dan di Gracetian ini, tidak ada wanita yang akan pernah bisa menolakku saat aku memintanya untuk tidur denganku. Sedangkan kamu… Kehadiranmu sudah membuat otakku tidak bisa berpikir dengan normal lagi. Bukan hanya sekedar menjadikanmu sebagai wanita penghangat ranjangku seperti yang sudah aku lakukan kepada wanita lain. Aku begitu menginginkanmu sebagai istri dan ibu dari anak-anakku kelak.
Dion berkata dalam hati sambil matanya menatap ke arah Deanda yang sedang memeluk lengan Alvero dan memandangi wajah suaminya dengan senyumnya yang manis. Dan pemandangan itu membuat hati Dion terasa sesak sekaligus panas.
Deanda Federer... bahkan sampai detik ini, rasa kagum dan terpesonaku, rasa yang begitu besar ingin memilikimu tetap saja tidak berkurang sedikitpun. Bahkan rasanya, semakin hari kamu terlihat semakin cantik dan menarik. Selalu membuatku hampir saja kehilangan kendali untuk tidak mendekat ke arahmu dan menatapmu tanpa bosan-bosannya. Setiap detik dimana aku bisa melihat sosokmu, benar-benar merupakan sesuatu yang begitu berharga bagiku. Aku pastikan, aku akan menjadi raja Gracetian berikutnya dan menarikmu untuk berada di sisiku sebagai permaisuriku.
Dion kembali berkata dalam hati sambil meneguk minuman dingin yang tersaji di depannya, untuk menenangkan hatinya yang merasa panas melihat bagaimana Alvero yang baginya seringkali sengaja memamerkan kemesraannya dengan Deanda saat berada di dekatnya.
Alvero sendiri, memang dengan sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Deanda di depan Dion dan Eliana, agar Dion tahu, bahwa Deanda adalah miliknya. Untuk Eliana, agar wanita itu tahu bahwa dia tidak akan bisa dengan mudah memisahkan Deanda darinya, seperti saat dia memisahkan Vincent dan Larena.
Alvero ingin agar Eliana tahu bahwa pengalaman buruk di masa lalu sudah membuat Alvero belajar banyak hal, dan juga sudah menjadikan Alvero sebagai sosok yang kuat.
Rasanya ingin sekali aku menonjok kedua mata Dion yang kurang ajar itu! Bisa-bisanya dia memandang permaisuriku dengan tatapan menjijikkan seperti itu!
Alvero mengomel dalam hati dengan bibirnya mengerucut, membuat Deanda yang baru saja melirik ke arahnya tersenyum geli melihat bagaimana wajah Alvero yang terlihat begitu kesal.
"Kenapa denganmu? Apa yang sudah membuatmu kesal di meja makan tadi? Apa karena ada yang mempertanyakan tentang pangeran Enzo tadi?" Deanda berkata sambil mengambil posisi duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Hah!" Alvero melenguh pendek dengan suara sedikit keras, sambil menghempaskan tubuhnya di samping Deanda.
__ADS_1
"Sepertinya Dion belum menghentikan keinginan gilanya untuk mendapatkanmu." Alvero berkata sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.
"Kamu ini ada-ada saja my Al. Kenapa denganmu? Takut aku berpaling dan melirik Dion? Jangan menganggap dirimu sendiri terlalu rendah my Al. Hanya wanita bodoh yang berani melepaskan suami yang begitu mencintainya seperti kamu." Deanda berkata sambil mengelus paha Alvero dengan lembut, membuat Alvero langsung menoleh ke arah Deanda sambil tersenyum.
Kata-kata maupun sikap dan perbuatan Deanda, selalu saja berhasil menenangkan dan mengusir kegalauan hati Alvero.
"Hentikan sweety.... jangan membuatku terpancing. Masih ada yang harus kita lakukan malam ini sebelum yang satu itu." Deanda langsung meringis mendengar perkataan Alvero yang diucapkannya dengan nada terdengar memohon.
"Kamu ini... sebegitu mudahnya membuatmu terpancing. Lagipula, kenapa kamu yakin sekali kalau malam ini aku bersedia melakukan itu bersamamu?" Deanda berkata sambil menjauhkan tangannya dari paha Alvero, namun meninggalkan sebuah kecupan mesra di pipi suaminya yang tanpa sadar membuat Alvero langsung menelan ludahnya.
"Haist, sebaiknya kita segera menghubungi papa Vincent sebelum kamu semakin nakal." Alvero berkata sambil membuka layar handphonenya, membiarkan Deanda yang sedang terkikik geli dengan wajah puas karena sudah berhasil menggoda suaminya.
"Hallo." Sebuah suara yang terdengar ramah, dengan wajah tersenyum Vincent langsung terlihat dari layar handphone Alvero.
Menunjukkan bahwa Vincent merasa senang mendapatkan panggilan telepon dari Alvero dan Deanda.
"Hallo pa. Bagaimana kabarmu? Beberapa lama ini kami belum bisa mengunjungi Papa." Alvero langsung menyapa Vincent dengan hangat.
__ADS_1