BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
HAMPIR SAJA TERBUKA


__ADS_3

"Kamu tahu, selain lukisan milik countess Melva, semua pembuat barang-barang itu sudah meninggal. Dan kepemilikan serta keaslian dari benda-benda yang kamu sebutkan tadi begitu sulit untuk diselidiki dan dibuktikan." Erich langsung tertawa nyaring mendengar perkataan Emilio yang terdengar pesimis.


"Justru karena itu, aku sengaja menemuimu Tuan Emilio." Erich berkata sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Emilio.


"Aku tahu kamu mampu menemukan yang sulit untuk ditemukan, membuat sesuatu yang hilang untuk dapat muncul kembali. Terutama benda-benda mahal seperti yang aku sebutkan barusan. Dengan tingkat kemiripan lebih dari 90%." Mendengar bisikan pelan dari Erich, Emilio segera menjauhkan kepalanya dari kepala Erich dan menatap Erich dengan tatapan mata tajam.


"Apa maksud perkataanmu Tuan Ronald?" Dengan wajah pura-pura tidak mengerti, Emilio berbisik pelan ke arah Erich yang langsung tersenyum lebar.


"Aku tidak akan menjelaskannya secara detail kepadamu Tuan Emilio. Bagi kita yang hidup di jaman semodern ini dengan segala keindahan dan kemewahan yang ditawarkan. Bukankah asal ada uang, koneksi dan kekuasaan semua beres? Aku sengaja mencarimu karena aku dengar kamu yang terbaik di bidang ini." Erich kembali berkata dengan nada santai, bahkan kali ini dengan sengaja tangannya terulur ke depan, mempersilahkan Emilio untuk kembali menikmati wiski mahal pemberiannya, padahal Erich melihat bahwa Emilio sudah menunjukkan tanda-tanda mabuk karena sebelum meminum wiski dari Erich


Karena sejak sebelumnya, Erich yang sedang menunggu bartender melayaninya tadi sudah mengamati Emilio dari jauh. Dan Erich tahu, sebenarnya Emilio sudah menghabiskan banyak bir bersama teman-temannya sebelum dia datang dengan membawa sebotol wiski.


"Ah, ternyata Anda tahu betul tentang bakat dan keahlianku. Aku punya beberapa pelanggan yang cukup puas dengan kinerjaku. Mereka semua adalah orang-orang kaya bodoh yang tidak bisa membedakan mana barang asli dan tiruan. Berapa keuntungan yang aku Tuan Ronald tawarkan jika bisnis kita berjalan lancar?" Emilio berkata sambil kembali meneguk wiskinya, membuat dalam hati Erich tersenyum puas melihat misinya untuk membuat mabuk Emilio berhasil.

__ADS_1


Bahkan Erich merasa heran dengan apa yang sudah dilakukannya selama beberapa menit ini. Sepertinya, tanpa disadarinya, dia menjadi begitu lancar berbicara dan begitu pandai menggombal. Padahal jika dia ingat, bahkan tadi siang dia hampir membuat Alvero hampir putus asa dan emosi karena begitu susahnya dia mengikuti petunjuk dari Alvero dan Deanda untuk dapat bersikap natural sebagai seorang makelar profesional.


"Well, 60 untuk Tuan Emilio, dan 40 untukku. Kali ini aku akan mengalah dan memberikan diskon lebih, agar Tuan Emilio bisa melanjutkan kerjasama kita, jika Tuan puas dengan harga kesepakatan kita dengan bos yang aku layani kali ini." Erich berkata sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Emilio.


Jika saja bukan karena perintah dari Alvero, rasanya Erich sudah tidak tahan menghadapi orang-orang dengan mulut berbau alkohol dan wajah-wajah mabuk mereka. Belum lagi dia yang tidak terbiasa tersenyum dan bersikap ramah harus tampil seperti itu di hadapan para pria yang baginya adalah para pria sampah yang harusnya segera disingkirkan dari Gracetian.


Dan yang paling menyiksa Erich adalah wanita yang duduk tak jauh darinya, yang tanpa sepengetahuan pria yang duduk di sampingnya, beberapa kali dengan sengaja, jari-jari kakinya diam-diam bergerak ke arah betis maupun tulang kering Erich dan mengelus-elus bagian tubuh Erich tersebut. Membuat Erich sebenarnya ingin segera berlari menjauhi tempat, yang bagi Erich seperti tempat terkutuk baginya.


"Penawaran yang menggiurkan." Emilio berkata sambil mencebikkan bibirnya, setelah itu menuliskan nomer handphone di layar hanpdhonenya dan menunjukkannya kepada Erich yang langsung berpura-pura menyimpan nomer itu di handphonenya.


"Ok, aku akan segera pikirkan penawaran Anda Tuan Ronald, dan untuk merayakan pertemuan kita hari ini. Bagaimana kalau aku memperkenalkan Tuan dengan wanita tercantik dan terseksi yang paling dikenal di bar ini? Dan yang pasti terpanas dan paling memuaskan dalam pelayanannya. Anda tidak akan menyesal membayar mahal." Penawaran dari Emilio hampir saja membuat Erich langsung menggelengkan kepapanya kuat-kuat dan beranjak pergi dengan cepat dari sana.


Namun yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah diam terpaku pada tempatnya. Otot-otot di leher Erich mulai menegang melihat Emilio melambaikan tangannya kepada salah seorang pelayan untuk mendekat. Setelah itu Emilio berbisik pelan ke arah pelayan itu yang langsung tersenyum dengan sebuah senyum yang bagi Erich seperti sebuah senyuman menyeringai yang sama sekali tidak enak dipandang oleh matanya.

__ADS_1


"Ok Tuan, aku juga akan menghabiskan malam panjang dan panas dengan yang lain. Kali ini aku membiarkanmu mendapatkan wanita terbaik dari bar ini. Selamat bersenang-senang malam ini Tuan Ronald." Bersamaan dengan Emilio mengkahiri perkataannya, tampak seorang wanita dengan pakaian seksi berwarna merah terang berjalan mendekat dengan cara berjalan yang melenggak-lenggok, yang bagi Erich justru terlihat seperti gerakan seekor ular yang mengerikan sedang berjalan ke arahnya.


"Ah, kamu sudah datang. Temani dan layani dengan baik tuan Ronald. Kalau sampai dia merasa tidak puas, lain kali aku tidak akan mempromosikanmu kepada para customer spesialku." Emilio berkata smbil tangannya meremas pan..tat wanita cantik itu yang dengan sengaja langsung mendesah pelan sambil tersenyum ke arah Erich yang merasakan keringat dingin mulai keluar karena perasaan tidak nyaman yang sudah menyerangnya, salah satu tangannya sedikit terkepal karena rasa gugup yang mulai mengambil alih pikiran normalnya.


Maaf yang mulia Alvero, aku sudah tidak tahan lagi dengan kondisi ini. Sepertinya aku tidak bisa meneruskan sandiwara ini.


Erich berkta dalam hati sambil menahan nafasnya kuat-kuat, membuat wajahnya terlihat menegang dengan rahang yang mengeras. Kali ini tekadnya sudah bulat untuk menolak dengan terang-terangan tawaran dari Emilio, apapun yang terjadi.


"Tuan Emilio, aku tidak..." Tanpa perduli lagi dengan misi yang sedang dijalankannya, Erich berencana menolak dengan tegas keberadaan wanita penghibur itu, sekaligus bergegas pergi dari tempat itu secepat yang dia bisa.


"Selamat malam tuan-tuan." Belum lagi Erich menyelesaikan ucapannya, tampak sosok seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik dengan pakaian terlihat bermerk dan perhiasan mewah memenuhi tubuhnya, berjalan ke arah Emilio yang sedang berkumpul dengan teman-temannya dan Erich.


Alvero dan Deanda yang sedari tadi mengamati apa yang terjadi antara Erich dan Emilo secara diam-diam. Dengan cepat berusaha membantu Erich agar tidak melakukan tindakan yang dapat membuat kedoknya terbuka, jika dengan terus terang dia menolak penawaran Emilio tanpa alasan yang jelas dan tidak membuat Emilio curiga.

__ADS_1


Suara sapaan dari laki-laki langsung membuat Emilio dan Erich menoleh ke arah sumber suara. Dan Erich kesempatan itu langsung digunakan Erich untuk bangun dari duduknya, bergegas berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Melihat itu, Emilio langsung memberi tanda kepada wanita yang baru dipanggilnya itu dengan tangannya agar untuk sementara tetap diam di tempatnya terlebih dahulu.


"Selamat malam Tuan Alvi, selamat datang." Erich langsung menyambut kedatangan Alvero dan Deanda dengan senyum ramah, sekaligus lega dia bisa mendapatkan alasan untuk menghindari dari menghabiskan malam panas dengan wanita yang terlihat mengerikan bagi Erich itu.


__ADS_2