
Semoga yang mulia Alvero melakukannya dengan hati-hati atau aku akan berakhir di rumah sakit gara-gara jari-jariku yang patah, atau bahkan pergelangan tanganku yang terkilir atau mengalami retak tulang.
Melihat Alvero yang bersikeras dengan wajah serius, membuat Ernest berkata dalam hati sambil meringis dengan perasaan khawatir kalau-kalau Alvero sengaja melakukan kesalahan pada tangannya akibat rasa cemburunya.
“Sweety, biar aku yang melakukannya untuk Ernest. Kamu hanya perlu memberikan petunjuk padaku.” Alvero berkata sambil tangannya yang lain menarik kursi lain dan meletakkannya di hadapan Ernest, agar dia bisa duduk berhadap-hadapan dengan Ernest.
Pada akhirnya Deanda membiarkan Alvero membantunya untuk melakukan teknik acupressure kepada Ernest, Sesuai petunjuk darinya, di bawah perintah dan aba-abanya. Selama proses berlangsung, Ernest hanya bisa berdoa dalam hati, berharap Alero benar-benar bisa melakukannya dengan baik, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, apalagi sebuah kesalahan fatal yang akan membawanya berakhir di rumah sakit.
Setelah beberapa lama, Ernest menarik nafas lega, bukan hanya karena mabuknya sedikit demi sedikit sudah menghilang, namun karena Alvero yang sudah membantunya atas poetunjuk Deanda berhasil dengan baik tanpa melukainya. Sesuatu yang cukup membuat Ernest takjub melihat bagaimana tadi aura cemburu dari Alvero seperti pedang yang siap menusuk dan melukainya. Begitu Ernest melihat sosok Deanda, dimana saat ini terlihat Alvero sedang memandangi wanita itu dengan tatapan mata yang lembut, membuat Ernest hanya bisa tersenyum dalam hati, tahu bahwa hanya Deandalah sosok yang bisa mengendalikan emosi Alvero.
“Ernest, ada baiknya jika kamu sudah merasa lebih baik, kamu meminum sedikit soda untuk mencegah agar mabukmu tidak datang menyerangmu lagi.” Deanda berkata sambil menarik nafas lega.
“Baik Permaisuri, saya akan ingat dengan baik saran Permaisuri barusan.” Ernest langsung menjawab perkataan Deanda.
“Kalau begitu Ernest, mulai sekarang aku tidak akan ragu-ragu lagi mengajakmu berlayar lagi setelah acara ini selesai. Karena sepertinya setelah ini kamu sudah mengetahui cara untuk mengatasi mabukmu.” Dengan nada santai Alvero berkata sambil menepuk paha Ernest yang masih duduk tepat di hadapannya, tanpa perduli dengan kedua mata Ernest yang membulat sempurna karena kaget.
Apa yang mulia Alvero sedang mengancamku sekarang?
__ADS_1
Ernest berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alvero yang langsung membalas tatapan Ernest.
“Masuklah ke dalam, dan isi perutmu dengan sesuatu. Aku tidak ingin kamu merepotkan permaisuri lagi karena lambungmu bermasalah setelah mabuk lautmu berlalu.” Mendengar perkataan Alvero, baik Deanda maupun Ernest langsung tersenyum.
Walaupun kata-kata Alvero diucapkan dengan nada sedikit pedas dan terkesan tidak perduli, justru dari perintah itu Ernest dan Deanda tahu bahwa Alvero cukup mengkhawatirkan kondisi Kesehatan Ernest.
“Baik Yang Mulia, saya akan masuk sebentar untuk mengambil makanan. Terimakasih untuk bantuan Yang Mulia Alvero dan permaisuri Deanda barusan.” Ernest berkata sambil bangkit dari duduknya, sedikit menganggukkan kepalanya ke arah Deanda dan Alvero sebagai tanda hormat sekaligus ucapan terimakasih, setelah itu berjalan ke arah ruangan dimana pesta ulang tahun Enzo masih berlangsung.
"Yang Mulia, Permaisuri, saya juga harus kembali ke dalam ruangan pesta bersama teman-teman yang lain. Masih banyak yang harus kami kerjakan." Abella berkata dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan Alvero dan Deanda.
"Ah, akhirnya bisa tenang kembali." Setelah Abella dan Ernest pergi, Alvero berkata sambil meraih kembali pergelangan tangan Deanda, mengajaknya ke salah satu sisi pagar pembatas buritan, mengajaknya berdiri di sana untuk menikmati pemandangan laut lepas.
"Sweety... bagaimana kamu mengetahui banyak hal tentang hal-hal seperti itu tadi?" Alvero bertanya sambil mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Deanda yang berdiri di pagar pembatas buritan dengan kedua tangan memegang bagian paling atas pagar pembatas sambil menarik nafasnya dalam-dalam, menikmati bau air laut di sekitarnya.
Melihat bagaimana terpaan angin sore semakin keras dan membuat tanpa sadar Deanda melipat salah satu tangannya ke perutnya, Alvero langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya ke punggung Deanda yang sedikit terbuka karena model gaun yang dikenakannya membuat salah satu lengannya tidak tertutup kain. Apa yang dilakukan oleh Alvero, membuat Deanda menggerakkan tangannya, bermaksud melepaskan jas Alvero dari tubuhnya, namun dengan cepat Alvero menahan gerakan tangan Deanda.
"Biarkan saja, kemeja lengan panjangku sudah cukup membuatku tidak kedinginan dibandingkan dengan gaunmu." Alvero berkata sambil menepuk-nepuk kedua bahu Deanda yang akhirnya diam dan tidak lagi berusaha melepaskan jas Alvero dari tubuhnya.
__ADS_1
"Sweety... kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Alvero kembali berkata sambil matanya menatap ke arah rombongan burung yang tiba-tiba saja datang dari arah utara, beterbangan secara berkelompok di langit.
"Maksudmu? Cara mengatasi mabuk tadi? Papa, Uncle Marcello, terutama Red yang sering mengajarkan hal-hal seperti itu. Di Goldie Tavisha, kadang beberapa orang yang terluka atau sakit tidak mau berobat ke rumah sakit. Karena itu kami yang ada di sana harus banyak belajar tentang cara pengobatan tradisional dengan bahan yang mudah didapat dan peralatan seadanya." Deanda berkata sambil menoleh ke arah Alvero dengan senyuman manis di wajahnya.
Melihat bagaimana cantiknya sosok istrinya yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya, Alvero menarik nafas panjang dan mengulurkan tangannya ke arah pinggang ramping Deanda yang tertutup oleh jasnya, menariknya dan memeluknya dari arah samping dengan erat.
"Yang Mulia.... banyak orang di sini." Deanda berbisik lirih melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Alvero kepadanya.
"Istt... memang kenapa? Apa mereka belum tahu kalau kamu adalah istriku yang sah? Permaisuri Gracetian? Kenapa aku harus meminta ijin dan mempertimbangkan pemikiran mereka yang lain saat aku ingin memeluk istriku sendiri? Toh bukan wanita lain yang sedang aku peluk sekarang?" Mendengar celoteh panjang dari Alvero yang menunjukkan bahwa laki-laki penguasa tertinggi Gracetian itu tidak mau disalahkan apalagi ditolak keinginannya, Deanda hanya bisa terdiam dengan sikap tubuh yang terlihat kaku, merasa tidak nyaman Alvero menunjukkan kemesraannya di depan orang lain karena Deanda belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Jangankan mendapatkan perlakuan mesra dari seorang laki-laki di depan umum, bahkan sampai usianya yang ke 23 Deanda belum pernah bergandengan tangan dengan laki-laki manapun kecuali Alvero. Dan Deanda sungguh berharap bahwa laki-laki yang bisa sedemikian dekat dengannya hanyalah Alvero, laki-laki pertama dan terakhir untuknya.
Aku belum pernah bersentuhan dengan laki-laki sedemikian dekat kecuali dengan yang mulia Alvero. Dan hanya pernah sekali aku menggandeng tangan seorang anak laki-laki ketika aku masih kecil untuk menyelamatkannya dari para penjahat. Kadang sentuhan tangan yang mulia mengingatkanku pada sosok anak laki-laki itu. Ah, tapi saat ini aku tidak ingat lagi siapa anak laki-laki itu. Wajahnya yang kotor karena lumpur saat itu, apalagi setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, membuatku tidak bisa lagi mengingat seperti apa wajah anak laki-laki itu. Semoga setelah hari itu, dia memiliki kehidupan yang lebih baik dan tidak lagi bertemu dengan para penjahat seperti hari itu. Aku berharap dia sudah tumbuh menjadi laki-laki kuat yang bisa melindungi dirinya sendiri.
Deanda berkata dalam hati sambil matanya menatap ke arah langit yang sudah terlihat teduh karena hari sudah sore, mencoba mengalihkan pikirannya dari sedikit ingatan tentang kejadian di masa lalu.
"Hari sudah semakin sore. Sebentar lagi kita bisa menikmati sunset dari tempat ini. Kesempatan yang jarang untuk bisa kita nikmati karena kesibukan kita." Alvero berbisik lirih ke arah telinga Deanda yang karena begitu asyik dengan lamunannya tentang masa lalunya membuatnya tidak sadar bahwa tubuh Alvero sudah bergerak ke belakang tubuh Deanda, dan memeluk tubuh Deanda dari arah belakang dengan mesra.
__ADS_1