
"Tentu saja saya tidak berani berpikir seperti itu ibu suri. Tolong dimengerti bahwa saya hanya menjalankan perintah dari yang mulia Alvero. Bahwa sebelum kondisi permaisuri Deanda membaik, yang mulia tidak ingin ada yang mengunjunginya dan mengganggu istrirahat permaisuri." Sekali lagi Ernest mencoba untuk tetap berkelit.
"Bukankah setiap pagi, siang dan sore tanpa seijin yang mulia Alvero kamu tetap masuk ke dalam kamar yang mulia? Belum lagi nyonya Rose dan pelayan juga diperbolehkan masuk dengan alasan membersihkan kamar dan membantu permaisuri membersihkan diri? Padahal pagi ini aku hanya menyapa yang mulia Alvero. Apa menurutmu setelah yang mulia Vincent tidak lagi menjadi raja, posisiku berada jauh di bawah kalian?" Eliana kembali mengucapkan kata-kata tajamnya.
"Dan lagi sepertinya kamu melupakan satu hal penting Tuan Ernest. Bagaimanapun hubungan kami, saat ini status yang mulia Alvero adalah anakku. Bagaimana kamu bisa menghalangi seorang ibu menjenguk anak dan menantunya yang sedang sakit? Apa kata orang jika mendengar tindakan lancangmu ini?" Eliana menambahkan kata-kata yang membuat Ernest harus bepikir keras untuk menjawab pertanyaan Eliana.
Kali ini kata-kata Eliana sukses membuat Ernest terlihat sedikit tidak tenang, berharap dengan cepat dia bisa mengusir Eliana dari depan pintu kamar Alvero, yang jika berjalan sesuai dengan rencana, paling cepat baru akan datang kembali ke istana besok malam.
"Ah..." Eliana yang sedang menoleh ke arah kanan langsung tersenyum melihat nyonya Rose yang datang bersama Alea dengan meja makan dorongnya dan keranjang pakaian kosong yang akan dipergunakan untuk mengganti keranjang pakaian di dalam kamar Alvero dan Deanda.
Setiap pagi selama beberapa waktu ini, baik nyonya Rose dan Alea selalu melakukan itu. Membawa meja makan dorong dan keranjang pakaian masuk ke dalam kamar Alvero.
Di dalam sana, nyonya Rose akan membungkus makanan itu yang nantinya akan diberikan kepada orang lain, sedang Alea, akan berpura-pura mengganti keranjang pakaian dan mengisi keranjang pakaian yang lama dengan beberapa pakaian bersih dari lemari yang ada di walk in closet.
__ADS_1
Alea sengaja meremas-remas pakaian itu supaya terlihat kusut, agar yang lain berpikir itu adalah pakaian-pakaian kotor bekas dikenakan oleh Alvero dan Deanda.
"Sudah lama sebagai seorang ibu, aku tidak menyuguhkan makanan kepada yang mulia Alvero dengan tanganku sendiri. Kalau begitu Tuan Ernest... bisakah kamu membukakan pintu kamar yang mulia dan segera menyingkir agar aku bisa memberikan sarapan ini untuk yang mulia Alvero. Aku sendiri yang akan menyiapkannya untuk yang mulia Alvero dan permaisuri." Eliana berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke arah nyonya Rose dan Alea.
Dan tanpa meminta ijin kepada mereka berdua, Eliana langsung meraih meja makanan dorong dari tangan nyonya Rose yang langsung menatap ke arah Ernest dengan tatapan terlihat sedikit bingung, karena apa yang sudah dilakukan oleh Eliana barusan.
"Maaf ibu suri, saya akan masuk terlebih dahulu dan menanyakan kesediaan yang mulia Alvero untuk menemui ibu suri." Akhirnya hanya itu yang bisa dilakukan oleh Ernest untuk saat ini.
Saat ini Ernest sungguh berharap dia bisa masuk ke dalam kamar Alvero dan menyalakan rekaman suara Alvero agar seolah-olah nanti mereka sedang berbicara di dalam sana. Setelah itu Ernest berencana untuk mengatakan kepada Eliana bahwa Alvero masih belum ingin ditemui karena tidak ingin istirahat Deanda terganggu.
Begitu mendengar perkataan Eliana, dengan cepat Ernest segera berpura-pua mengetuk pintu kamar Alvero sekaligus menyalakan bel yang ada di bagian kanan pintu, di bagian atas. Dalam hati Ernest berdoa agar rencananya menyalakan rekaman suara bel balasan dari dalam kamar berjalan lancar, sehingga Eliana tidak bertambah curiga.
Ernest baru saja berniat dengan sembunyi-sembunyi menyalakan rekaman balasan bunyi bel dari arah dalam kamar. Namun sebelum Ernest berhasil menyalakan rekaman suara bel, terdengar suara balasan bel yang ditekan dari dalam kamar Alvero, juga suara Alvero yang mempersilahkannya masuk.
__ADS_1
Dengan hati-hati dan sikap ragu, sambil mengeryitkan dahinya karena merasa heran dengan apa yang baru saja didengarnya, Ernest membuka akses pintu kamar Alvero dengan menggunakan sidik jarinya. Setelah itu dengan perlahan, Ernest membuka pintu kamar Alvero dan dengan sedikit ragu mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar Alvero.
Saat ini Ernest sungguh berharap bahwa apa yang baru saja didengarnya bukanlah sekedar ilusinya saja. Dia berharap bahwa yang baru saja didengarnya benar-benar suara dari Alvero, dan juga suara bel balasan dari arah dalam kamar barusan memang dilakukan oleh Alvero sendiri.
"Kamu terlalu lama Tuan Ernest. Biarkan aku langsung menemui yang mulia dan melihat kondisi...." Eliana menghentikan langkahnya begitu melihat Alvero yang masih mengenakan night robenya dengan kondisi terlihat sedikit berantakan dan berdiri di samping tempat tidur.
Sedang Deanda dengan rambutnya yang juga terlihat berantakan, wajah terlihat lelah dengan tatapan matanya yang terlihat sayu, masih terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh seluruhnya tertutup oleh selimut tebal sampai sebatas leher dan tampak tersentak kaget dengan mata melotot, sekaligus tidak nyaman melihat bagaimana Eliana menerobos masuk ke dalam kamar mereka pagi ini, sedang kondisinya sedang dalam kondisi seperti itu. Dengan erat Deanda memegang selimut yang menutupi tubuhnya, untuk memastikan bahwa Eliana tidak melihat tubuh polosnya.
Ernest yang melihat apa yang ada di depannya langsung membalikkan tubuhnya untuk menjaga sopan santunnya, walaupun tanpa sepengetahuan yang lain Ernest menyungingkan senyum lega melihat bagaimana di detik-detik segenting itu, ternyata Alvero dan Deanda tiba-tiba sudah ada di kamar mereka. Benar-benar sudah kembali dari kota Renhill.
Jika saja tadi Alvero dan Deanda tidak ditemukan di dalam kamar saat Eliana menerobos masuk ke dalam kamar, Ernest tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Keributan apa yang akan dibuat oleh Eliana. Atau tindakan ekstrim apa yang akan membuat istana gempar jika Eliana mengetahui bahwa Alvero dan Deanda meninggalkan istana secara diam-diam. Yang pasti, jika itu terjadi, Eliana pasti akan lebih bersikap waspada dan bisa jadi mulai menggerakkan orang-orangnya lebih cepat dari perkiraan.
Eliana terlihat begitu malu dan salah tingkah begitu melihat bagaimana kondisi Alvero dan Deanda yang sepertinya baru saja melakukan sesuatu yang memang seharusnya tidak diganggunya pagi ini.
__ADS_1
"Ah, tumben sekali ibu suri pagi-pagi sekali mengunjungi kami. Aku merasa senang tiba-tiba mendapatkan kunjungan dari ibu suri sepagi ini. Tapi sepertinya kami belum siap menerima kunjungan ibu suri yang membuat kegiatan penting kami benar-benar terganggu pagi ini." Alvero berkata sambil berpura-pura membenarkan tali night robe di pinggangnya dan berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya, dimana terlihat Eliana yang diam terpaku, tidak mampu mengeluarkan kata-katanya lagi, karena tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu, yang justru mempermalukan dirinya sendiri.