BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SYARAT DARI RED


__ADS_3

"Tentu saja hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena sebelum yang mulia permaisuri Larena meninggal, kak Alexis sempat menunjukkan bukti kepada yang mulia Vincent, bahwa Amos Edarian sempat menemui permaisuri Larena. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebelum menikah dengan yang mulia Vincent, baron Amos Edarian begitu tergila-gila dengan permaisuri Larena. Bahkan sempat menjadi penguntit yang mengikuti kemanapun permaisuri Larena pergi." Marcello segera menjawab pertanyaan dari Alvero.


"Belum lagi, setelah permaisuri Larena menikah dengan yang mulia Vincent, baron Amos selalu mencari kesempatan untuk dapat mendekati permaisuri Larena. Sepertinya malam sebelum kebakaran itu, baron Amos menawarkan agar Larena mau ikut dengannya malam itu. Tapi dengan tegas permaisuri menolak tawaran dari baron Amos malam itu. Permaisuri memilih untuk tetap berada di tempat kediamannya. Membuat pada akhirnya saat terjadinya kebakaran, permaisuri menjadi korban.” Marcello kembali melanjutkan perkataannya.


Mendengar penjelasan tentang Amos Edarian yang tergila-gila kepada ibunya, membuat Alvero tercekat karena tidak menyangka ada cerita seperti itu di masa lalu.


Satu lagi keturunan Edarian yang pikirannya benar-benar kacau dan tindakannya sungguh di luar akal sehat. Keturunan Edarian sepertinya benar-benar dilahirkan dengan sifat licik dan kurangajar mereka. Selalu menginginkan apa yang sudah menjadi milik orang lain. Dan bertingkah seeenak perutnya sendiri. Belum lagi sifat jahat yang sepertinya sudah mandarah daging di keluarga Edarian.


Alvero berkata dalam hati sambil mengeluarkan suara desisan dari bibirnya, menunjukkan bahwa dia begitu emosi mendengar cerita tentang perilaku keturunan Edarian yang lain hari ini. Sebuah cerita masa lalu yang membuat Alvero semakin tidak menyukai keturunan dari keluarga Edarian.


Cerita tentang Amos Edarian yang baru saja diceritakan oleh Marcello memang menyebutkan bahwa laki-laki itu terlibat dalam peristiwa kebakaran itu, hanya sebuah kecurigaan. Namun tentang bagaimana laki-laki itu berusaha untuk selalu mendekati Larena membuktikan bahwa laki-laki itu merupakan laki-laki yang tidak tahu malu, yang mungkin melakukan apa saja agar tujuannya tercapai.


“Memang tidak ada bukti bahwa baron Amos terlibat dengan kejadian kebakaran malam itu. Namun, ada bukti foto yang menunjukkan bahwa baron Amos sempat bersitegang dengan permaisuri Larena sebelum terjadinya kebakaran. Bahkan baron Amos sempat menarik tangan permaisuri, bermaksud memaksa permaisuri untuk ikut dengannya. Tapi untung saja, Kak Tiana segera membantu permaisuri Larena melepaskan diri dari baron Amos.” Marcello meneruskan kata-katanya dengan pandangan mata menerawang jauh ke depan, seolah-olah peristiwa yang baru saja diceritakannya itu masih baru terjadi kemarin, menyisakan rasa sesak di dadanya setiap mengingat kejadian saat itu.

__ADS_1


Kalau dilihat dari cerita uncle Marcello, ada dua kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Baron Amos tidak terlibat dalam peristiwa kebakaran itu, karena di hari yang sama dia sempat memaksa mama untuk pergi meninggalkan tempat itu, seolah-olah dia tahu akan terjadi tragedi peristiwa kebakaran itu. Yang kedua, karena penolakan dari mama, dia menjadi pelaku pembakaran itu karena gelap mata. Aku harus secepatnya mengungkap teka-teki yang penuh misteri ini dan menangkap pelaku yang sebenarnya.


Alvero kembali berkata dalam hati sambil memikirkan langkah-langkah selanjutnya yang akan dia lakukan untuk mengungkap misteri peristiwa kebakaran di kediaman Larena malam itu.


Tampak guratan kesedihan, penyesalan, dan juga kerinduan saat Marcello menceritakan tentang Alexis, Larena, dan juga Tiana. Sampai saat ini Marcello masih berharap bahwa saat kejadian itu dia yang saat itu sedang berada di luar kota, seharusnya membatalkan kepergiannya hari itu.


Sampai detik ini Marcello masih membayangkan bagaimana seandainya dia ada di tempat kejadian dan bisa menyelamatkan Larena dan Tiana. Dan jika saja saat itu Tiana dan Larena selamat, mungkin Alexis juga tetap akan ada sampai saat ini.


Kehilangan sosok Alexis sebagai kakak, Tiana sebagai kakak ipar yang selalu mendukung dan menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri, juga Larena sebagai permaisuri yang sebelumnya dilayaninya saat dia masih berada di tim pengawal eksklusif kerajaan di waktu yang sama, sungguh merupakan pukulan berat bagi Marcello.


“Jangan menyalahkan diri sendiri Uncle. Yang sudah digariskan tidak mungkin kita ubah, hanya saja aku tetap mengutuk orang yang sudah begitu tega mencelakai mamaku dan mama Deanda. Saat aku berhasil menemukannya, aku sendiri yang akan memberikan hukuman padanya.” Alvero berkata sambil mengatupkan gerahamnya dengan keras.


Jika saja dia sudah menemukan bukti siapa pelaku pembakaran itu, rasanya ingin sekali Alvero menghajar orang itu dan memberikan hukuman seberat-beratnya. Membayar semua perbuatan kejinya, yang membuat dia dan istrinya kehilangan ibu yang mereka sayangi dengan cara yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


"Ah, sebaiknya kita kembali ke topik pembicaraan kita Tuan Red. Apakah Anda berdua bisa mengabulkan permintaanku? Untuk melatih pasukan khusus di kota Renhill?" Mendengar pertanyaan dari Alvero, baik Red maupun Marcello sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Kalau Tuan Alvi mempercayai saya, dan jika kejatuhan Eliana bisa mengembalikan nama baik dan kehormatan kak Alexis, dengan senang hati saya akan melakukannya." Pada akhirnya Marcello menjawab dengan tegas permintaan Alvero terlebih dahulu dibandingkan dengan Red yang masih terlihat termangu, seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting yang sedang dipikirkannya.


"Selain papa Alexis, dua orang yang dikenal kehebatannya dalam melatih pasukan adalah Tuan Red dan Uncle Marcello, karena itu aku sungguh berharap kalian berdua bersedia bergabung bersamaku untuk melawan Eliana." Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda, dimana Red sedang manatap ke arahnya.


"Maafkan jika saya dianggap lancang Tuan Alvi. Akan tetapi, bolehkan saya mengajukan satu syarat untuk menjadi pelatih dalam tim pasukan khusus itu?" Mendengar pertanyaan Red, Alvero langsung mengernyitkan dahinya sebentar.


Tapi dengan cepat Alvero langsung tersenyum ke arah Red. Mencoba memberi kesempatan bagi Red untuk mengatakan syarat yang dia inginkan.


"Katakan padaku Tuan Red, apa yang Anda inginkan agar Anda bersedia melatih tim pasukan khusus di kota Renhill?" Dengan sikap tenang Alvero langsung menanyakan apa yang diinginkan oleh Red darinya.


"Tidak banyak Tuan Alvi. Hanya satu syarat. Ijinkan saya dan Marcello memiliki kuasa penuh dalam melatih ke 200 orang itu, tanpa ikut campur dari pihak kerajaan. Siapapun tidak boleh mempertanyakan, apalagi mengatur bagaimana dan cara apa yang akan kami gunakan untuk melatih pasukan khusus itu. Selain kami berdua, mungkin sesekali kami akan mengajak pelatih yang dalam hal tertentu lebih handal daripada kami. Tuan Alvi dan Nona Besar hanya perlu melihat hasil akhirnya. Dan saya jamin, hasil pelatihan itu tidak akan mengecewakan jika Tuan Alvi bersedia mengabulkan permintaan saya itu." Red berkata dengan percaya diri.

__ADS_1


 


 


__ADS_2