
"Hah, Dion? Yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertarik dengan kegiatan beladiri? Sekarang mencoba untuk menjadi ahli di bidang itu? Benar-beanr sebuah candaan yang lucu. Apa dia pikir bisa mengalahkan orang yang sudah berlatih beladiri selama belasan tahun dengan serius? Ah, abaikan saja. Aku tau dia begitu terobsesi dengan istriku. Dia pikir dengan memiliki keahlian beladiri dia bisa merebut istriku dengan mudah dariku. Coba saja kalau dia berani! Yang ada juga permaisuri akan mematahkan kaki dan lengannya kalau dia berani macam-macam." Alvero berkata dengan nada sinis, karena dia tahu sama halnya dengan Desya yang terobsesi dengannya, Alvero sadar bahwa Dion begitu terobsesi dengan sosok Deanda.
Para keturunan Edarian benar-benar dipenuhi dengan orang-orang aneh dengan obsesi tidak terkendali yang mereka miliki. Pantas saja papa Alexis begitu membenci keturunan Edarian. Benar-benar keturunan ular.
Alvero berkata dalam hati sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. Walaupun dibandingkan Evan yang sejak awal memiliki hubungan baik dengan Deanda, Dion akan menjadi laki-laki terakhir yang mungkin bisa mendapatkan hati Deanda… Namun tetap saja memikirkan ada laki-laki yang begitu terobesesi pada Deanda membuat hati Alvero merasa tidak tenang.
"Tapi tetap terus amati pergerakan Dion. Walaupun aku tahu dia tidak akan bisa mendapatkan perhatian dari permaisuri, yang sedari awal pertemuan mereka sudah tidak bersimpati sama sekali dengan Dion, tetapi aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan kesempatan sedikitpun. Aku tidak ingin melihat dia berada di dekat permaisuri, apalagi sampai memberinya kesempatan memandangi permaisuriku dengan tatapan matanya yang menjijikkan." Alvero berkata sambil mengeluarkan suara desisan di bibirnya, menunjukkan bahwa dia begitu tidak suka dan merasa tidak rela, jika Dion berada di sekitar Deanda walaupun hanya sekedar memandanginya dari jauh.
Hanya dengan membayangkan bagaimana cara Dion selama ini memandang sosok Deanda sudah cukup membuat dada Alvero terbakar emosi sekaligus cemburu. Suatu hal yang sampai saat ini masih belum bisa dikendalikan dengan baik oleh Alvero. Rasa cemburu yang berlebihan karena pria lain yang mengagumi sosok istrinya.
Bukan hanya berlaku untuk Dion, tapi untuk semua pria, apalagi Evan Carsten. Laki-laki yang sejak awal bagi Alvero adalah pesaing terberat untuk mendapatkan hati Deanda.
__ADS_1
"Saya juga mendengar bahwa hari ini ibu suri berniat berangkat ke Renhill untuk menemui yang mulia Vincent. Saya curiga kepergian ibu suri kali ini berkaitan erat dengan paket yang diberikan oleh putri Desya kepada ibu suri. Karena sebelumnya saya sempat mendengar bahwa sebenarnya ibu suri berniat berangkat ke Renhill baru 2 hari lagi. Tapi sejak kedatangan putri Desya, tiba-tiba ibu suri mempercepat rencana keberangkatannya ke Renhill, dengan alasan beliau mengkhawatirkan kondisi kesehatan yang mulia Vincent." Nyonya Rose langsung menambahkan perkataan dari Alea, yang membuat Alvero mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti sambil memanyunkan bibirnya dengan sikap meremehkan.
Hah! Mengkhawatirkan yang mulia Vincent? Yang benar saja? Justru mungkin dia begitu berharap papa segera menghilang dari dunia ini. Dasar wanita yang licik seperti ular! Aku berani bertaruh bahwa paket itu adalah obat yang sengaja disiapkan oleh Eliana untuk kembali meracuni papa. Karena dari info yang ada, sejak papa masuk rs di Renhill, Eliana belum bertemu lagi dengan dokter yang memberinya obat dan memberikannya kepada papa. Aku harus segera memikirkan cara agar untuk sementara waktu Eliana tidak bisa mendekati papa. Aku akan segera menghubungi dokter Ornado untuk melakukan koordinasi dengannya.
Alvero berkata dalam hati sambil mengernyitkan dahinya, mencoba memikirkan jalan keluar terbaik untuk masalah Eliana, yang tindakannya semakin lama semakin mencurigakan.
"Selamat pagi semuanya." Mereka berempat yang sedang melakukan pembicaraan serius langsung menoleh secara bersamaan ke arah Deanda yang berjalan dengan wajah terlihat begitu segar setelah mandi.
Pakaian Deanda yang bertipe wrap dress, dengan model lengan tiga per empat, berwarna biru langit, dan bermotif bunga-bunga berwarna cerah, membuat tampilan Deanda terlihat bertambah cantik dan menarik. Deanda sengaja memilih pakaian dengan tipe wrap dress dengan lengan panjang tiga per empat dan bagian lehernya yang membentuk hurup V tidak terlalu rendah, sehingga bisa menyembunyikan tanda stempel kepemilikan Alvero yang bertebaran di tubuhnya.
Rambut hitam legam milik Deanda yang bergelombang tampak tergerai. Sebagian terurai di depan dadanya, sebagian tergerai menutupi punggungnya, membuat permasuri milik Alvero itu tampil semakin mengagumkan.
__ADS_1
"Selamat pagi Permaisuri." Baik Ernest, Alea, dan nyonya Rose langsung bangkit berdiri dan memberikan salam hormat kepada Deanda yang baru saja datang, dan membuat aroma harum tubuhnya yang baru mandi menyapa hidung Alvero yang selalu merasa nyaman saat bau hidungnya mencium harum dari Deanda.
Entah bau harum itu berasal dari sabun mandi, shampoo, parfum yang biasa digunakan oleh Deanda, ataupun bau alami dari tubuh Deanda, selalu berhasil membuat Alvero merasa begitu tenang dan ingin selalu berada di dekat wanitanya itu.
Dengan gerakan cepat, Alvero yang melihat sosok Deanda langsung meraih tangannya, membawanya agar mendekat ke arahnya, dan duduk di sampingnya, agar dia bisa menikmati bagaimana nyamannya berada di dekat wanita miliknya itu. Satu-satunya wanita yang sanggup membuat hatinya jungkir balik karena begitu besarnya pengaruh yang dibawa Deanda pada dirinya.
"Permaisuri sudah selesai membersihkan diri. Sebaiknya kita hentikan sebentar pembicaraan kita karena aku dan permaisuri akan menikmati sarapan pagi terlebih dahulu. Kalian tahu, pagi ini belum secuil makananpun masuk ke mulut kami." Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang langsung tersenyum ke arah Alvero, tanda setuju, karena dia juga sudah mulai merasa lapar setelah perjalanan dari Renhill kembali ke Tavisha.
Belum lagi karena rekaman cctv yang mereka lihat dalam perjalan tadi cukup membuat tenaga dan pikiran mereka terkuras karena mereka harus berlomba dengan waktu agar mereka bisa tiba tepat pada waktunya di kamar mereka saat Eliana menerobos masuk tadi. Belum lagi mereka harus berpikir dengan cepat untuk tentang apa yang harus mereka lakukan agar dapat mengecoh Eliana.
Mendengar perkataan Alvero, baik nyonya Rose maupun Alea langsung dengan sigap mendekati meja makanan dorong, dan mendekatkan meja itu ke arah meja yang ada di hadapan Alvero dan Deanda. Selanjutnya mereka segera memindahkan makanan yang mereka bawa itu ke atas meja dan menyiapkan semua peralatan makan untuk Alvero dan Deanda, agar Alvero dan Deanda bisa memulai sarapan pagi mereka dengan segera.
__ADS_1