
"Bagaimana denganmu Marcello? Tidakkah kamu juga ingin secepatnya ke sana?" Alvero baru saja ingin menanyakan kesiapan dari Marcello, tapi ternyata Red sudah lebih dahulu menanyakan hal itu kepada Marcello.
"Ah, aku harus menyiapkan beberapa hal di tempat pelatihan sebelum aku meninggalkan tempat itu. Kasihan jika tidak ada yang mengatur para murid di sana."
"Ayolah... serahkan saja kepada Lionel. Anak muda itu terlihat cukup berbakat. Dia pasti bisa menjaga sanggar beladirimu dengan baik dengan kemampuan yang dimilikinya. Bukankah kemampuan beladirinyanya hampir sama dengan nona besar?" Mendengar perkataan Red, mau tidak mau Marcello menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan itu.
Sedang Alvero langsung melirik ke arah Deanda yagn tersenyum kecil. Nama Lionel kembali mengingatkan kepada Alvero bagaimana dulunya dia pernah melihat Deanda yang berada di boncengan sepeda motor Lionel sambil memeluk pinggang laki-laki itu agar tidak terjatuh dari sepeda motor Lionel yang selalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Haist.... ingatan buruk tentang kejadian itu tetap saja membuatku merasa tidak nyaman saat seseorang menyebutkan nama laki-laki itu. Untungnya sejak menikah belum pernah sekalipun Deanda menyebutkan nama laki-laki itu di depanku. Lionel, duke evan, Dion, earl Jerich, Marco, dan entah berapa nama pria lagi yang bisa disebutkan dalam daftar nama pria yang terpesona oleh Deanda. Benar-benar membuatku sakit kepala memikirkannya. Untung saja para lelaki itu sekarang tidak bisa dengan mudah mendekati istriku yang selalu berada di sisiku.
Alvero mengomel dalam hati sambil berdehem kecil untuk mengusir pikirannya yang sedikit kacau karena memikirkan nama para lelaki yang pernah dia tahu menyukai wanitanya.
Namun sebentar kemudian sebuah senyum kemenangan tersunggging di bibir Alvero begitu dia sadar bahwa Deanda Federer saat ini sudah menjadi miliknya secara utuh, baik jiwa dan raganya, juga hati dan cintanya.
“Aku akan coba pikirkan tentang itu. Sejak Deanda tidak lagi berlatih di sanggar beladiriku, sepertinya Lionel juga semakin jarang ke sana. Dia memilih untuk berlatih di tempat tinggalnya sendiri.” Kata-kata Marcello membuat Deanda langsung mengenyitkan dahi, karena kata-kata Marcello barusan seolah-olah menyatakan bahwa Lionel begitu menyukai Deanda, sehingga saat Deanda tidak lagi berlatih di sanggar beladiri itu, Lionel ikut berhenti mengunjungi tempat itu.
__ADS_1
“Benarkah begitu Uncle? Sayang sekali, padahal kak Lionel setahuku sungguh menyukai sanggar beladiri kita.” Sebuah lirikan tajam dari Alvero langsung terarah kepada Deanda.
Hah! Kenapa dengan mereka ini? Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan Lionel? Disaat aku masih begitu mengingat dengan jelas bagaimana dia yang sepertinya sengaja melajukan sepeda motornya dengan kencang agar mendapatkan pelukan dari Deanda...
Alvero berkata dalam hati dengan wajah masam, membuat Marcello yang tanpa sengaja melihat bagaimana perubahan wajah Alvero karena pembicaraan tentang Lionel dan Deanda, berusaha mengalihkan pembicaraan sambil tertawa dalam hati melihat bagaimana posesifnya Alvero terhadap Deanda.
“Tapi, sebenarnya mungkin bukan karena ketidakhadiranmu di sana. Terus terang, sepertinya Lionel sedikit terganggu dengan kehadiran kakakmu Olivia. Sejak kamu bertunangan dengan Tuan Alvi, Olivia setiap sorenya mampir ke tempat Latihan. Awalnya hanya sekedar melihat-lihat, berjalan ke sana kemari. Karena dianggap mengganggu, membuat beberapa murid menegurnya. Namun, dua hari kemudian dia kembali dan mendaftar sebagai murid baru, dan terus menerus mendekati Lionel.” Mendengar cerita itu, Ernest hampir saja tidak bisa menahan tawanya.
Membayangkan sosok Olivia yang selama ini diketahui Ernest selalu bersikap genit terutama kepada para pria tampan dan kaya, juga suka berdandan secara berlebihan, Ernest maklum sekali jika pada akhirnya Lionel memilih untuk pergi menghilang daripada merasa tidak nyaman. Hal yang sama yang pasti akan dilakukan oleh Ernest jika saja dia berada pada posisi Lionel.
“Olivia selalu membuat masalah dengan bersikeras agar Lionel yang melatihnya. Padahal kamu tahu sendiri, dengan kemampuan Lionel, uncle sengaja menempatkannya sebagai pelatih untuk para murid senior di sana yang memang kemampuan beladirinya sudah cukup tinggi.” Mercello menambahkan kata-katanya dengan senyum geli di wajahnya sambil memandang ke arah Deanda yang ikut tersenyum geli begitu mendengar cerita dari pamannya.
“Tenang saja Uncle, aku akan mencoba berbicara dengan kak Lionel…” Tanpa sadar bahwa sepasang mata hazel milik suaminya langsung terbeliak kaget saat mendengar perkataan Deanda, Deanda justru dengan santai menjanjikan hal itu kepada Marcello.
“Eh, tidak perlu Deanda, biar uncle sendiri yang berbicara secara pribadi kepada Lionel. Lagipula sanggar beladiri itu adalah tanggung jawab uncle. Sudah seharusnya uncle sendiri yang mengurusnya dengan baik.” Marcello buru-buru mencegah niat Deanda begitu melihat gelagat tidak mengenakkan dari Alvero.
__ADS_1
“Tapi Uncle, bagaimana kalau kak Lionel menolak dan….”
“Tenang saja Deanda. Uncle akan mengurusnya, jika Lionel menolak, uncle harus memikirkan pelatih yang lain untuk sementara waktu. Kamu tidak perlu ikut memikirkan itu Deanda. Konsentrasi saja dengan tugas dan tanggung jawabmu sebagai permaisuri Gracetian, dan membantu Tuan Alvi dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai raja Gracetian.” Marcello langsung memotong perkataan dari Deanda yang akhirnya memilih untuk diam.
Ah, ingin sekali rasanya membantah perkataan uncle, tapi yang dikatakannya oleh uncle Marcello benar sekali. Untuk saat ini, aku harus bekonsentrasi membantu yang mulia dalam mencari kebenaran dan mengatur kerajaan sekaligus perusahaan.
Deanda berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang. Toh, setelah Deanda menikah dengan Alvero memang dia langsung dihadapkan dengan berbagai macam masalah yang cukup menguras tenaga dan pikirannya.
“Beri saya waktu untuk memikirkan siapa yang bisa menggantikan saya saaat saya meninggalkan sanggar beladiri Tuan Alvi. Saya berjanji akan segera mendapatkan solusi.” Marcello berkata sambil memandang ke arah Red yang tampak mengernytikan dahinya, ikut mencoba membantu Marcello memikirkan jalan keluarnya.
“Eh, lebih baik kalau kita bisa berangkat ke Renhill bersama Marcello.” Red berkata pendek sambil menggggerakkan bibirnya ke samping dan mengigigit bagian dalam bibir bawahnya.
“Hah! Baiklah.., baiklah…. Kalau begitu seperti kamu meminta waktu kepada Tuan Alvi satu dua hari ini. Biar aku juga secepatnya mengatur semuanya. Aku akan ikut bersamamu ke Renhill kapanpun kamu siap.” Akhirnya Marcello menyatakan kesiapannya lebih awal dari yang semula dia sempat pikirkan
Perkataan Marcello membuat sebuah senyum lebar terlihat di wajah Red yang merasa begitu tidak sabar untuk segera memulai tugas barunya di Renhill bersama Marcello.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu kita sudah sepakat. Dalam waktu dekat Tuan Red dan Uncle Marccello akan segera berangkat ke Renhill. Hari ini juga aku akan mengaturkan segala keperluan Anda berdua selama di sana.” Baik Red maupun Marcelllo langsung mengangguk mendengar perkataan Alvero.
“Ernest, beritahukan kepada Erich untuk segera melakukan koordinasi dengan duke Evan dan pangeran Enzo tentang apa yang sudah aku janjikan kepada tuan Red dan uncle Marcello selama berada di Renhill. Pastikan semuanya berjalan dengan baik tanpa diketahui oleh pihak Eliana.” Alvero segera memberikan perintah kepada Ernest yang langsung mengangguk kepalanya dengan sikap sigap.