
"Hah...." Paman Alaya menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan kata-katanya, untuk menjawab pertanyaan dari Alaya.
"Bagaimanapun, mamamu adalah seorang ibu dari anak-anaknya. Seorang wanita pasti tidak akan mudah melupakan anak yang pernah keluar dari rahimnya, setelah dia membawa bayi itu dalam perutnya selama hampir 10 bulan. Setelah sekian lama meninggalkan kakakmu sendirian di tempat ini. Suatu ketika, sebagai seorang ibu, dia pasti akan begitu merindukan anaknya dan akan mencari kesempatan untuk bertemu dengannya." Laki-laki berkata sambil membuka layar handphonenya, mencari chat antara dia dan mama Alaya, lalu menunjukkannya kepada Alaya, yang terlihat begitu antusias dan langsung melihat ke arah layar handphone itu.
"Aku sengaja mengirimkan foto-foto kakakmu kepadanya, termasuk foto pernikahannya waktu itu. Sebagai seorang ibu, lambat laun pasti dia juga tidak akan tahan dan ingin bertemu dengan kakakmu secara langsung, bukan hanya sekedar lewat foto atau berita." Alaya yang mendengarkan perkataan pamannya langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari pamannya.
Laki-laki itu menghela nafasnya, membiarkan Alaya melihat-lihat puluhan bahkan mungkin ratusan foto yang sudah dikirimkannya kepada mama Alaya.
Ingatan laki-laki itu kembali kepada beberapa bulan lalu, ketika untuk pertama kalinya dia kembali mengunjungi Goldie Tavisha dan menemui Red, yang saat itu hanya bisa diam mematung seolah melihat hantu saat bertemu dengannya untuk pertama kalinya di kedai Black Rose.
__ADS_1
Namun, di satu sisi, begitu Red yakin dan percaya bahwa dia tidak sedang salah melihat, apalagi bermimpi, dengan begitu erat dipeluknya tubuh laki-laki itu tanpa bisa menahan airmata bahagianya bisa bertemu kembali dengan laki-laki yang begitu dikaguminya itu.
Karena Red juga, akhirnya laki-laki itu mendapatkan kesempatan untuk menghadiri pesta penikahan putri cantiknya dengan diam-diam tanpa diketahui oleh orang lain, termasuk putrinya sendiri.
Bahkan atas inisiatif dan permintaan Red kepada Alvero, membuat paman Alaya itu mendapatkan kesempatan bisa melatih pasukan khusus yang memang dipersiapkan secara khusus oleh Alvero untuk menghadapi teror dari kelompok pemberontak milik Eliana.
Ah, gadis kecilku tersayang... sekarang kamu sudah menjadi wanita dewasa yang begitu cantik, mengagumkan dan juga kuat. Mamamu pasti sangat bahagia jika bisa melihatmu bertumbuh dengan baik, walaupun kami bedua tidak bisa mendampingimu selama belasan tahun ini. Harus membiarkanmu berjuang seorang diri. Dari surga sana, mamamu pasti sedang memandangimu dengan bangga. Rasanya ingin sekali papa datang kepadamu dan memelukmu dengan erat. Aku sungguh merindukanmu, putri kecilku. Maaf sudah membiarkanmu menderita tanpa tahu keadaanmu, selama bertahun-tahun.
"Uncle, begitu mama datang ke Gracetian, apa rencana Uncle selanjutnya? Apa Uncle berencana untuk segera mempertemukan mama dengan papa dan juga... kakakku?" Laki-laki itu langsung menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang mendengar pertanyaan dari Alaya.
__ADS_1
"Kenapa Uncle? Apa Uncle juga tidak ingin segera menemui putri kesayangan Uncle? Setelah belasan tahun berpisah darinya? Bukannya Uncle harus menjelaskan semua kepadanya dan bahkan meminta maaf sudah meninggalkannya tanpa penjelasan apapun saat itu? Aku berharap dia mau menerima penjelasan dan permintaan maaf Uncle." Alaya berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Jujur saja Uncle, sampai detik ini setiap kali aku bertemu dengannya, aku merasa begitu bersalah, sudah merebut kasih sayang Uncle darinya. Uncle begitu menyayangiku seperti papa kandungku sendiri. Sedangkan putri Uncle, aku mendengar cerita dari salah satu teman kantorku yang menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun, bahwa sebelum menikah dengan kakak, kehidupan putri Uncle sungguh tidak mudah. Dia harus berjuang sangat keras untuk menjaga rumah peninggalan Uncle dan menghidupi keluarganya." Alaya kembali melanjutkan kata-katanya sambil menatap ke arah laki-laki itu.
"Aku tahu itu Alaya.... Dan aku tahu hal itu baru-baru ini. Saat itu aku meninggalkannya karena percaya bahwa istri dan anak tiriku akan menjaganya dengan baik, apalagi ada adik kandungku yang juga begitu menyayanginya. Sebelum aku pergi, istriku terlihat begitu menyayangi putriku sehingga tidak terpikirkan olehku bahwa dengan semua yang sudah aku siapkan, termasuk masalah keuangan, ternyata istriku justru memperlakukan putriku dengan buruk setelah kepergianku.” Laki-laki itu berkata dengan dada yang terasa berdesir, ada perasaan bersalah yang begitu besar di dadanya mengingat bagaimana kondisi putrinya setelah dia pergi tidak sebaik yang dia pikirkan.
“Kamu tahu, aku juga begitu merindukan putriku itu. Tapi jika kita muncul sekarang dengan status kita, aku khawatir semuanya akan menjadi berantakan. Aku meninggalkan putriku dengan satu tujuan yang sekarang semakin dekat. Tidak ada yang lebih berharga dalam hidupku kecuali putriku. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku melihat bagaimana dia menikah dengan laki-laki yang terlihat begitu mencintainya, dan bisa hidup bahagia sekarang. Yang bahkan tidak pernah aku bayangkan bahwa jodoh putriku adalah laki-laki sehebat dia." Perkataan laki-laki itu membuat Alaya yang hampir menyendok makanan ke mulutnya menghentikan gerakan tangannya.
"Kalau begitu... apalagi yang ditunggu oleh Uncle? Aku yakin dia pasti akan sangat bahagia jika melihat keberadaan Uncle, setelah begitu lama harus berpisah." Begitu mendengar perkataan Alaya, laki-laki itu langsung mengepalkan tangan kanannya yang berada di atas meja.
__ADS_1
Ingatan akan seorang wanita kejam dan licik yang sudah membuatnya harus terpisah dari anak perempuannya, dan juga harus kehilangan istrinya membuat dadanya terasa begitu sesak dan sekaligus terasa begitu panas.