
“Kita akan kemana? Kenapa di sana kita bisa menemukan siapa pemilik liontin itu?” Deanda bertanya sambil mengikuti langkah-langkah Alvero.
“Kita akan ke ruang museum istana sebentar sebelum acara afternoon tea. Mungkin di sana kita bisa menemukan jawaban siapa pemilik liontin itu, dari foto yang ada. Di museum istana semua foto para anggota keluarga kerajaan sekarang maupun terdahulu, semuanya bisa kita temukan di sana. Aku berharap dari foto-foto itu kita bisa menemukan siapa sebenarnya orang dari keluarga kerajaan yang memiliki liontin yang mirip dengan yang dikenakan oleh Alaya itu.” Deanda sedikit tertegun mendengar perkataan Alvero, sehingga tanpa sadar menghentikan langkahnya.
“Eh, kenapa denganmu sweety? Apa ada yang tertinggal?” Alvero ikut memperlambat gerakan langkah kakinya begitu dirasakannya Deanda menghentikan langkah-langkahnya.
Ah, tentu saja, kenapa sebelumnya tidak terpikirkan olehku, mungkin di foto-foto para anggota keluarga kerajaan kami bisa mendapatkan info tentang liontin itu. Yang Mulia benar-benar cermat, sehingga bisa terpikirkan sampai ke arah sana.
Deanda berkata dalam hati sambil kembali melangkahkan kakinya, mengikuti langkah-langkah Alvero sambil menyungingkan senyum dan menatap dengan tatapan kagumnya ke arah suami tercintanya.
"Ist... jangan memandangku seperti itu sweety... Atau aku akan menahanmu untuk tetap berada di kamar agar kita bisa berduaan sampai besok pagi." Sebelum membuka pintu kamarnya untuk keluar dari kamar, Alvero langsung berbisik pelan ke telinga Deanda begitu melihat bagaimana cara Deanda menatapnya saat ini.
Perkataan Alvero yang diucapkan sambil mengerlingkan matanya membuat Deanda menjauhkan tubuhnya dari Alvero dengan meringis, sedang telinganya terasa panas dan memerah karena bisikan Alvero yang menggodanya barusan.
Ah, yang mulia selalu saja berpikiran mesum. Sepertinya bercinta sudah menjadi kebutuhan rutin bagi yang mulia sekarang ini. Bukannya aku tidak mau, tapi beberapa hari ini aku merasa pinggangku terasa tidak nyaman. Padahal untuk beberapa lama ini aku sudah tidak banyak melakukan latihan beladiri seperti permintaan yang mulia. Apa perlu aku memberitahu yang mulia kondisiku dan pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan?
__ADS_1
Deanda berkata dalam hati sambil sedikit menahan nafasnya.
Hah, kenapa aku sekarang jadi manja seperti ini? Sebelum menikah bahkan aku bisa menahan punggungku yang sakit karena tidur di sofa atau lantai sekalipun. Lebih baik aku membiarkannya, mungkin beberapa waktu ke depan akan menghilang dengan sendirinya.
Deanda kembali berkata dalam hati sambil satu tangannya mengelus bagian pinggangnya yang beberapa hari ini kadang tiba-tiba terasa pegal, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Untuk beberapa lama Deanda berkutat dengan pikirannya, sampai tanpa sadar, tiba-tiba mereka berdua sudah sampai di depan pintu museum istana, dimana foto-foto para pendahulu keluarga kerajaan Gracetian sampai dengan yang ada sekarang terpasang di sana. Di samping itu ada puluhan album foto yang tertata rapi di dalam rak buku, yang di susun berdasarkan tahun diambilnya foto, sekaligus disusun berdasarkan abjad dari nama-nama pemilik foto.
"Sweety..." Panggilan lembut dari Alvero membuat Deanda yang sedang melamun sedikit tersentak kaget.
"Hei, sedang melamunkan siapa?" Alvero yang melihat Deanda yang sedikit tersentak kaget langsung bertanya sambil mencubit hidung Deanda dengan gemas, disambut sebuah senyum geli dari Deanda.
Mendengar jawaban dan melihat apa yang dilakukan oleh Deanda, Alvero hanya mendengus kecil, dengan senyum tersungging di bibirnya. Setelah itu dengan langkah santai, Alvero mengikuti langkah-langkah Deanda dan sengaja berjalan di belakang sosok istrinya yang sedang melihat-lihat ke foto-foto yang dipasang di dinding museum, seolah sengaja bertindak sebagai seorang pengawal bagi wanitanya.
"Ah...." Bibir Deanda berbisik pelan begitu melihat di bagian tengah ruangan tampak beberapa standing frame yang berjajar rapi, beberapa diantaranya terdapat foto pertunangan dan pernikahannya dengan Alvero.
__ADS_1
(Standing frame merupakan bingkai foto / lukisan berdiri, yang dipakai untuk meletakkan foto / lukisan di tengah-tengah ruangan (tidak digantung di dinding). Bahan dari standing frame bisa berupa kayu ataupun logam yang biasanya dicat. Di bagian depan terdapat bagian untuk menahan agar pigura dari foto / lukisan tidak terjatuh. Foto atau lukisan yang diletakkan di standing frame biasanya diposisikan sedikit miring ke belakang).
Selain foto pertunangan dan pernikahannya, Deanda bisa melihat foto ketika Alvero ditahbiskan sebagai raja Gracetian di hari pernikahan mereka, menggantikan Vincent sebagai raja Gracetian sebelumnya.
(Penahbisan adalah rangkaian upacara dalam suatu masyarakat atau komunitas untuk meresmikan pengutusan bagi seseorang atau beberapa orang untuk menjalankan suatu tugas. Penahbisan juga bisa berarti sebuah cara penerimaan seorang ke dalam suatu struktur. Praktik penahbisan ini pada umumnya dilakukan untuk mengangkat seseorang menjadi pemimpin baik di masyarakat maupun dalam komunitas. Cara penahbisan yang dilakukan bergantung pada kepercayaan dari komunitas atau masyarakat tersebut. Terkadang dalam beberapa kebudayaan syarat tersebut didasarkan pada keturunan. Kandidat yang hendak ditahbiskan juga sangat bergantung pada kebudayaan dari masyarakat tersebut, apabila masyarakat tersebut menganut paham patriakal maka yang ditahbiskan dikhususkan untuk laki-laki tetapi ada juga yang tidak demikian).
Deanda ingat dengan pasti, terakhir dia mengunjungi museum ketika belajar tentang etika di istana dua minggu lalu, foto-foto itu belum terpasang di sana.
"Apa kamu suka dengan foto-foto kita itu sweety?" Tanpa diduga oleh Deanda, Alvero berbisik pelan sambil memeluk tubuhnya dari belakang, membuat tubuh Deanda lagi-lagi sedikit tersentak kaget.
"Sejak kapan foto-foto itu ada di sana? Terakhir kali aku berkunjung ke sini, foto-foto itu belum ada." Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero menghirup nafas dalam-dalam sambil menempelkan hidungnya di bahu Deanda sebelum menjawab pertanyaan Deanda, menikmati bau harum dari tubuh istrinya.
"Baru 2 hari yang lalu, menunggu pigura yang dipesan jadi." Jawaban dari Alvero membuat Deanda menatap kembali ke arah foto-fotonya dengan Alvero.
Desain pigura yang dipenuhi dengan ukir-ukiran yang terlihat begitu indah dan mewah membuat Deanda maklum, kenapa cukup lama foto-foto itu baru dipajang sejak mereka menikah. Padahal sudah dua bulanan mereka menikah.
__ADS_1
"Pigura itu, dibuat khusus oleh pengrajin kayu terbaik dari Asia. Dilapisi dengan emas murni 24 karat. Aku berharap kamu menyukai keindahan pigura yang sengaja aku pesan dari jauh itu. Aku berencana untuk memesan satu lagi pigura dengan ukuran yang jauh lebih besar agar bisa kita pasang di dinding kamar kita di penthouse. Aku akan memasangnya sejajar dengan pintu kamar kita, sehingga setiap kali kita memasuki kamar, kita dapat melihat keberadaan foto itu." Alvero berkata sambil mempererat pelukan tubuhnya ke tubuh Deanda sambil menciumi leher jenjang Deanda dengan hidung mancungnya.
Deanda hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Alvero, sambil sesekali tubuhnya tersentak karena ciuman Alvero di lehernya cukup membuat bulu kuduknya berdiri dan dadanya berdegup dengan kencang disertai dengan perasaan cuaca yang tiba-tiba baginya berubah menjadi panas.