BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SELAMAT TINGGAL ERNEST


__ADS_3

Dengan sekuat tenaga Ernest mendorong tubuh Rolland setelah sebelumnya memukul tangan Rolland yang memegang pistol sehingga pistolnya terjatuh di pinggiran jalan yang menurun itu.


Begitu Ernest berhasil menjauhkan tubuh Rolland darinya, Ernest bermaksud berdiri dan mengambil pistol milik Rolland, tapi kali ini gerakan Ernest kalah cepat.


Dengan nafas terengah-engah Rolland yang berhasil meraih pistolnya langsung mengarahkannya kepada Ernest yang langsung berjalan mundur, tapi terpaksa menghentikan langkahnya karena kakinya sudah berada di tepi jalan menurun itu.


Melihat posisi terjepit yang dialami oleh Ernest, Rolland tersenyum mengejek dengan wajah terlihat senang.


"Hah! Kamu memang cukup tangguh sebagai pengawal pribadi raja sialan itu!" Rolland berkata dengan nafas tersengal-sengal setelah berbaku hantam melawan Ernest, sambil berjalan mendekat ke arah Ernest yang hanya bisa diam di tempatnya karena posisinya yang terpojok, dengan kedua kaki yang posisinya tepat berad di pinggiran tanah yang menurun tajam itu.


Kalaupun hari ini aku akan mati, paling tidak aku akan membawa serta salah satu orang kesayangan Alvero, supaya raja sial itu tahu bagaimana rasa sakitnya kehilangan orang yang dekat dengannya.


Rolland berkata dalam hati sambil melotot tajam ke arah Ernest, karena sudah tidak melihat adanya harapan baginya untuk bisa menang melawan Alvero.


"Matilah kamu!" Rolland berteriak sambil menarik pelatuk pistolnya sehingga tepat mengenai dada Ernest, membuat tubuh Ernest kehilangan keseimbangan dan goyah, kemudian langsung ambruk ke belakang dan melayang sebelum jatuh bergulingan di tanah menurun itu dan menghilang dari pandangan mata.


"Ernest!" Teriakan keras dari Erich membuat Rolland dengan spontan menoleh, dan mengarahkan pistolnya ke arah Erich yang dengan cepat dan membabi buta langsung menembaki tubuh Rolland di bagian-bagian vital tubuhnya sambil terus berjalan mendekat ke arah Rolland dengan tatapan dipenuhi dengan kemarahan sekaligus kesedihan.


Sebuah ekspresi yang boleh dibilang tidak pernah ditunjukkan oleh seorang Erich, sejak Alvero mengenal Erich.


Tindakan Erich yang menembaki tubuh Rolland benar-benar merusak bagian vital tubuhnya, sehingga tidak lama kemudian tubuh Rolland ambruk ke tanah dengan bersimbah darah, tanpa sempat memberikan perlawanan kepada Erich.


Eliana, maaf... kali ini... sepertinya aku tidak bisa lagi melindungi dan menjemputmu kembali.... Jaga dirimu baik-baik.


Rolland berkata dalam hati sebelum akhirnya memuntahkan darah segar dari mulutnya, dan seluruh otot dalam tubuhnya melemah.

__ADS_1


Tangan Rolland yang awalnya memegang erat pistolnya tampak terkulai lemah di atas tanah, dan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan darinya.


"Ernest! Ernest! Jawab aku! Ernest!" Tanpa memperdulikan yang lain yang langsung berlari ke arah pinggiran tanah yang menurun itu, Erich terus berteriak dengan suara melengking memanggil nama Ernest.


Teriakan Erich semakin keras begitu dia tidak bisa melihat adanya sosok Ernest, walaupun dia sudah berusaha menajamkan matanya sambil menyalakan senter di tangannya, dan menggerakkan-gerakkan cahaya senternya kesana kemari.


"Ernest...." Dengan wajah frustasi, Erich menyebutkan nama Ernest dan berencana untuk menggerakkan kakinya, berencana menuruni tanah menurun tersebut untuk mencari sosok Ernest.


Dengan cepat tangan Alvero langsung mencekal dan menarik tangan Erich, lalu membawanya Erich menjauh dari pinggiran jalan menurun itu dengan paksa.


"Yang... Yang Mulia, saya harus...."


"Aku tahu, tapi tunggu bala bantuan! Di sini begitu gelap, tanpa tali pengaman, kamu berencana turun ke sana sendirian. Itu akan sangat berbahaya." Alvero langsung memotong perkataan Erich, dan menepuk bahu Erich untuk menenangkannya.


"Erich, percayalah, bukan hanya kamu yang mengkhawatirkan kondisi Ernest. Aku juga ingin secepatnya menemukan Ernest dan berharap dia selamat. Tapi aku tidak akan membiarkanmu bertindak ceroboh dan mempertaruhkan nyawamu sendiri. Setelah Ernest, aku tidak akan membiarkan kamu menghilang juga." Alvero berkata sambil menatap ke arah Erich yang wajahnya terlihat sangat kacau dengan tatapan mata kosong masih memandang ke arah tanah yang menurun, tempat terakhir Ernest terlihat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alvero, pada akhirnya Erich meanrik nafas dalam-dalam sambil menatap ke arah temapt menghilangnya sosok Ernest.


"Yang Mulia, ada baiknya Yang Mulia kembali ke bunker. Saya akan menemani tuan Erich untuk menunggu bantuan pasukan dan peralatan agar bisa segera melakukan pencarian Tuan Ernest." Perkataan Marcello membuat Alvero terdiam sesaat.


"Aku akan menunggu beberapa saat lagi." Alvero berkata lirih dengan amtanya menatap ke arah yang sama dengan Erich.


Bagi Alvero, Ernest dan Erich yang sudah dilatih untuk menjadi pengawal pribadinya sejak kecil memiliki hubungan yang cukup dekat, lebih dari hubungan antara majikan dan bawahannya.


Bukan hanya saja Erich, kejadian malam ini juga membuat Alvero begitu terpukul. Jika saja tidak ada orang lain di tempat ini, Alvero pun ingin berteriak dengan kencang memanggil nama Ernest, berharap Ernest segera datang padanya dengan wajah ramah dan penuh senyum seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah bantuan datang, walaupun Marcello meminta Alvero kembali ke bunker, Alvero untuk waktu yang tidak sebentar tetap berada di sana untuk menunggu hasil pencarian terhadap Ernest.


Setelah lebih dari satu jam pencarian mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan tubuh Ernest sedikitpun, hanya jejak berupa tetesan darah segar yang bisa mereka temukan.


Dan itupun menghilang di di tengah-tengah, tidak ada lagi jejak darah setelah mencapai 3 meter sebelum sungai, menunjukkan bahwa kemungkinan terbesar, tubuh Ernest jatuh dan terseret air sungai.


"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia kembali ke bunker sekarang, karena saya baru mendengar kabar dari tuan Red, bahwa Permaisuri Deanda menyusul Yang Mulia ke bunker. Dan sekarang ada di sana bersama putri Alaya." Mata Alvero langsung membulat sempurna karena melotot akibat begitu kaget mendengar info yang disampaikan oleh Marcello.


Tanpa menanggapi perkataan dari Marcello, Alvero langsung menggerakkan tubuhnya dan berlari ke arah bunker.


Sweety, apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu nekat datang ke tempat berbahaya ini? Aist... kamu memang keras kepala dan paling jago membuat orang merasa tidak tenang.


Alvero berkata dalam hati sambil mempercepat larinya dengan dada yang berdegup kencang karena mengkhawatirkan istrinya.


Begitu melihat Alvero pergi, dengan cepat Alvero memberi tanda kepada beberapa orang yang ada bersama mereka agar segera menyusul Alvero untuk mengawalnya.


# # # # # # #


Sial! Ternyata Alvero memang sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Kali ini perhitunganku benar-benar salah besar.


Eliana yang melihat dari balik pintu kamar mandi, bagaimana anak buahnya digelandang keluar dari bunker itu oleh pasukan Alvero merutuk dalam hati.


 


 

__ADS_1


__ADS_2